Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Senin, 15 November 2010 - KH. M. Wafi Maimoen, Lc, MSi
Setiap hamba jika mengetahui rahasia tabi'at kemanusiaan seseorang dan keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh hawa nafsunya, maka biasanya otomatis akan menimbulkan buruk sangka (Su'udzdzon) kepadanya, selama orang yang melihatnya tersebut tidak mampu menerapkan sifat Rohmah Ilahiyyah ( Kasih sayang yang bersifat ketuhanan). Padahal kalau saja ia ingat akan Rohmah Allah yang begitu luas...
Senin, 15 November 2010 - KH. M. Wafi Maimoen, Lc, MSi
Sekarang ini banyak orang-orang yang mengaku-ngaku Islam, tapi mereka tidak mendapatkan kemuliaannya. Jiwa mereka tidak terbebas dari ketundukkan terhadap makhluk. Yang demikian ini tidak lain karena Islamnya hanya ikut-ikutan saja. Golongan seperti ini tidak punya kecondongan terhadap Islam dalam hati dan pikirannya.
Rabu, 04 Agustus 2010 - KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi

( ?„???†???‚ ?°?ˆ ?³?¹?© ?…?† ?³?¹???‡ ) ?‡?… ?§?„?ˆ?§?µ?„?ˆ?† ?¥?„???‡ , ( ?ˆ?…?† ?‚?¯?± ?¹?„???‡ ?±?²?‚?‡

???„???†???‚ ?…?…?§ ?£???§?‡ ?§?„?„?‡ ) ?§?„?³?§?¦?±?ˆ?† ?¥?„???‡

Artinya : " (Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.QS.Ath Thalaq:7) merekalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah. ( Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya QS.Ath Thalaq:7) merekalah orang-orang yang masih menempuh perjalanan menuju kepadaNya.

Haliyah orang-orang yang wushul kepada Allah yang telah ma'rifat / kenal dengan Allah dengan tanpa membutuhkan suatu dalil dari makhluqnya, mereka itu seperti apa yang telah difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala :

.?„???????†?’?????‚?’ ?°???ˆ ?³???¹???©?? ?…?‘???† ?³???¹???????‡??



Artinya : " Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.(QS.Ath Thalaq:7)

Karena rasa syukur kepada Allah dan tahu akan anugerah yang diberikan olehnya kepada mereka, bentuk infaq yang diperintahkan disini bisa terealisasikan dalam bentuk syukur yang direflesikan dengan selalu menegakan haq-haq Allah, termasuk dari pentingnya haq-haq Allah adalah da'wah dan suatu �amal yang bisa menumbuhkan rasa mahabbah kepada Allah didalam hati, sungguh benar firman Allah :

?ˆ???…???†?’ ?§???­?’?³???†?? ?‚???ˆ?’?„?‹?§ ?…?‘???…?‘???†?’ ?¯???¹???¢?¥???„???‰ ?§?„?„?‡ ?ˆ???¹???…???„?? ?µ???§?„???­?‹?§ ?ˆ???‚???§?„?? ?¥???†?‘???†???‰ ?…???†?? ?§?„?’?…???³?’?„???…?????’?†??

Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(QS. Fushshilat : 33)

Adapun orang -orang yang masih berjalan menuju Allah mereka masih berusaha keras untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat pada dirinya. Kesibukan duniawi maupun kesenangan nafsu yang makan bakteri-bakteri kesenangan tersebut bisa menjauhkan mereka dari Allah dan bisa menjadikan mereka butuh menempuh perjalanan panjang dan menepis semua rintangan untuk berjalan menujuNya, dan juga kotoran-kotoran tersebut bisa membangkitkan mereka untuk mencari dalil-dalil kauniyyah (makhluq) yang menunjukan kepadaNya. Maka mereka ini sebagaimana tergambarkan didalam Al-Qur'an. :

