Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Minggu, 27 Oktober 2013 - KH Ahmad Wafi


Mengobati Hati yang Buta

((العجب كل العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و يطلب ما لا بقاء له معه (فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التى في الصدور) ))

“Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)

1. Penjelasan

Allah SWT adalah Dzat yang tak akan lepas/terpisah dari seorang manusia semenjak pertama kali ada hingga ia sampai ke dalam syurga atau malah kekal di dalam neraka. Baik ia kafir, fasik ataupun mukmin. Baik ia hidup di belahan bumi bagian barat maupun timur. Dalam semua keadaan, Allah SWT pasti selalu bersamanya. Sama saja apakah ia hidup di dunia fana ini ataupun menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Namun kebersamaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan seorang manusia tidak terbatasi oleh posisi atau tempat tertentu dan tentunya tidak boleh di bayangkan dengan penggambaran-penggambaran yang menunjukkan keserupaan Allah SWT dengan makhluk. Makna kebersamaan Allah SWT adalah bersama dengan ilmu, perlindungan dan pengaturan.

Allah SWT adalah satu-satunya Khaliq sedangkan selain Allah adalah makhluk. Apabila manusia hidup dengan dikelilingi berbagai macam makhluk, maka hal itu hanyalah sementara dan pasti segera meninggalkan atau ditinggalkannya. Mungkin ia akan mati lebih dahulu sehingga harus meninggalkannya dan mungkin juga makhluk yang melingkupinya musnah/pergi hingga ia berada jauh dari makhluk tersebut atau bahkan hilang sama sekali.

Tabiat manusia biasanya akan menyukai rumah yang telah ia bangun, perkakas-perkakas yang ia jadikan hiasan, anak dan istri, harta benda yang telah ia usahakan, pangkat yang ia miliki atau ketenaran yang ia nikmati dan sebagainya. Ia hanya melihat sebab dan media secara lahiriah tanpa menyadari adanya Dzat yang menjadikan sebab-sebab tersebut.

Ia memandang hujan yang turun dari langit kemudian berterima kasih kepada langit serta menceritakan agungnya kasih sayang langit. Saat melihat bumi yang menghijau oleh pepohonan atau mata air yang melimpah, maka hal itu hanya menggerakkan perasaannya untuk bersyukur kepada alam.

Mayoritas manusia beranggapan akan menjalani kehidupan yang panjang di dunia fana ini. Mereka mengumpulkan harta kekayaan dan menumpuk-numpuknya. Selalu mencari tambahan tanpa pernah puas karena terlanjur tergila-gila kepadanya. Mereka menjalin persahabatan dan koneksi-koneksi dengan mengatasnamakan sebagai perintah-perintah ketuhanan lalu berusaha mengabadikannya, namun sebenarnya alasan mereka hanyalah karena nafsu syahwat dan kenikmatan-kenikmatan yang ingin mereka rasakan selama-lamanya.

Akan tetapi, apakah hukum-hukum alam akan mengijinkan keabadian bayangan-bayangan mereka? Ataukah alam akan membiarkan ia hidup abadi bersama kesenangan-kesenangan yang mereka inginkan?

Sebenarnya Allah SWT telah menjadikan alam ini berbicara dan bahkan semua perkara yang ada di dunia ini berkata-kata melontarkan jawaban pada pertanyaan di atas. Hal itu bisa kita saksikan ketika Allah SWT menciptakan kebiasaan-kebiasaan alami yang tetap dan tidak berubah-ubah. Fase-fase wujud kehidupan segala sesuatu pasti tersusun dari permulaan yang lemah, semakin bertambah kekuatannya sedikit demi sedikit hingga mencapai puncaknya kemudian kembali lemah, layu, pudar dan akan hilang sama sekali.

Ini merupakan hukum alam yang selalu melekat kepada segala sesuatu di alam semesta, mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, bunga-bunga yang bermekaran, hingga bintang-bintang dan bahkan bumi yang kita pijak setiap hari. Contoh yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sebatang pohon. Bermula dari sebiji benih yang merekah, berubah menjadi tumbuhan kecil lalu berkembang secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Kemudian dengan segera akan mengalami fase-fase semakin lemah hingga layu dan akhirnya mati.

Kisah yang sama akan kita jumpai dalam perkembangan hidup bunga-bunga yang tumbuh pada musim tertentu, tumbuh dan berkembang kemudian layu dan hilang. Begitu juga matahari yang mengeluarkan sinar lemah di pagi hari lalu semakin terang hingga mencapai puncaknya pada siang hari. Kemudian kekuatan sinarnya akan semakin lemah hingga persis sebagaimana keadaannya di waktu terbit lalu akhirnya hilang dari pandangan.

