Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Mawa'izh

Minggu, 25 Januari 2015 - M. Musthofa Kamal


Rekam Jejak Khazanah Islam di Cordova dan Granada (Bag. 2 / Akhir)

Setelah kita mengetahui bahwa Islam di Spanyol pernah mengalami masa-masa keemasan yang begitu terang benderang sinarnya, bahkan sampai ke pelosok penjuru dunia. Cukuplah Alfiyyah Ibnu Malik menjadi salah bukti konkrit kemajuan keilmuan dari Negara yang dikenal dengan nama Andalusia itu. Belum lagi muncul tokoh-tokoh beken dari sana macam Ibnu Bathutah yang melakukan perjalanan mengelilingi dunia bahkan sampai ke nusantara ini.

Lalu siapakah orang yang paling berjasa dibalik kekuasaan islam di Asbania?

Dahulu kala Daulah umawiyyah berkuasa di syiria kekuasaannya mencapai Lautan Atlantik di Maroko (Maghribil Aqsho), kemudian mereka menyerang spanyol melalui selat Jabal Thorq (Gibraltar) atau dikenal Jabal Thoriq bin Ziyad (saat ini dikuasai Inggris). Dinamai demikian karena Panglima Thoriq bin Ziyad yang berasal dari barbar inilah yang mempunyai andil besar dalam pengerahan tentara islam ke Spanyol. Dengan jumlah tentara yang tidak begitu banyak, sesaat setelah mendarat di tepi pantai Spanyol ia lalu membakar semua perahu yang mereka kendarai. Sebuah hal yang sangat tidak lazim memang. Akan tetapi ia kemudian memotivasi anak buahnya dengan sebuah cita-cita yang tinggi :“kamu tidak bisa kembali, harus kau berani mati, kembali akan tenggelam di lautan, tetapi maju mesti mendapat kemenangan”.

Inilah pertama kali ada orang bercita-cita maju mesti ora urung karuan hancur tapi mundur mesti hancur. Sebuah keyakinan yang berbuah manis pada akhirnya. Hanya saja jasa kaum barbari ini kurang begitu dikenang oleh Bangsa Arab.

Adapun Daulah Bani Umawiyyah sendiri merupakan binaan Sayyidina Utsman bin Affan, ia bekerjasama dengan Muawiyyah yang pada akhirnya kholifah pertama Bani Umawiyyah. Sayyidina Utsman bahkan sampai dibunuh oleh sekelompok orang, terbunuhnya beliau itu ada hubungannya dengan zionisme (yahudi) begitu pula dengan sekarang ini kebesaran katolik disini juga disebabkan karena timbul pengaruh faham zionisme. Setelah utsman terbunuh orang-orang memilih Sayyidina Ali, tetapi utsman memiliki kelompok yang disebut Abdi Syamsin yang mempunyai kekuatan besar di Negri Syam yang pada akhirnya menjadi awal dari Dinasti Bani Umawiyyah. Kita tidak boleh mengecilkan keberadaan Syam, karena di dalamnya terdapat Masjidil Aqho yang diberkahi kanan kirinya, Sebagaimana firman Allah SWT:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1) [الإسراء : 1]

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’ : 1)

Sangat disesalkan memang salah satu kebesaran islam di zaman dulu saat ini dikuasai penuh oleh katolik, bahkan orang islam yang ingin kesana secara rombongan pun izin masuknya dipersulit oleh pemerintahan setempat.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.