Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Ragam

Selasa, 05 November 2013 - M. Habibul Ardan


Hikmah Diharamkanya Babi

"Sesunguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih tidak atas nama Allah; namun barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Penyayang."(Qs. an-Nahl 16:115)

Pasti akan timbul pertanyaan bagi mereka, para konsumen hewan yang berwarna kemerah-merahan ini mengapa di dalam agama islam babi itu haram. Menurut selera lidah mereka babi itu lezat rasanya, membuat perut mereka kenyang bahkan ketagihan. Di Negara-negara nonmuslim terutama di Negara Cina babi diternak seperti layaknya orang-orang muslim Indonesia menternak sapi dan kambing. Aktifitas kehidupan mereka juga dekat dengan hewan yang satu ini dan tidak ada rasa jijik dan gigu meskipun riset kedokteran secara umum telah membuktikan bahwa di dalam tubuh babi itu terdapat banyak kuman dan cacing pita yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Ada sebuah cerita yang unik tentang babi yang haram ini. Suatu ketika ada seorang ulama yang sedang berkunjung di salah satu negara Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan pecinta daging babi untuk meninjau dan melihat perkembangan agama islam di sana. Di tengah-tengah kesibukanya ulama tadi berjumpa dengan beberapa pendeta Kristen yang sedang melakukan aktifitas mereka. Mereka kemudian bertemu dan berbincang-bincang serta berdialog tentang tujuan dan kegiatan mereka masing-masing.

Di dalam Al-Qur’an dan Hadist secara ceplos menjelaskan kalau babi itu haram hukumnya untuk dimakan. di dalam kitab Leviticus atau kitab Imamat 11:7 (Imamat,) yaitu salah satu bagian dari kitab Perjanjian Lama yang diimani dan dipercaya oleh orang-orang Yahudi dan Kristen, kitab Ulangan 14:8 dan di Yesaya 66:17 juga menerangkan bahwasanya babi itu haram untuk di makan. Namun mengapa mereka justru malah mengkonsumsi daging hewan ini?. Semua kasus ini tidak jauh dari pentahrifan dan penafsiran yang keliru dari ayat-ayat kitab tersebut seiring dengan berjalanya waktu.

Lanjut dalam cerita, di tengah-tengah perbincangan salah seorang pendeta bertanya kepada ulama dengan nada yang lantang,

“Hai ulama’ kenapa dalam agama islam babi itu hukumnya haram untuk dimakan, padahal babi itu rasanya lezat dan mengenyangkan perut?”. Tanya pendeta.

Kemudian ulama tadi hanya melemparkan senyum dan berkata,

“Baiklah kalau kalian ingin tahu alasanya datanglah besok pagi di tempat ini dan jangan lupa bawalah tiga ekor ayam, dua ekor jantan dan satu ekor betina dan bawalah juga tiga ekor babi, dua ekor jantan dan yang satu ekor betina”.

Pendeta-pendeta itupun sontak ketawa sombong dan saling bertanya satu sama lain tentang maksud dari orang muslim ini. Akan tetapi, merekapun akhirnya juga tetap penasaran dengan apa yang disyaratkan oleh ulama tersebut. Sebenarnya ulama itu ingin menunjukkan dalil dan tendensi dari kitab-kitab mereka sendiri untuk melawan pertanyaan itu. Tapi dalam kasus-kasus sebelumnya, meskipun mereka diperlihatkan bukti pada kitab mereka sendiri, mereka tetap mengelak disamping kitab mereka juga sudah mengalami perombakan.

Hari pun sudah berganti nama, para pendeta harap-harap cemas menunggu maksud dari perintah ulama’ tadi. Akhirnya mereka berkumpul di tengah-tengah kerumunan masyarakat setempat untuk membuktikan maksud dari omongan ulama’ yang terlihat tenang itu.

“ Lalu apa yang harus kami lakukan dengan hewan-hewan ini?”. Tanya salah satu pendeta.

“ Masukkanlah tiga ekor ayam ini, yang dua ekor jantan dan satu ekor betina itu dalam satu kandang kemudian amatilah!”. Jawab ulama’.

Merekapun langsung menuruti perintah itu dan mengamati tingkah laku tiga ekor ayam tadi. Ternyata kedua pejantan ayam tangguh itu berkelahi dan saling membunuh satu sama lain untuk memperebutkan seekor ayam betina. Seolah-olah ada rasa cemburu dari kedua pejantan tangguh itu.

“ Kalian sudah mengamati kan.... Sekarang masukkanlah tiga ekor babi, yang dua ekor jantan dan satu ekor betina itu dalam satu kandang dan amatilah!”. Lanjut ulama’.

Kemudian mereka melaksanakan dan mengamati ketiga hewan najis itu. Dan sangat mengejutkan! ternyata kedua pejantan babi itu tidak berkelahi untuk memperebutkan si betina seperti dua ekor pejantan ayam tadi, justru mereka malah saling bantu-membantu untuk memuaskan birahi mereka masing-masing tanpa ada rasa cemburu di antara keduanya.

Akhirnya, pendeta-pendeta itu merasa malu terhadap ulama yang jenius tersebut dan mereka menjadi sadar mengapa babi itu haram. Disamping dapat menimbulkan efek buruk terhadap tubuh juga dapat menumbuhkan sifat yang buruk pada watak dan tingkah laku manusia. Kita bisa melihat bagaimana keadaan muda-mudi di eropa sekarang ini seperti sex bebas, sex party, french kiss dll. sudah seperti hal yang biasa dan tidak tabu lagi. Orang tua tidak lagi khawatir ketika anak perempuanya dibawa laki-laki yang bukan mahramnya, suami juga tidak lagi cemburu ketika istrinya berjalan dengan laki-laki lain. itu semua karena makanan mereka yang haram dan dapat menimbulkan efek samping yang buruk pada tingkah laku mereka.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.