?ˆ???…???†?’ ?‚???¯???±?? ?¹???„?????’?‡?? ?±???²?’?‚???‡?? ?????„?’?????†?????‚?’ ?…???…???¢?§???????§?‡?? ?§?„?„?‡

Artinya : Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya ( QS.AtThalaq:7)

Infaq juga bisa digambarkan dengan syukur kepada Allah atas taufiq yang diberikan kepada mereka di dalam memerangi hawa nafsu dan menghilangkan debu-debu yang mengotori qolbu dan kesibukan duniawi. Berusaha merupakan kesusahan untuk bisa menuju perjalanan yang masih samar antara mereka dan Allah dengan mengetahui ayat-ayat kauniyyah yang berbicara tentang wujudnya Allah dan menyaksikan atas keesaan Allah dan menerangkan tentang besar sifat-sifat Allah.

Bahwa pada awal perjalanannya dua golongan ini sudah berbeda, maka sesungguhnya mereka kelak akan bertemu dengan kenikmatan ma'rifat kepada Allah, walaupun salah satu di antara mereka tertinggal dari yang lain dalam hal wushul kepadaNya, sebagaimana keduanya juga akan bertemu pada khitob yang ditujukan kepada mereka dari Allah Swt. Dialah Dzat yang memerintahkan kepada mereka untuk berinfaq yaitu yang memerintahkan kepada mereka untuk bersyukur atas nikmat yang berharga yang dititipkan oleh Allah kepada mereka berupa kenikamatan ma'rifat pada dzatNya dan penglihatan hati atas sifat-sifat ketuhanan dan kekuasaanNya yang agung.

Apakah di dalam kenikmatan-kenikmatan dunia itu ada nikmat yang lebih besar dan lebih abadi dari pada Allah memuliakan kamu dengan ma'rifat kepadaNya dan mencicipkan kamu kelezatan (rasa enak) dekat dariNya dan cinta kepadaNya?

Baik itu Allah memberikan kema'rifatan kepadamu atas dzatNya yang tinggi atau Allah memberangkatkanmu sampai pada penghujung yang dibersihkan dari keruksakan yang ada di dunia ini, maka anugerah dan pemberian Allah itu bisa konsisten dan melekat kepadamu. Dengan dasar itulah, syukur yang hakiki itu hukumnya wajib.

Hikmah ini mengingatkan kepada saya dengan perkataan yang diambil dari orang barat yang �alim, namanya baskal beliau berkata : Umat manusia yang beruntung itu ada dua golongan. Pertama, adalah golongan yang diberi kema'rifatan oleh Allah dan mereka selalu berusaha keras untuk menuju jalan yang diridhoiNya. Kedua, adalah golongan yang bersungguh-sungguh dalam mencari Allah. Sedangkan umat manusia yang celaka adalah orang-orang yang tidak tahu tentang Allah dan tidak mau bersungguh-sungguh dalam mencariNya.

Semoga Allah Yang Maha Esa selalu menemanimu untuk menunjukan pada jalan yang benar dan menjauhkanmu dari penyimpangan. Sekarang kamu telah sampai pada sesuatu yang kamu inginkan dengan selamat, tetaplah bersyukur atas dalil kemudian tinggalkan dan lewatkanlah supaya kamu bisa meraih apa yang kamu inginkan secara keseluruhan yang telah lama kamu nanti-nantikan dan kamu dambakan.

Beberapa dalil ilmiah yang kamu lakukan sungguh telah membantumu menuju area keyakinan. Maka sekarang hiduplah bersama area tersebut, dan janganlah kau kotori beningnya keyakinanmu di dalamnya dengan kembali pada dalil-dalil dan silogisme yang bisa menarik kembali tanpa ada kebutuhan. Sungguh kamu tidak tahu kapan datangnya maut secara tiba-tiba. Dan jika maut datang menyerangmu sedangkan kamu sibuk dengan dalil-dalil dan mencari tambahannya, maka kelak hal tersebut akan menyibukanmu dari tarjet/tujuan yang mana kehidupanmu telah kamu infaqkan untuk sampai kepadaNya dan mencari kedekatan denganNya dalam kehidupan yang sebentar ini yang mana kamu telah meninnggalkan kedua tanganmu dari dunia untuk menghadap kepada Allah.









