Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Jumat, 02 Maret 2018 - KH. Ahmad Wafi MZ


Membersihkan Hati

Hikmah 32

تشوفك إلى ما بطن فيك من العيوب خير من تشوفك إلى ما حجب عنك من الغيوب

Keinginan mengetahui kekurangan hatimu itu lebih baik dari pada keinginanmu mengetahui hal-hal ghoib yang tidak bisa kita gapai.

                Setan itu selalu menggoda manusia, dalam usahanya ia mempunyai metode yang berbeda-beda tergantung manusianya, andaikan manusianya ahli maksiat maka ia akan terus menjerumuskannya kedalam kemaksiatan, sedangkan yang digoda adalah ahli tho’at maka setan akan membesar-besarkan ketho’atan yang telah dilakukannya sehingga ia merasa lebih baik dari pada orang lain, kalau dia seorang kyai atau ustadz, maka ia digoda senang dengan karomah-karomah sehingga ia punya perasaan bahwa bagaimanapun baiknya seseorang kalau belum punya karomah maka dia belum bisa dikatakan baik/alim.

                Cara untuk menghindari godaan setan adalah dengan beribadah dengan benar, yaitu ketika seorang hamba beribadah, dzikir kepada Allah maka janganlah berharap mencari hal-hal yang aneh, akan tetapi ibadah itu dilakukan supaya Allah membersihkan cacat-cacat yang ada dihatinya.

                Ulama’ ahli tasawwuf terdahulu itu ahli ibadah semua dan banyak yang mempunyai karomah, akan tetapi ketika mengajari para muridnya, yang beliau ajarkan bukanlah “cara mendapat karomah” akan tetapi yang beliau ajarkan adalah “الإستقامة خير من اْلف كرامة  “ yaitu selalu istiqomah dalam ibadah dan mengoreksi kecacatan yang ada didalam hatinya, agar amal yang dilakukan ikhlas karena Allah ta’ala, Allah berfirman:

قد اْفلح من تزكى و ذكر اسم ربه فصلى

Jadi yang paling penting bagi seorang hamba adalah selalu membersihkan hatinya (تزكية النفس   ) dari kecacatan hati karena semua ibadah itu bertujuan untuk tazkiyyatun nafs (membersihkan hati).

                Ketika seseorang sudah beribadah dan ia masih merasa berat ketika orang lain mendapatkan ni’mat atau ia masih sangat mencintai harta dunia, maka itu merupakan pertanda bahwa ia masih jauh dari Allah SWT meskipun ia mempunyai banyak karomah.

                Para ulama’ dan wali-wali terdahulu selalu mengoreksi diri mereka dan sangat berhati-hati dengan nafsu, karena nafsu itu bagaikan harimau yang berada didalam kandang yang mana andaikan si pemilik tidak waspada maka si harimau bisa keluar dari kandangnya dan membahayakannya, oleh karena itu wali-wali Allah SWT meskipun sudah mempunyai derajat yang sangat tinggi beliau tetap merasa rendah dan selalu meminta perlindungan kepada Allah SWT.

                 Tanda seorang hamba itu dekat dengan Allah adalah ia merasa punya banyak dosa, sedikit amalnya, merasa rendah dan tidak lebih baik dari pada orang lain.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.