Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Beranda Al Anwar

Jumat, 12 Februari 2016 - Tim Mading ISMAH


Tak Terhingganya Angka Sepuluh

Bulan Robi’ul Awwal atau biasa orang Jawa sebut dengan bulan “Mulud” memang sudah berlalu, bulan yang mana sangat mulia dikarenakan di dalam bulan ini terjadi peristiwa yang akan menentukan arah perjalanan hidup setiap manusia di bumi ini. Yaitu lahirnya sesosok manusia paling sempurna, manusia paling dicinta se-alam semesta, manusia yang menjadi awal dari cikal bakal terbentuknya dunia dan akhirat serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, yaitu Al Musthofa Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Walaupun bulan tersebut sudah berlalu, tidak serta merta semangat untuk mengagungkan beliau Rasulullah pun harus ikut tergilas oleh pergantian hari dan bulan. Kapanpun dan dimanapun, tetap sah-sah saja mengadakan acara Maulid Nabi. Selain agar tetap selalu mengingat sejarah kemuliaan dan keteguhan perjuangan beliau dalam membentangkan sayap-sayap Islam, juga agar Syafaat beliau tidak enggan untuk menaungi tubuh-tubuh gelisah kita kelak di hari kiamat. Amin.

Dalam realitasnya, keberadaan Rasulullah sendiri merupakan awal dari runtutan rahmat luar biasa yang diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia, tidak terkecuali bagi masyarakat non-muslim. Karena berkat Rasulullah, Islam pun ada, dan selama Islam masih hidup, Allah SWT tidak akan menurunkan Kiamat di dunia ini.

Sebut saja dalam permasalahan hukum syariat yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad ini cenderung lebih ringan apabila dibandingkan dengan syariat Nabi-Nabi sebelumnya. Seperti dalam bab Najis. dengan contoh, pada zaman Nabi Musa as, sesuatu yang terkena Najis (Mutanajjis) apabila dibersihkan menggunakan air, tidak begitu saja barang Mutanajjis itu menjadi suci kembali, semisal apabila sebuah pakaian yang terkena najis maka bagian yang terkena najis itu harus dipotong, sehingga pakaian itu bisa digunakan lagi untuk beribadah. Berbeda sekali dengan syariat Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, apabila sesuatu terkena najis, tinggal dicuci, semua beres. Selain itu juga ada permasalahan dari hukum Hak Waris, Qishos dan sebagainya. Yang beberapa sudah pernah saya beber dalam rubrik ini pada edisi sebelumnya.

Selain itu adalah Al Qur’an yang merupakan Mukjizat terbesar Nabi Muhammad, kitab penyempurna dari Taurot dan Injil ini akan memberikan 10 kebaikan bagi setiap manusia yang membacanya barang satu huruf saja. Bayangkan apabila seseorang membaca satu lembar saja dari Al Qur’an, atau satu surat, satu juz, bahkan khatam 30 juz, berapa banyak kebaikan yang akan mereka peroleh? Tak terhingga!! Tidak akan mampu kita untuk menghitungnya!! Maha besar Allah SWT.

Selain itu kitab ini juga mencakup banyak bidang keilmuan. Tidak hanya berfokus pada ilmu Agama saja, kitab ini juga banyak menerangkan ilmu-ilmu umum seperti Sains, Kedokteran, Sosial, Geografi, dan masih banyak lagi. Tidak heran, banyak ilmuwan besar yang menjadikan Al Qur’an sebagai rujukan dan referensi dari penelitian-penelitaian mereka. Tidak sedikit pula diantara mereka yang masih menyandang status non-muslim. Tapi mereka tidak bisa memungkiri keotentikan Al Qur’an dan kehebatan Rasulullah dalam menciptakan tatanan masyarakat yang bermoral dan terstruktur rapi dengan hukum-hukumnya, sehingga bisa mencapai titik hingga begitu besar seperti sekarang ini.

