Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Ragam

Jumat, 07 November 2008 - Tim Mading Ishmah


Senja di Ambang Malam

Stok minyak tanah dipasaran semakin menipis sedangkan jumlah konsumen dimasyarakat sangat banyak mengakibatkan harga minyak tanah saat itu sangat mahal, keadaan ini seolah-olah mengambarkan keadaan seorang pemuda Bejo namanya , dimana ia menimba ilmu disebuah lembaga pendidikan di daerah yang kalau ditempuh perjalanan kurang lebih 7 jam dari rumahnya. Ketika itu kurang dua bulan ujian akhir, sedangkan tuntutan untuk naik ketingkat yang lebih atas salah satunya harus hafal ratusan bait-bait arab yang berupa nadzom-nadzom, sedangkan yang baru ia hafal masih sangat sedikit sekali.

Waktu mengalir terasa sangat cepat bagaikan air sungai berantas yang mengalir sangat deras. Dan terasa waktu tak jauh melewati keberangkatan si Bejo dari kampung halamannya yang membawa semangat hijrah, sebagaimana hijrahnya nabi Muhammad yang membawa perubahan dan perbaikan, padahal sudah enam bulan lamanya ia berada ditempat itu.Tapi angin kelalaian telah menerpa dan memutar keadaan si Bejo 180 ’(derajat) dari tujuan awal keberangkatannya.

Kini disemester kedua, kala harga minyak dipasaran sangat mahal karena persediaan minyak sedikit dan jumlah konsumen yang sangat banyak, si Bejo baru sadar dari kelalaian yang telah ia buat, ia merasa belum memperoleh dan bisa apa-apa. Kini kelalaian menenggelamkannya kedalam samudra kegelisahan yang mendalam yang menyesakkan dada, yang menciptakan kerisauan yang terus mendera hampa otaknya. Dalam keadaan seperti itu terasa setumpuk tanda Tanya membalut suaranya Si Bejo. Dalam kebisuan ia berusaha memutar otak mencari spirit(semangat), tiba-tiba ia ingat sebuah pepatah “Times Is Money� waktu adalah uang, ia merasa pepatah ini dapat mendobrak dan memotivasinya untuk kembali ketujuan awal ia berada disini.

Hari-hari selanjutnya Si Bejo pun berusaha untuk terus belajar, menghafal dan menghafal, tidak belajar ataupun menghafal sama sekali dalam sehari saja, itu berarti ia telah kehilangan uang, Karena “Times Is Moneyâ€?, ia berkomitment pada dirinya sendiri bahwa 1 menit adalah seribu, maka ketika ia tidak belajar ataupun menghafal dalam sehari saja ia kehilangan ?±600.000 (1000 x 60 menit x 10 jam (waktu untuk belajar dan menghafal dalam sehari) ).

Hari demi haripun terus berlalu tak terasa sebulan lagi ujian akhir akan dilaksanakan, itu berarti ia harus segera menyetorkan hafalan yang ratusan jumlah sebelum hari “H�, tapi lagi “Spirit Of Learn� satu menit seribu tak mampu mendobrak Si Bejo lebih keras dan lebih lagi untuk belajar dan menghafal, semangat Si Bejo seiring waktu kian menurun lagi.

Sore itu tanggal 30 Juli, setelah membaca Koran jawa post tentang seseorang yang telah berhasil mendaki puncak tertinggi di dunia yaitu gunung everes. Si Bejo pergi kesebuah kedai kopi, kedai itu kedai Oi namanya. Kedai yang mayoritas pelayannya adalah fans Iwan Fals, seorang penyanyi yang kritis dan melegenda. Di kedai itu setelah memesan kopi Si Bejo pun mencari tempat untuk duduk, dari kejauhan Si Bejo melihat seorang teman yang sudah agak lama ia tidak pernah bertemu. Rahmat namanya, ia asli orang cirebon tempat pejuang Fatahillah melawan para penjajah. Si Bejo pun menghampirinya menyapanya

“Mat gimana kabarmu “ tanyaku pada Si Ahmad. “Baik-baik saja seperti biasanya� dengan santainya Si Ahmad menjawabnya. “Oh ya Mad gimana bulan depan apa kamu sudah siap untuk ujian atau kamu mau nyerah dengan banyaknya tuntutan hafalan dari lembaga kita� Tanya Si Bejo sekali lagi

“ Terlalu hijau bagiku untuk menyerah� sejenak ia diam, dan melanjutkan perkataannya. “Seorang pejuag sejati takkan menyerah walaupun tubuhnya terbujur dimedan perang�dengan wajah yang berapi-api Si Ahmad menyampaikan kata-kata itu pada Si Bejo. Kata-katanya terasa menyegarkan semangat yang mulai menurun, Si Bejo pun tertegun sesaat Rahmad memang teman “The best� Si Bejo karena ia penyemangat dan pesaing Si Bejo yang menghantarkan kepuncak tertinggi bak gunung everest dan Si Bejo Pun balik memberikan tanggapan yang berbau stimulus.

