Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Kolom

Minggu, 01 Desember 2013 - M. Toyyibin


Say, No Liberal!

Liberalisme merupakan sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

Dalam lapangan, kaum liberal yang digembongi oleh Ulil Abshor abdala (yang ngaku alumni Al-Anwar) selalu membikin ulah atas syariat Islam yang sudah pakem. Mereka membuat Fiqih sendiri untuk kebiadaban nafsunya. Katanya untuk kebebasan berfikir menuju yang lebih baik. Padahal yang ada justru yang terjadi sebaliknya. Mereka menghancurkan syariat Islam yang sudah ditata dengan baik. Kebanyakan fiqih made in Ulil Abshor dan antek-anteknya telah menabrak al-Quran dan al-Hadist.

Kalau mereka menyangkal bahwa sensasinya itu untuk masalah-masalah vital yang perlu solusinya? Seperti, memperbolehkan nikah beda agama, alkohol halal dan gender, maka saya kira itu sudah dipecahkan oleh ulama terdahulu yang sesuai dengan nash al-Quran dan Hadist.

Pokok-pokok Liberalisme

Ada tiga hal yang mendasar dari Ideolog Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Di bawah ini, adalah nilai-nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi:

1. Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being). Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.

2. Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, di mana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the Others Reason Equally.)

3. Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or The Governed)

4. Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi di mana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan social.

5. Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual)

6. Negara hanyalah alat (The State is Instrument). Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.

7. Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogatism). Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah. (Wikipedia)

Dari dasar-dasar pemikiran di atas, maka bisa dambil kesimpulan mereka kaum liberal telah mengampanyekan kebebasan berfikir ke segala ranah meskipun bukan jobnya. Hal ini sangat berbahaya. Baik untuk kelangsungan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. (Say, No Liberal!)



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.