 














Senin, 02 Agustus 2010 - KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi

???´?ˆ???ƒ ?§?„?? ?…?§ ?¨?·?† ?????ƒ ?…?† ?§?„?¹???ˆ?¨,

?®???± ?…?† ???´?ˆ???ƒ ?§?„?‰ ?…?§ ?­?¬?¨ ?¹?†?ƒ ?…?† ?§?„?????ˆ?¨

"keinginanmu untuk mengungkap a'ib-aib yang tersimpan pada dirimu, itu lebih baik dari pada keinginanmu untuk mengetahui hal-hal yang ghoib".

Ada beberapa cara yang berwarna-warna bagi syaithon untuk menggoda hati manusia dan jalan mereka menuju Allah, maka baginya untuk menggoda orang-orang yang lupa, tersesat dan jauh dari jalan untuk menuju hidayah, ada jalan yang sesuai dengan keadaan mereka dan jalannya bisa mendorong mereka pada bertambahnya sesuatu yang diharamkan dan menjauhkan mereka dari benih-benih hidayah dan kesempatan untuk bangkit.

Baginya untuk menggoda orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dari golongan manusia, ada yang lain yang sesuai pada diri mereka, dia tidak tergoda dengan godaannya pada orang-orang sesat dan orang yang lupa terhadap Allah seperti diatas. Tetapi dia bisa menyimpan didepan mereka benih-benih yang lain yang tidak jelas bahayanya, benih-benih tersebut bisa mengantarkan mereka pada tingkah laku atau budi pekerti orang-orang yang tersesat dari golongan pertama.

Baginya untuk menggoda orang-orang yang seperti saya (termasuk orang-orang yang melihat pada diri mereka sendiri mereka mengaku telah mencapai tingkat tawajuh dan irsyad, dan Allah telah menegakannya dengan benteng �amar ma'rup nahi mungkar) ada beberapa senjata dan cara-cara yang lain yang berbeda dengan beberapa cara yang sudah lewat.

Dan dia bisa mengalahkan golongan yang ketiga ini dengan pelantaranya, dia mengarahkan pandangan mereka? ke hartanya semisal kedudukan dan menjadi perhatian manusia, dan dengan adanya hal tersebut maka syaithon menyusun beberepa sebab yang bermacam-macam yang akan disimpan didepannya dan menumbukan sampai lekat pada dirinya, termasuk lebih penting-pentingnya dan lebih bahaya-bahayanya adalah memperlihatkan setiap sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk atas kedudukannya dan kedekatannya dengan Allah subhanahu wa ta'ala didepan orang-orang yang berkeinginan untuk mendekatkan diri pada Allah dan umumnya orang yang melihat seperti pengakuan adanya karomah, luar kebiasaan (khoriqul â€?adah) dan segala sesuatu yang mengherankan yang mungkin dia bisa melakukannya.

Kadang dalam hati mereka sudah menetapkan bahwa sesunguhnya hal tersebut adalah jalan yang lebih condong pada ketertarikan orang-orang yang lupa pada Allah dan petunjuknya orang-orang yang tersesat, karena syaithon memperdayanya dengan meminta bantuan pada bagian-bagian nafsu dan kesenangan, sesungguhnya memperlihatkan keajaiban dan luar kebiasaan (khoriqul �adah) pada tangan mursyid adalah sesuatu yang bisa menanamkan kepercayaan pada diri orang-orang yang berkeinginan untuk mendekatkan diri pada Allah, dengan adanya hal tersebut maka tambahlah hubungan dengannya dan tunduk kepadanya.