“Mat detik ku adalah pisau yang menari-nari seiring waktu berputar, menari-nari diatas rasa didalam raga, meliuk-liuk kesana kemari menyayat-nyayat tiada henti, menusuk-nusuk ini dan itu pada jiwa yang diam, yang bersarang pada badan dan diam ku adalah kekalahan ku, rasa sakit , tidak sekarang , rasa pedih, rasa pilu pun demikian, tapi nanti kala saat yang mendebarkan itu dating dan terlewati, sesal tiada guna , merundung sedih apalagi, jadi sungguh malang nasib orang yang kepalang tanggung ngak mau diuntung, sudah diberi kesempatan malah disia-siakan� dengan nada mantap Si Bejo balik memberikan semangat. Dan Si Bejo pun terus ngobrol dengan Rahmad hingga azan maghrib berkumandang.

Kini kala malam melewati pertengahan Si Bejo pun mencari ruang kesunyiaan tuk hilangkan kegelisahan, duduk berjam-jam membaca bait-bait arab berulang-ulang berharap terulang didalam hati. Dan kalau siang Si Bejo pun mencari Surau-surau yang sepi tuk membaca bait-bait arab berulang-ulang, berjam-jam melelahkan memang tapi harus bagaimana lagi pada tuntutan yang ada tak dilakukan sungguh memilukan, dibiarkan malah menyakitkan, sungguh berat memang, tak kuasa tapi harus dipaksa, tapi tak apalah lebih baik sakit sekarang dari pada menderita penyesalan berkepanjangan tak berkesudahan, itulah ketetapan yang terbenam dibatin Si Bejo.

Waktu ujian kian semakin dekat hari demi hari terasa membakar diri Si Bejo. Kala lukisan hari yang lalu mulai diperhitungkan dan dipertanyakan, sudah ada hasilkah , sudah siapkah. Dan bumipun terus berputar memenuhi ketentuan Sang Ilahi, seiring itu Si Bejo pun terus menambah dan menggulang hafalan dan pelajarannya, bersamaan dengan berjalannya bumi menggelilingi matahari.

Siang itu tanggal 2 Agustus seperti biasannya Si Bejo mencari tempat yang tenang untuk membaca dan menggulang-ngulang hafalannya. Akhirnya Si Bejo menemukan sebuah surau dan ia pun mulai membaca berulang-ulang dan duduk berjam-jam, tiba kaki Si Bejo terasa kesemutan, badan terasa sakit semua, angin yang bertiup kencang dari arah pintu terasa menusuk-nusuk pori-pori Si Bejo menambah keadaan Si Bejo semakin ngak karuan, rasanya ketika itu Si Bejo menghentikan usaha dan jerih payahnya.

Tapi ucapan Rahmat terus meraung-raung ditelinga bahwa� Kesatria sejati tak akan menyerah walaupun tubuhnya terbujur dimedan perang� seolah-olah menggugah jiwa kesadaran Si Bejo. Bahwa dalam peperangan pastilah ada darah yang tumpah, ada rasa sakit, rasa pedih, rasa lelah, demikian pula dalam perjuangan Si Bejo mencapai cita-citanya pun tak akan jauh berbeda. Si Bejo pun teringat bahwa sebentar lagi akan ada perayaan pada tanggal 17 Agustus menyambut hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Darah Si Bejo pun menjadi mendidih kala ingat semangat 45 para pejuang-pejuang bangsa gagah berani melawan penjajah untuk memperoleh kemerdekaan yang selama 350 tahun telah dirampas dan selama itu pula kita hidup dalam ketakutan.

Pada waktu itu setiap langkah dan gerak perlawanan untuk mencapai untuk mencapai cita-cita perbaikan nasib, selalu kandas dan gagal. Pendidikan dari generasi-generasi ditelantarkan oleh pihak penguasa pada waktu itu supaya orang Indonesia menjadi semakin bodoh dan tanpa peradaban. Sejarah penderitaan bangsa Indonesia selama 350 tahun itu sungguh tidak ada taranya dibandingkan apa yang Si Bejo rasakan saat ini, karena itulah api samangat Si Bejo berkobar, jiwanya meraung-raung memberontak, cengkeraman dan jajahan rasa khawatir, rasa gelisah, rasa sakit , rasa lelah yang hendak kuasai raga, jiwa.

Si Bejo pun berteriak Allohu Akbar,Allohu Akbar, Allohu Akbar, penjajah pasti kalah, Aku pasti menang dan kemerdekaan kan kuperolelh dengan senyum diwajah dan bersarang dalam jiwa yang tenang.

Akhirnya hari penentuan itu datang dan 3 hari sebelum hari itu Si Bejo pun menyetorkan hafalannya, sebagaimana yang telah ditentukan oleh lembaga pendidikan dimana Si Bejo menimba ilmu untuk mengisi kemerdekan yang telah diberikan para pejuang bangsa yang gagah berani. Dan ketika hari ujian berlangsung Si Bejo pun malam harinya selalu belajar dengan metode SKS ( Sistem Kebut Semalem). Hingga akhirnya Si Bejo pun berhasil naik ketingkat lebih tinggi.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.