Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Ragam

Jumat, 10 April 2015 - Mas Abdullah


Menjadi Pemuda Idaman di Akhir Zaman

Masa muda katanya adalah masa yang penuh warna, masa-masa yang setiap orang tua pasti ingin memutar lagi memorinya. Tapi, masa itu sangatlah labil, Pikiran pun belum bisa terfokus pada satu titik, hanya mengikuti alur hasrat dan keinginan yang ada di dalam hati sehingga masa itu akan membuat orang yang mengalaminya seperti terombang-ambing di atas derumnya ombak laut.

Muda itu menentukan masa depan, sejahtera atau tidaknya kehidupan yang akan datang, yang apabila seseorang salah melangkah maka akan terhimpit dan tergilas oleh waktu dan zaman. Muda itu tidak bisa diulang kembali yang nantinya hanya akan menjadi bahan angan.

Masa muda identik dengan kata cinta, yang sulit dicari definisinya, dan di dunia ini pun masih belum ditemukan juga obatnya, kalau seandainya ada mesin lorong waktu ingin rasanya hidup di zaman dulu dan menemui Ibnu Sina kemudian bertanya kepadanya adakah obat penawar cinta?.

Tapi, muda itu ibarat bibit mutiara yang harus dipendam, dirawat dan juga di jaga kesucianya, karena kilauanya akan menyilapkan semua mata. Oleh karena itu setiap pemuda harus meminta perlindungan Allah S.W.T agar masa itu tidak menjadi waktu yang sia-sia yang akan menjungkir balikkanya.

Rasulullah S.A.W pernah bersabda, “Masa muda adalah bagian dari kegilaan”. Karena kegilaan apakah yang tidak terjadi kecuali di waktu muda? Setiap waktu hanya di isi dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, kata asmara, cinta dan cemburu keluar dari mulutnya, dan tak terbayangkan kalau itu semua telah menjadi dzikir dan wiridnya. Nabi bersabda, “Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu”, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Oleh karena itu pemuda yang baik adalah ketika ia menepi, membelokkan diri dari jalan arus badai globalisasi dan westernisasi. Menepi bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan yang ia huni akan tetapi menepi itu untuk bermediasi, mencari jati diri, meminta kekuatan kepada sang ilahi dan akan datang pada saatnya untuk memperbaiki, ibarat kata seperti sebiji bibit yang tidak akan berkembang dan mengeluarkan buah-buahan jika ia tidak di tanam dan di pendam di tanah bumi.

Jadi, sungguh beruntung pemuda yang suka mengurung diri, menutup diri dari huru-hara dan hiruk-pikuknya kehidupan yang ada di luar sana, mengingatkan kita akan ungkapan mempesona seorang pemuda tampan Nabi Yusuf,

قَالَ رَبِّي السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِي إِلَيْهِ

Artinya : Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.

Dorongan dan ajakan kepada syahwat di masa muda mencapai pada puncaknya, karenanya kebanyakan awal penyimpangan itu terjadi di masa muda. Tapi tatkala seorang pemuda sanggup untuk meninggalkan semua syahwat yang Allah Ta’ala haramkan karena mengharap ridha Allah, maka dia sangat pantas mendapatkan keutamaan dari Allah S.W.T. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah (pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan)”. Dan di padang mahsyar nanti pemuda-pemuda yang selalu hanyut dalam ibadahnya kepada Allah S.W.T akan mendapatkan naungan darinya, Nabi bersabda,

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

1. Pemimpin yang adil.

2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.

3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.

5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.

6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.