Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Rabu, 13 November 2013 - KH Ahmad Wafi


Beribadah Hanya Karena Allah

((متى طلبت عوضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفي المريب وجدان السلامة ))

“Jika engkau meminta ganti/ imbalan kepada Allah swt atas amal ibadah yang telah engkau lakukan, maka Allah akan menuntutmu apakah engkau telah melakukan amal tersebut dengan benar dan sempurna. Jika seseorang ragu-ragu apakah ia telah melakukan ibadah dengan sempurna ataukah tidak ?, maka cukuplah ia memperoleh imbalan berupa keselamatan dari siksa Allah yang Maha Adil”.

Allah menciptakan manusia di dunia ini semata-mata hanya untuk menyembah-Nya dan memurnikan amal kebaikan hanya karena-Nya. Allah swt melarang hamba-hamba-Nya untuk menyekutukan-Nya dengan perkara apa saja yang bisa menjadi pendorong untuk melakukan amal kebaikan.

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. adzariyat:56)

وما أمروا إلا ليعبدواالله مخلصين له الدين

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah swt dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”.(QS. Al-Bayyinah : 5)

Lurus berarti jauh dari syirik (menyekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

A. Ikhlas

Dari jumlah kaum muslimin yang begitu banyak, kemungkinan mayoritas diantara mereka dan juga orang-orang yang hanya mengaku muslim (islam KTP) sama sekali tidak mengetahui makna sebenarnya dari ikhlas karena Allah. Yang tergambar dalam pikiran mereka adalah ketika ibadah dan amal seorang muslim telah terhindar dari riya’, maka hal itulah yang disebut puncak ikhlas karena Allah swt. Padahal kalau kita mau meneliti firman Allah berikut ini, maka sesungguhnya masalah ikhlas adalah sesuatu yang sangat dalam dan amat rumit.

فمن كان يرجوالقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعبادة ربه أحدا

.

" Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS> Al-Kahfi: 110)

Kata “أحد” dalam ayat tersebut tidak hanya khusus mencakup orang-orang yang berakal, namun sebenarnya “أحد” adalah sebuah kata yang umum dan bisa memasukkan segala sesuatu apapun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Maka seseorang yang melakukan ibadah dengan tujuan mendekat kepada Allah swt namun disertai tujuan-tujuan lain semisal mengharapkan harta, kedudukan, ketenaran ataupun menginginkan kesehatan jasmani sebagaimana orang yang sholat dengan tujuan mendekat kepada Allah swt melakukan olahraga jasmaniah, maka orang tersebut telah menghilangkan makna ikhlas dari ibadah yang dilakukannya.

Apakah terdapat perbedaan antara sesuatu yang menjadi sekutu bagi Allah swt berupa harta, kesehatan jasmani ataupun berupa pahala-pahala yang telah dijanjikan oleh Allah ? Jawabannya adalah sama saja. Jika kita mengatakan bahwasanya ikhlas itu adalah memurnikan amal hanya karena Allah semata, maka sesuatu yang mencampurinya baik berupa perkara duniawi ataupun ukhrowi merupakan hal-hal yang merusak dan bahkan bisa menghilangkan makna ikhlas karena Allah swt yang berupa perkara-perkara dunia, dengan sekutu yang berupa perkara-perkara akhirat, hanya merupakan pengaburan dari sesuatu yang sufah jelas, sama sekali tak ada dalil yang menunjukkan. Untuk memperjelas hal ini, maka kita bisa melihat dua peristiwa berikut :

1). Orang yang melakukan sholat jamaah dengan tujuan memperoleh ridho Allah swt disertai dengan tujuan supaya dipuji oleh seseorang terhormat yang hadir ditempat sholat jamaah tersebut.

2). Orang yang melakukan sholat jamaah dengan tujuan memperoleh ridho Allah bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan nikmat surga dan terhindar dari siksa neraka.

Dua orang dalam kedua contoh tersebut sama-sama tergolong dalam kategori orang-orang yang jauh dari ikhlas. Mengapa ? Dalam kasus pertama, orang tersebut tidak akan melakukan jamaah seandainya tidak ada orang terhormat disitu. Dalam peristiwa yang kedua, jika tidak ada surga dan neraka maka orang tersebut tidak akan melakukan shalat jamaah.

Secara sederhana kita bisa menyimpulkan bahwa jika hilangnya suatau hal yang dijadikan seseorang sebagai sekutu Allah menyebabkan kecintaannya terhadap suatu ibadah semakin lemah atau mengurangi ketekunannya dalam sebuah ibadah , maka hal ini menunjukkan hilangnya makna ikhlas dari ibadah yang dilakukannya.

