Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Mawa'izh

Selasa, 27 Februari 2018 - ISMAH (Ikatan Santri Muhadloroh)


Sang Maha Besar

“Aku cinta Allah” tidak terhitung banyaknya kalimat itu keluar dari mulut kita umat muslimin. Berkali-kali kita melafadzkan nama Allah dalam kehidupan sehari-hari, ketika melakukan kesalahan terucap astaghfirullah, ketika mengalami atau melihat kebesaran Allah terucap subhanallah, ketika tertimpa musibah atau kabar kematian terucap innalillah, apalagi ketika di dalam sholat atau sedang membaca al-Qur’an berapa banyak lagi lafadz Allah terus mengalir dari lisan kita? Tapi apa benar, setiap kalimat yang terucap itu juga selalu menggugah ingatan kita kepada Allah? Rasa ta’dzim kita kepada Allah? akui saja, kebanyakan dari lafadz-lafadz itu kita ucapkan hanya karena adat bahasa saja. Lafadz-lafadz itu keluar karena otomatis, sudah menjadi kebiasaan, tanpa kita sempat untuk meresapi maknanya. Burukkah hal tersebut? Secara pribadi, Tidak. Itu merupakan kebiasaan yang baik. Walaupun hanya di lisan tetap akan ada berkah tersendiri. Tetapi alangkah baiknya apabila penyebutannya tetap dengan tujuan semestinya di sertai dengan niat dzikir dan taqorub kepada Allah.

Tidak hanya itu saja, salah satu cara pembuktian cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti tindak laku dan tauladan Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( آل عمران: 31

“katakanlah (Muhammad) “apabila kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun maha penyayang”.

Tengoklah para Shohabat Rasul, perhatian mereka terhadap Nabi Muhammad sangatlah besar. Apa saja yang dilakukan Nabi, mereka dengan semangat langsung mengikutinya tanpa banyak pertanyaan. Terutama adalah Shohabat Abu Bakar dan Umar. Ketika Nabi duduk di atas sumur, kedua Shohabat itu langsung mengikutinya, ketika Nabi mencium Hajar Aswad, mereka tanpa pikir panjangpun langsung mengamalkannya. Sampai-sampai ketika meninggal duniapun kedua Khulafaur Rosyidin ini juga ingin tempat peristirahatan terakhir mereka adalah dekat dengan makam Rasulullah, yaitu di dalam kamar Saiyyidatina Aisyah. Subhanallah, betapa besar rasa cinta mereka kepada Rasulullah. Mereka melakukan sunah-sunah Rasul dengan didasari rasa cinta tulus kepada Allah dan Rasulnya. Tanpa terbersit sedikitpun di benak mereka tentang pahala atau balasan yang akan mereka peroleh kelak. Berbanding terbalik dengan orang-orang zaman sekarang ini. Penuh perhitungan, sulit untuk ikhlas, sangat senang mengharap balasan. Bahkan diranah ibadah itu sendiri.

Dicontohkan oleh Syaikh Maemoen Zubair: orang-orang zaman sekarang ketika melakukan Sholat Arbain, yaitu Sholat Jama’ah fardlu lima waktu di Masjid Nabawi 8 hari tanpa putus, artinya melakukan Jama’ah 40 kali berturut-turut. Orang-orang zaman sekarang sangat semangat mengamalkannya, akan tetapi yang dicari mereka adalah banyaknya pahala yang akan diperoleh apabila melakukan ibadah tersebut. Berbeda dengan orang-orang zaman dahulu yang niat melakukan Arbain adalah karena rasa ta’dhim besar untuk mengagungkan Rasulullah.

Padahal sejatinya, apa guna pahala yang mereka miliki? Bisakah pahala itu memberikan tiket masuk surga? Tidak!. Sebesar apapun pahala yang mereka miliki, ribuan tahun sekalipun mereka bersujud tanpa henti kepada Allah tetap tidak akan mampu untuk membeli surga, tidak berbanding sama sekali dengan nikmat yang ada didalamnya.

Manusia itu sangat lemah, dan hanya dengan rahmat, Allah memberikan kekuatan pada mereka. Dengan kehendak Allah-lah manusia bisa beribadah, bisa berbuat amalan kebajikan. Dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah-lah manusia siap untuk melaksanakan syariat Allah. Lalu bagaimana mungkin manusia bisa mengandalkan pahala, amalan, dan ibadahnya. Sedangkan semua itu Allah lah yang mengatur. Tanpa adanya Allah, apa bisa tubuh-tubuh lemah ini menunaikan haji, puasa, sholat lima waktu, bahkan bergerak sekalipun?? Tidak akan bisa!!! Bagaimana mungkin manusia berani membusungkan dada dengan sombongnya merasa berada diderajat tinggi hanya karena sedikit ibadah yang dilakukannya? Tidak tahukah mereka bahwa tiap detik hembusan nafas mereka merupakan nikmat maha besar yang diberikan oleh Allah, tiap sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya miliyaran ini tidak pernah lepas dari nikmat Allah sepersekian detik pun. pahala manusia saja apabila dibandingkan dengan nikmat yang diterima selama di dunia saja tidak akan pernah sebanding, belum lagi besarnya dosa yang mereka lakukan, apabila dihitung, apa sanggup manusia untuk sekadar mendongakkan kepala saja. Sungguh manusia itu makhluk maha lemah. Seandainya manusia masuk surga kelak, itu semata-mata adalah karena rahmat Allah tanpa sedikitpun amalan manusia dapat mempengaruhinya.

Kalau begitu, apa gunanya kita beribadah? Memupuk pahala? Kalau pada akhirnya tidak berarti apa-apa?. Justru kalau kita tidak taat dan patuh pada Allah malah akan berlipat-lipat lagi salahnya. Walaupun ibadah dan amalah yang kita lakukan dapat membuahkan pahala, yang terpenting adalah niatnya. Jangan berbuat karena adanya balasan, tapi berbuatlah untuk Allah, ikhlas melakukannya karena semata-mata hanya untuk Allah. Seperti dalam hadist Nabi.

(قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( اخلص دينك يكفك العمل القليل 

Bahwa kita adalah hamba dan Allah adalah tuhannya. Adalah kewajiban bagi seorang hamba untuk patuh dan bersujud kepada tuhannya. Tanpa adanya alasan lain. Wallahu a’lam.

Disadur dari mau’idzoh Syaikhina Maimoen Zubair dalam acara sholawat bersama dan ‘ilqoul mawa’idl di Musholla PP Al-Anwar sarang Robi’ul Akhir 1436 H



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.