Walaupun Al Qur’an sudah sedemikian sempurnanya, tetap saja ada manusia-manusia tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan Al Qur’an dengan membuat penafsiran-penafsiran melenceng dari kebenaran. Mereka menggunakan ayat-ayat mutasyabihat, mencari-cari takwilan dengan cara mereka sendiri, mencari-cari fitnah kebenaran, dan seolah membuat bahwa takwilan dan tafsiran mereka adalah sebenar-benarnya apa yang dimaksud dalam Al Qur’an. Padahal hanya Allah SWT-lah yang mengetahui takwilan dari ayat mutasyabihat tersebut.

Orang-orang inilah yang tergolong sesat yang akan mendapatkan azab sangat pedih, termasuk orang-orang yang keluar dari Ahlussunah Waljama’ah.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (آل عمران: 7)

Artinya : “Dialah yang menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad). Diantaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok kitab (Al Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat, untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah SWT. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata “ kami beriman kepadanya (Al Qur’an) semuanya dari sisi tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mencari pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS. Ali Imron : 7)

Ajaran-ajaran sesat mereka memang saat ini sedang marak di Bumi Nusantara, menciptakan Islam yang toleransi dan terbuka terhadap Agama lain, juga praktek Pluralisme. Itu semua adalah salah! Sesat! bukan Islam yang sesungguhnya, bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah, bukan Identitas kita yang sesungguhnya. Kita sebagai pemeluk Islam harus tahu, apa itu Islam yang sebenarnya, Islam yang dibawa oleh Nabi Agung Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, sunah-sunah beliau, ajaran beliau, akidah beliau, yang biasa disebut dengan akidah Ahlussunnah Waljama’ah.

Dalam hal ini Ahlussunnah Wal Jama’ah memiliki 3 Pondasi penting, yang menopang agar tetap utuh. 3 Pondasi itu adalah: Pertama, akidah yang sesuai dengan akidah Asyariyah dan Maturidiyah.

Kedua, fiqh yang bertendensikan pada Madahibul Arba’ah. Yaitu Ulama’-Ulama’ yang ada dibawah jejak Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Sebenarnya ada banyak imam-imam diluar Madzahibul Arba’ah yang kualitas keilmuannya tidak kalah dari beliau-beliau ini, akan tetapi ada faktor-faktor yang menyebabkan fatwa mereka tidak tertulis dan terbukukan, sehingga tidak bisa muncul dipermukaan. Efeknya adalah, pada zaman sekarang ini, tidak ada jejak atau sanad konkret bahwa ilmu atau fatwa itu berasal dari mereka. Jadi tidak bisa dipertanggung jawabkan keasliannya.

Terakhir, Ibadah Bathiniyah kita kepada Allah SWT yang menganut pada Ulama’-Ulama Sufi atau Tasawuf.

Kebanyakan dari orang orang sesat ini memungkiri dan tidak mau mengenal Imam-Imam diatas. Mereka dengan pongahnya berkata bahwa mereka tidak butuh Ulama’-Ulama’ salaf tersebut. Mereka berkata bahwa mereka belajar Islam dari sumbernya, yaitu Al Qur’an dan Hadist. Dengan cara, penafsiran, dan pemahaman mereka sendiri. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi orang-orang seperti ini?,jawabannya adalah kita tidak boleh keras , tidak boleh anarkis, kita harus dengan sabar memberikan rasa kasihan kita, rahmat kita kepada mereka, berusaha pelan-pelan dengan Mauidhoh Hasanah membimbing dan menyadarkan mereka. Karena, apabila kita menggunakan kekerasan, alih-alih terbuka hatinya, mereka malah akan semakin memusuhi kita dan hanya tinggal kesia-siaan belaka.

Agar bisa mencapai ridho Allah SWT, untuk bisa mencapainya, satu-satunya jalan adalah dengan CINTA dan menganut ajaran Rasulullah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Cinta pada Rasulullah pun tidak cukup datang hanya Dari mulut belaka. Kita harus mengikuti Akidah beliau, Sunah beliau, Hukum yang dibawa beliau dan juga Keilmuan beliau. Caranya? Seperti yang tertulis diatas, dengan belajar sungguh-sungguh, membaca kitab-kitab karangan Ulama’ yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya dan memiliki sanad keilmuan yang tidak putus sampai pada Rasulullah. Agar kita bisa mengetahui Islam yang sebenar-benarnya, Islam yang bisa mencapai ridha Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.