Untuk menumbuhkan ikhlas dalam hati kita, pertama-tama kita harus menyadari dan mengetahui bahwa kita hanyalah seorang hamba sahaya yang tidak memiliki apa-apa. Kita tercipta hanya untuk menghamba kepada Allah semata. Kemudian kita harus mengerti dan meyakini bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Agung, Maha Sempurna dan Suci dari kekurangan. Allah adalah pemilik dunia seisinya dan berhak melakukan apa saja atas apa yang dimiliki-Nya. Jika kita tahu dan benar-benar yakin akan hal tersebut, maka Insya Allah kita akan mampu melakukan ibadah hanya karena Allah swt.

B. Imbalan (‘iwadh)

Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, mungkin sempat terbesit dalam pikiran kita tentang ayat-ayat Allah yang menerangkan bahwa surga adalah balasan atas amal-amal ibadah yang dilakukan umat islam di dunia. Apakah terdapat pertentangan diantara keduanya ?

أدخلواالجنة بما كنتم تعملون

“Masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan."(QS. An-Nahl:32)

وجزاهم بما صبروا جنة وحريرا [ الإنسان: 12]

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surge dan (pakaian) sutera”.

Memang Allah swt telah memutuskan bahwa surga adalah balasan atas amal-amal sholeh menusia. Namun kita harus tahu bahwa keputusan ini terjadi secara sepihak, tidak terjadi dalam sebuah akad yang dilangsungkan oleh Allah swt dan manusia. Karena manusia hanyalah hamba sahaya yang dimiliki Allah, maka tidak layak untuk melaksanakan akad dengan Allah swt yang menghasilkan keputusan sebagaimana tersebut diatas. Jadi, antara ayat-ayat Allah tersebut dengan penjelasan-penjelasan sebelumnya samasekali tidak ada pertentangan.

Kemudian Ibnu ‘Athaillah mengingatkan kepada kita semua, bahwa ikhlas karena Allah tidak mungkin berkumpul bersama sebuah tujuan untuk memperoleh imbalan dari Allah swt. Karena ikhlas itu menuntut kita untuk melakukan amal baik karena Allah saja. Jika kita masih menyertakan sebuah tujuan apapun selain karena Allah, bersama dengan tujuan karena Allah, maka itu namanya bukan murni karena Allah.

Kita juga bisa menemukan sebuah rahasia dalam perkataan Ibnu ‘Athaillah, mengapa menggunakan kata العوض bukan kata الثواب atau semisalnya. العوض adalah sebuah ganti atau imbalan yang diperoleh setelah seseorang melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan الثواب adalah kemuliaan yang disiapkan oleh Allah swt bagi hamba-hamba-Nya yang telah berbuat baik didunia, sebagai bukti kebaikan dan anugerah Allah ‘Azza wa Jalla, kepada mereka.

Meskipun dalam Al Qur’an Allah swt menamakan الثواب dengan kata الجزاء (balasan) ataupun أجر (upah), namun kita harus tahu bahwa penamaan ini hanya secara sepihak dari Allah saja, sebagai bentuk cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh, sebagai pujian atas ibadah dan amal baik yang telah mereka lakukan. Tak layak kita mengatakan bahwa surga atau الثواب adalah imbalan (العوض) yang menjadi hak ats amal-amal baik yang kita lakukan, sehingga Allah menyerahkannya pada kita. Seharusnya kita mengetahui bahwa Allah swt memberikan kemuliaan-kemuliaan yang dinamai imbalan tersebut, atas dasar anugerah dan kebaikan-Nya, bukan karena banyak sedikitnya amal baik yang kita lakukan. Maksudnya, ketika seorang hamba menanti pahala dari Allah swt dan meyakini bahwasanya Allah memberikan pahala itu karena kebaikan dan anugerah-Nya, maka hal ini tidak mengurangi makna ikhlas, bahkan ini merupakan taufiq dari Allah swt dan menjadi sebuah konsekuensi dari ubudiyyah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikianlah mengapa Ibnu ‘Atahillah menggunakan kata العوض, karena orang yang meminta عوض (imbalan) adalah orang yang tealah yakin bahwa ia telah memberikan sebuah manfaat bagi orang lain, sehingga ia berhak atas imbalan teresebut. Sedangkan orang yang memohon pahala (الثواب) adalah orang yang mengakui kefakirannya dan selalu membutuhkan karunia dan anugerah Allah swt.

