Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Rabu, 24 Oktober 2018 - KH. A. Wafi Maimoen Lc. M.Si


Tanda Kekuasaan Allah

مـما يدلك على وجود قهره سبحانه أن حجبك عنه بما ليس بوجود معه

“Termasuk tanda sifat kekuasaan Allah adalah kamu dihalang-halangi oleh Allah. Padahal sebenarnya tidak, hal ini terjadi karena ada sebuah penghalang antara kamu dan Allah”

Sebuah lampu tidak akan bisa menerangi ketika ada penghalang, hal ini terjadi karena cahaya lampu dan penghalang itu adalah sifat yang berbeda dan tidak bisa disatukan. Gambaran seperti ini adalah gambaran yang terdapat di dunia. Dan gambaran ini tidak berlaku bagi nur Allah, walaupun ada penghalang, nur Allah akan selalu menyinari makhluk-Nya. Penyebabnya ialah semua makhluk itu butuh kepada nur Allah, dan jika mereka tidak mendapatkan nur, maka mereka akan hancur. Maka dari itu sebenarnya seluruh pekerjaan manusia itu karena sudah dikehendaki oleh Allah. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (41) [النور : 41[

Artinya : “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sholat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 41)

Jadi kenapa seorang hamba bisa lupa terhadap khaliqnya? Padahal tidak ada penghalang antara dirinya dan tuhannya. Hal ini terjadi dikarenakan Allah menutupi hamba-Nya darinya, namun sebenarnya tidak, hanya saja ada sebuah penghalang yang menghalangi seorang hamba dari khaliqnya dan Allah mempunyai kekuasaan untuk melakukan itu karena Ia berhak melakukan apapun yang Ia kehendaki. Dan merupakan suatu hal yang aneh jika seorang hamba yang mempunyai pengetahuan lebih tentang rahasia-rahasia alam ini bisa lupa terhadap khaliqnya, padahal di dalam semua itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah.

Memang hal seperti ini bukanlah hal yang tabu lagi bagi kita karena ketika kita melihat sekeliling kita, banyak ilmuan-ilmuan yang lupa terhadap Allah padahal di dalam sekian hal yang mereka pelajari, banyak sekali  tanda bukti kebesaran Allah. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (24) [الأنفال : 24]

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal : 24)

Jadi sebenarnya yang membedakan manusia dari yang lain adalah manusia diberi akal dan hati oleh Allah. Seorang muslim yang sejati adalah orang yang bisa menggunakan akal dan hatinya secara benar dengan cara mengendalikan hatinya beserta akalnya. Adapun orang yang lupa terhadap Allah itu dikarenakan mereka tidak bisa menggunakan akal dan hatinya dengan benar jadinya mereka tidak bisa berfikir, dan memandang dunia ini dari segi yang tampak saja. Mereka memandang bahwa ilmu itu adalah pengetahuan yang bisa dilihat saja, padahal para Ulama’ sudah mencetuskan bahwa hakikat ilmu adalah :

إِدْرُاكُ شَـيْءٍ عَلىَ مَا هُوَ عَلَيْهِ بِدَلِيْلٍ

“Mengetahui sesuatu secara benar itu dengan menggunakan bukti terhadap hal tersebut.”

Jadi walupun suatu benda itu tidak bisa dilihat tapi bisa terjadi secara logis, maka mungkin memang bisa saja hal itu ada. Seperti contoh, kabar cerita tentang adanya akhirat, cerita tentang para nabi, itu masih dikatakan ilmu karena secara logika masih bisa terjadi. Maka dari itu sebenarnya Ilmu yang mereka pandang secara dhohirnya saja itu adalah suatu pemahaman yang sempit, tapi bagaimana mereka bisa berpikikir sesempit itu? Hal ini karena mereka itu diberi akal saja oleh Allah, namun hati mereka tidak dipakai, hingga mereka seperti orang yang buta. Kenyataannya, bahkan sering kita ketahui bahwa orang buta matanya itu bisa melihat dengan menggunakan hatinya saja. Malah terkadang orang yang bisa melihat dengan kedua matanya itu tidak bisa melihat hal-hal yang bisa dilihat oleh hati. Tapi bagaimana orang yang bisa melihat (dengan kedua matanya) itu hatinya tidak bisa digunakan? semua itu dikarenakan seringnya ia melakukan maksiat secara terus menerus melakukan maksiat, sehingga pada akhirnya hatinya keras seperti batu atau bahkan lebih keras lagi. Didalam alquran, Allah SWT telah berfirman :

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً (74) (البقرة : 74)

Artinya : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah : 24)

Dan jika sudah seperti itu maka orang akan susah untuk berbuat bagus walaupun berkali kali diberikan peringatan, namun tetap tidak akan bis. Orang semacam ini, akan dicap sebagai orang sombong, dan ancaman Allah SWT terhadap orang-orang sombong tanpa adanya haq adalah ia akan dijauhkan dari ayat Allah SWT. Seperti yang ada dalam alquran ;

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (146) (الأعراف : 146)

Artinya : “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. Al-A’raf : 146)

Dengan demikian, jangan sampai kita dijauhkan dari bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. Maka dari itu ketika kita sudah terlanjur berbuat maksiat, kita camkan dalam hati kita bahwa kita berbuat maksiat bukan karena menentang Allah SWT, tapi karena tubuh dan hati kita itu lemah. Allah SWT telah berfirman :

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا (28) (النساء : 28 )

Artinya : “Dan manusia diciptakan sebagai makhluq bersifat lemah.(QS. An-Nisaa : 28)

Dengan cara ini setan akan susah jika mendekatinya, dan sebaiknya seorang mu’min memperbanyak berdo’a kepada Allah. Hal yang demikian memang perlu dilakukan karena itu merupakan senjata orang mu’min paling ampuh untuk menghadapi setan seperti yang dikatakan oleh para ulama’ :

الدُّعاَءُ سِلاَحُ اْلـمُؤْمِنِ

“Do’a merupakan senjatanya orang mu’min.”

- والله أعلم بالصواب -



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.