Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Mawa'izh

Selasa, 19 Agustus 2014 - M. Habibul Ardan


Rihlah Ibnu Bathuta di Bumi Indonesia

Ibnu Batutha termasuk salah seorang ulama’ yang besar pada masanya. Ia mempunyai keinginan untuk melakukan ekspedisi dan merantau ke daerah timur jawa. Akan tetapi ketika ia berlayar tekadnya itu tertunda dan ia berhenti di Aceh karena di sana sudah terdapat kerajaan Islam, terdapat rencong Aceh yang menjadi simbol kesultanan Islam di Nangroe Aceh.

Di kota itu Ibnu Bathuta sangat dihormati dan disambut hangat oleh para ulama’ dengan budaya dan ciri khas rakyat Aceh pada waktu itu. Hingga pada suatu saat, Ibnu Bathuta diberi jamuan khusus berupa asam yang dikelola dengan baik kemudian menjadi manisan yang lezat. Bertepatan pada waktu itu bangsa Arab jarang sekali yang mengenal makanan yang rasanya manis campur asam, mereka hanya tahu rasa manis dan asam yang terpisah. Bahkan istilah bahasa dan kalimatnya dalam bahasa arab juga belum ada.

Ketika merasakan manisan itu Ibnu Bathuta tertegun kagum dengan kelezatan rasanya. Kemudian Ibnu Bathuta bertanya kepada para Ulama’ di sekitarnya “makanan apa ini?”. “ini adalah kurma”, Jawab Ulama’ di sekitar Ibnu Bathuta. Dalam kamus Munjid maupun Muhith jika ada kata Asam itu pasti bahasa arabnya Tamar tetapi yang di maksud disitu bukan tamar arab melainkan Tamar Jawa. Adapun orang-orang arab pada zaman dahulu mengenal jawa itu tidak hanya pada pulau yang masyhur ini melainkan seluruh Asia Tenggara juga mereka kenal sebagai jawa.

Karena masih merasa penasaran Ibnu Bathuta bertanya lagi kepada para Ulama’ tadi “Tamar apa ini? kami di arab memakan tamar yang hanya mempunyai rasa manis tetapi di sini saya baru tahu ada tamar yang rasanya manis dan asam”. Akhirnya ulama’-ulama itu menjawab “Ini adalah tamar jawa”. Mendengar jawaban itu Ibnu Bathuta merasa heran ternyata di tanah ini ada pohon tamar yang rasanya berbeda.

Tamar itu adalah itu adalah lambang dan simbol keramaian agama Islam . Allah S.W.T berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” QS. Ibrahim : 24

Kalimah yang baik itu adalah Islam yang diumpamakan seperti pohon yang baik, sedangkan pohon yang baik itu adalah kurma. Seketika itu langsung terbesit di dalam hati Ibnu Bathuta bahwa suatu saat nanti agama Islam ini akan ramai di bumi Indonesia, tetapi tamarnya atau simbol keramaianya bukan tamar arab melainkan tamar jawa.

Oleh karena itu bisa dipahami bahwa Islam di Indonesia itu tidak sama dengan Islam yang ada di Arab, penerapanya pasti berbeda-beda menurut budaya atau tsaqofah yang ada. Tetapi, meskipun berbeda-beda pada hakikatnya Islam itu sama, yaitu sama-sama dari Rasulullah S.A.W.

Catatan : Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair di Padurenan, Gebog, Kudus pada tahun 2007.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.