Selanjutnya Ibnu ‘Athaillah menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang telah terlanjur mencampur adukkan tujuan karena Allah dengan tujuan yang lain, yaitu mereka harus memohon keselamatan dari siksa Allah atas syirik khafi (tersembunyi) yang mereka biarkan menyelinap dalam hati mereka.

Sebenarnya jika kita mau meneliti golongan hamba-hamba yang shaleh atau bahkan golongan hamba-hamba yang sembrono, maka kita tidak akan menemukan seseorang yang tenang dan benar-benar yakin bahwa ia telah selamat dari syirik khafi. Dan jika seorang hamba semakin dekat kepada Allah, maka ia semakin memahami keagungan dan kebesaran Allah swt, sehingga ia makin meyakini kekurangannya dalam penghambaannya kepada Allah, serta merasa hina dina disisi Allah swt. Sebagaimana firman Allah berikut ini :

والذين يؤتون ما ءاتوا وقلوبهم وجلة أنهم إلى ربهم راجعون

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka". (QS. Al-Mu'minun:60)

Maksudnya : karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Allah swt untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau saja pemberian-pemberian (shadaqah-shadaqah) yang mereka berikan dan amal ibadah yang mereka kerjakan tidak diterima Allah swt dan dikembalikan kepada mereka, disebabkan tujuan-tujuanyang mencampurinya.

Hamba-hamba yang dimaksud dalam hal tersebut adalah :

إن الذين هم من خشية ربهم مشفقون. والذين هم بأيــات ربهم يؤمنون. والذين هم بربهم لا يشركـــون

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun)”(QS. Al-Mu'minun: 57-59).

Maka marilah kita lihat keadaan dan amal-amal dari hamba-hamba dalam ayat tersebut, kemudian kita teliti bagaimana amal dan keadaan diri kita sendiri. Apakah kita berhak meyakini bahwa dalam diri kita telah terdapat sifat-sifat yang sesuai dengan sifat-sifat hamba dalam ayat diatas ?

Jika kita menjawab ya, maka ketahuilah bahwa keadaan kita adalah lebih buruk daripada mereka orang-orang ahli maksiat yang merasa hina atas apa yang mereka lakukan. Karena seorang ahli maksiat yang merasa hina dan takut atas ancaman Allah swt, bisa jadi hal itu menjadi penolongnya kelak.adapun orang yang telah yakin bahwa ia telah mencapai derajat orang yang shaleh maka sangat besar dimungkinkan bahwa orang tersebut jatuh dan hancur di mata Allah swt.

Seandainya kita benar-benar telah mencapai derajat hamba-hamba shaleh tersebut, pasti hati kita selalu dihinggapi perasaan takut karena kekurangan-kekurangan yang kita lakukan dalam pengabdian kepada-Nya, takut akan dileburkan amal yang kita lakukan karena tujuan-tujuan lain yang mencampurinya. Karena memang seperti itulah sifat-sifat hamba shaleh yang disebutkan dalam ayat ke-60 surat al Mu’minun di atas.

C. Kesimpulan

Ketika seorang hamba telah meningkat kedudukannya mencapai derajat shalihin dan shiddiqin, maka di dalam hatinya tidak akan terdapat perasaan yakin bahwa amal ibadah yang ia lakukan telah selamat dan sempurna, dalam arti ia berhak menuntut imbalan (العوض) kepada Allah atas amalnya. Karena keyakinan tersebut adalah dalil bahwa dalam hatinya terdapat syirik khafi.

Namun bukan berarti seorang hamba tidak boleh meminta pahala (الثواب) kepada Allah swt. Bahkan selayaknya seorang hamba harus selalu menunjukkan kefakirannya kepada Allah, selalu memohon ampunan dan kesehatan, senantiasa meminta perkara-perkara yang menyebabkan ia mampu memperbaiki dunia dan akhirtnya serta selalu memohon ridha dan surga-Nya atas dasar karunia dan anugera-Nya.

Marilah kita berdoa, semoga Allah memperlihatkan kepada kita akan kesalahan dan kekurangan kita serta menunjukkan banyaknya anugerah dan karunia Allah Yang Maha Agung, sehingga kita selalu memohon pahala (الثواب) kepada-Nya atas dasar kebaikan dan anugerah-Nya, bukan atas dasar imbalan dan hak harus kita dapatkan.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.