Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Ragam

Rabu, 14 Mei 2014 - M. Habibul Ardan


Masjid, Simbol Persatuan Umat Islam

Ukhuwah Islamiyah merupakan sebagian dari aturan agama islam yang menjalar pada persatuan umat Islam. Oleh karena itu, Rasulullah S.A.W memperkenankan para sahabatnya untuk saling mencintai dan mengasihi bak seorang yang bersaudara. Rasulullah bersabda,

المسلم أخ المسلم

Artinya : “Orang Islam itu bersaudara”.

Akan tetapi, semangat persaudaraan dan persatuan ini tidak akan bisa mencapai pada puncaknya jika tidak ada sebuah tempat yang menjadi sarana bagi mereka untuk bertemu setiap hari dalam satu barisan menghadap Allah S.W.T.

Ketika pertama kali Rasulullah menapakkan kakinya yang mulia di tanah madinah sebuah langkah yang pertama kali beliau lakukan adalah membangun masjid. Masjid itu beliau dirikan di atas tanah yang sebelumnya merupakan tempat pengeringan kurma yang terdapat beberapa kuburan kaum musyrikin Madinah dan tempat pepohonan kurma. Tetapi, sebelum masjid itu di bangun beliau memberi komando kepada para sahabat untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut serta menebang pepohonan kurmanya.

Setelah itu, para sahabat pun mulai bergegas membangun masjid. Nabi sendiri juga ikut membangunya, memindah batu-batu bata dengan tanganya yang suci, sehingga pemandangan tersebut membuat para sahabat lebih bersemangat dalam bekerja.

Masjid itu berbentuk persegi dengan luas dan panjangnya kira-kira mencapai 100 dzira’ yang beliau hadapkan kiblatnya yang pertama kali ke arah Baitul Maqdis. Tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang pohon kurma yang kuat dan atap-atapnya ditutupi dengan pelepah-pelepah pohon kurma. Sedangkan pada bagian alasnya dihamparkan debu dan kerikil-kerikil kecil yang kemudian di atasnya dibentangkan alas tikar.

Itulah langkah pertama Rasulullah untuk merealisasikan persatuan dan persaudaraan islam dan menghimpun kekuatan baru untuk umat islam. Di dalam masjid para sahabat Rasulullah berkumpul dengan hati mereka yang selalu tergantung pada Allah S.W.T. di dalamnya mereka tidak mengenal perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara golongan berdarah biru dan masyarakat biasa, semuanya sama, semuanya berhak menempati posisi shaf terdepan dan menikmati kebersamaan mereka dengan sang Rasul. Karena pada hakikatnya perbedaan mereka hanyalah terletak pada ketaqwaan mereka kepada Allah S.W.T. Allah S.W.T berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al-Hujurat : 13.

Persatuan umat islam bisa terkikis karena adanya perbedaan, apalagi sahabat Nabi tidak hanya berasal dari suku Qurays saja bahkan ada yang berasal dari Abysinnia, Rum dan Persia. Namun, Rasulullah telah mempersatukan mereka antara Muhajirin dan Anshar, antara suku Aus dan Khazraj yang sebelum kedatangan Nabi mereka saling beraksi menumpahkan darah. Perbedaan-perbedaan itu beliau hapus dengan adanya persamaan dan keadilan serta syari’at dan hukum-hukum Allah S.W.T yang bernaung dalam sebuah bangunan Masjid.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.