Gambaran ini bisa mendorong pada seseorang untuk membuat beberepa majelis ta'lim yang besar yang mana orang tersebut dalam majelisnya bisa mengajar dan menunjukan, yang dihiasi dengan penjelasan yang keluar dari keramatnya dan keanehan-keanehan yang keluar darinya.

Sebagian dari pengaruh-pengaruh metode ini yang dipakai jalan oleh sebagian orang-orang yang membiasakan memberi pengarahan dan petunjuk kepada murid-muridnya dan murid thoriqohnya, sesungguhnya ketika mereka merasa puas dengan gambaran ini mereka akan menyangka bahwa ukuran kedekatan mereka dengan Allah dan terangkatnya mereka pada derajat orang-orang yang ma'ripat itu dengan adanya keluar dari kebiasaan (khowariq) yang keluar darinya dan beberapa karomah antara satu waktu dengan waktu yang lain.

Ingatlah kita harus mengetahui secara keseluruhan bahwasanya gambaran ini yang bertentangan dengan qo'idah-qo'idah islam adalah termasuk lebih berbahaya-bahaynya sihir syaithon dan godaannya. Sesungguhnya beberapa perintah Allah kepada kita untuk melaksanakan tho'at, dzikir, dan menjauh dari sesuatu yang diharamkan bukanlah tujuan pada waktu bisa melihat cahaya, atau terbukanya beberapa alam gho'ib, atau berubahnya batu-batu kecil menjadi gula, akan tetapi untuk mensucikan hati dari kotoran-kotoran dan beberapa penyakit yang bisa menjauhkan seorang hamba dari tuhannya seperti sombong, fanatisme kesukaan dan aliran, dengki, rakus harta, cinta kepemimpinan dan kemasyhuran.

Sesunguhnya pembesar-pembesar Ahli Tasauf yang berpegangan dengan kitab Allah (Al-qur'an) dan sunah Rasullah shalallahu a'laihi wasalam seperti Imam Junaidi Al-Bagdadi, Imam Muhasibi, kemudian Imam Qusyairi, ketika mereka memperbanyak dzikir kepada Allah seperti membaca Al-qur'an, wiridan waktu shubuh dan sore, dan banyak melakukan kesunahan setelah kefarduannya, mereka takut pada satu waktu dari beberapa fitnah dengan adanya khowariq, mereka juga mengukuhkan bahwa istiqomah atas perintah-perintah Allah adalah termasuk karomah yang hakiki.

Begitu juga ketika kita mampu untuk melaksanakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah seperti patuh pada perintah Allah, wiridan dan melakukan �amal kebaikan, kita harus ingat penyakit dan harus tahu obatnya. Sesungguhnya penyakit adalah sesuatu yang bisa tumbuh pada diri kita dengan adanya zaman dari beberapa penyakit yang sudah disebutkan, sedangkan obatnya adalah tho'at, dzikir dan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Yang dituntut dari saya dan kamu ketika kita menggunakan obat kita harus mangharapkan kesembuhan dari Allah atas kecacadan-kecacadan yang samar dan bertumpuk-tumpuk pada diri kita, tidak mengharapkan menggunakannya untuk bisa terbuka pada sesuatu yang disamarkan oleh Allah seperti rahasia-rahasia keghoiban.

Ini adalah nashihat ibnu Atho'illah kepada kita dengan maqolahnya :

???´?ˆ???ƒ ?§?„?? ?…?§ ?¨?·?† ?????ƒ ?…?† ?§?„?¹???ˆ?¨,

?®???± ?…?† ???´?ˆ???ƒ ?§?„?‰ ?…?§ ?­?¬?¨ ?¹?†?ƒ ?…?† ?§?„?????ˆ?¨

Sesungguhnya Allah telah menegur kita pada ayat-ayatNya supaya kita bisa membersihkan diri.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

?‚?????¯?’?£?????’?„???­?? ?…???†?’ ?????²???ƒ?‘???‰ ?ˆ???°???ƒ???±?? ?§?³?’?…?? ?±???¨?‘???‡?? ?????µ???„?‘???‰

Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang�. (QS. Al-a’laa. 14-15)

Apakah pembersihan hati itu bisa dilihat dengan adanya keramat dan adanya khowariq kemudian bisa memakan kepingan kaca dan bisa merubah batu menjadi gula ?

Apakah kamu tidak melihat, ketika kamu tahu bahwa sesungguhnya kamu adalah orang yagng selalu membanggakan diri atas orang lain dan membenci pada orang yang mendahuluimu dalam kepemimpinan dan kemasyhuran, rakus terhadap harta dan memburunya dari jalan manapun sampai kamu mendapatkanya, maka ketahuilah sesungguhnya kamu jauh dari Allah dan dihalang-halangi dari beberapa sifat halus dan rahmatnya Allah, sehingga kalau seandainya kamu mempunyai khowariq sesungguhnya hal tersebut hanyalah istidroj dan bukanlah karomah. Istdroj adalah nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya tidak karena cinta tapi karena membencinya.

Berbeda dengan rasul-rasulnya Allah mereka dijaga dari kema'siatan dan dosa, ketika mereka diberi oleh Allah suatu mu'jizat atau luar kebiasaan (khowariq) itu karena membuktikan adanya kekuasaan Allah dan supaya umat mereka beriman kepada Allah.

Sabtu, 31 Juli 2010 - KH. Muhammad Wafi MZ. Lc,
Mayoritas insan di dunia yang fana' ini, mereka saling berkomunikasi dan berhubungan atas hajat individual, dengan artian yang satu membutuhkan yang lain, mereka berhubungan dengan akrab, rasa senang dan saling memuji agar kebutuhan masing-masing terpenuhi, dan apabila salah satu dari mereka menemukan 'aib / cacat dari lainnya, maka bisa jadi persahabatan berbalik arah menjadi permusuhan....
Sabtu, 31 Juli 2010 - KH. Muhammad Wafi MZ. Lc,
Jadi, orang yang arif, disetiap haliyahnya/tingkahnya selalu hidup dengan keadaan dhorurot (merasa kesulitan dan sangat membutuhkan kepada Allah) yang mana perasaaan itu akan terbawa terus disetiap doanya bahkan disetiap ia mengadu kepada-Nya, karena perasaan butuh dan lemahnya tidak bisa lepas darinya baik itu dalam keadaan sengsara ataupun keadaan lapang.
Kamis, 29 Juli 2010 - KH. M. Wafi M.Z. Lc,
Bagaimana bisa cahaya lampu di malam hari menjadi hijab yang menghalangi untuk bisa tahu PLN? Dan mencegahmu untuk bisa yakin akan wujudnya PLN? Serta bagaimana mungkin buah yang matang di atas pohon menjadi hijab untuk bisa melihat pohonnya.
Jumat, 23 Juli 2010 - KH. Muhammad Wafi MZ. Lc, MSI
Kedua golongan ini telah dijaga oleh Allah dari mengandalkan amal ibadah dan ketaatannya. Mereka tidak menjadikannya sebagai ukuran dan tameng yang melindungi dirinya dari siksa. Sebaliknya, mereka memandang bahwa amal ibadah mereka yang sedikit itu tidak berharga sama sekali untuk dijadikan sebagai sesuatu yang diandalkan dalam menggapai angan-angannya.
Selasa, 06 Juli 2010 - KH. Muhammad Wafi MZ, Lc. MSI
perbedaan antara seorang yang 'arif dan yang zahid secara umum dan khusus, karena setiap orang yang 'arif itu pasti zahid dan tidaklah setiap orang yang zahid itu 'arif
Selasa, 06 Juli 2010 - KH. Muhammad Wafi MZ, Lc. MSI
Sudah maklum bahwa yang menjadi tuntutan bagi hamba Allah Subhanahu wa ta'ala ketika beribadah adalah supaya ia harus mengikhlaskan semua ketaatan yang menjadi perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lainnya
Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.