Semua fenomena ala mini memberitahukan kepada kita tentang akhir yang akan menimpa segala sesuatu, yaitu musnah dan sirna. Tak lain agar kita tidak tertipu dan terperdaya oleh kekuatan dan kejayaan yang berada di depan kedua mata dengan iming-iming kebahagiaan yang tersimpan di balik semuanya.

2. Dalil

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid: 20)

Pemandangan yang semula tampak indah di depan mata lalu akhirnya layu, lemah kemudian hilang seperti dalam ayat di atas akan selalu berlaku dalam setiap kesenangan dan kemewahan duniawi yang kerap kali membutakan manusia. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Akal dan logika normal akan berkata, “Eratkanlah hubungan dan ikatanmu dengan Dzat yang menciptakan semua makhluk, yang memiliki kehendak dan kuasa serta mengatur dan menjaga semesta raya. Pergunakanlah apa yang kau butuhkan di dunia ini sebagai pinjaman yang wajib di kembalikan dan ingatlah bahwa apa yang kau lihat ini hanyalah substansi yang pasti akan segera hancur dan sirna.

Dengan begitu engkau akan melihat dan menerima perkara-perkara yang ada di dunia ini secara lahir, namun hatimu hanya berhubungan dan berpegangan kepada Dzat yang menciptakannya. Jika masanya selesai dan waktu perpisahan tiba, maka engkau akan tetap bersama Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna. Saat sebuah media yang ada dalam kekuasaanmu sirna, engkau tak akan bingung mencari sebab lain sebagai pegangan yang nantinya pun berakhir dengan kisah yang sama. Seperti seseorang yang berdiri di atas gumpalan salju, saat matahari memanasi bumi, salju akan melelh dan musnah. Akhirnya ia berpijak kepada bumi tanpa menyadari bahwa keadaan bumi akhirnya juga persis seperti salju. Dengan berpegang erat kepada Dzat yang menciptakan sebab, maka hilangnya perkara-perkara yang ada di hadapanmu tak akan berpengaruh apa-apa bagimu. Menjauhnya perantara tak akan berimbas buruk kepada kehidupanmu.

Setelah itu, saat episode kematian harus engkau jalani, maka takkan ada rasa sedih atau putus asa atas perpisahanmu dengan dunia. Hal itu karena engkau tahu bahwa dunia ini hanyalah perantara yang mengantarkanmu menuju kehidupan yang lebih mulia. Kematian juga tidak pernah memisahkanmu dengan teman yang selalu bersamamu dan menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupmu. Maut yang mendatangimu tidaklah memutuskan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu hubungan yang telah engkau jalin selama hidup di dunia fana.

Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memberi pengaruh, maka ia pastinya akan mengalami kehidupan alam barzakh yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di bumi. Kalau ia mengalami perubahan dan pergerakan di dunia dengan tetap selalu bersama Allah Yang Maha Pencipta, maka ketika ia sendirian terkubur dalam perut bumi pastinya juga bersama dengan Allah SWT. Bahkan ia akan lebih senang karena ia telah terpisah dari materi-materi dunia yang membingungkan dan menyesatkan.

Saat hari kiamat tiba dan nyawa-nyawa dikembalikan ke dalam jasadnya masing-masing, lalu semua manusia digiring ke hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia semakin bertambah gembira dan merasa bahagia. Bagaimana tidak? Ia telah menjalani tahap demi tahap kehidupan selama ini tanpa pernah terlepas dari Allah SWT. Sedangkan hari ini adalah waktunya untuk menghadap Allah SWT. Pasti ia akan merasa lebih bahagia dan hubungannya ikatannya akan semakin erat terjalin bersama Allah SWT.

3. Misteri keajaiban

Dengan demikian, layak sekali kalau sekarang ini kita bersama Ibnu ‘Athaillah terheran-heran dan terkagum-kagum kepada orang-orang yang berlari ingin meninggalkan Tuhan yang tak mungkin kekal bersamanya. Hal ini terjadi karena mereka hanya melihat dan mempergunakan media dan perantara secara lahiriah, berpegangan serta mengandalkan kemewahan yang mereka nikmati, namun mereka lupa dan lalai kepada Tuhan yang menganugerahkan segala kenikmatan tersebut. Bahkan mungkin juga mereka mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kekaguman ini sangat wajar karena sebenarnya akal dan mata batin orang tersebut telah mengetahui bahwa media yang mereka nikmati dan mereka pergunakan adalah sesuatu yang pasti sirna dan tak akan abadi. Logika mereka juga mengerti bahwa dalam sebab-sebab lahiriah itu telah melekat tabiat rusak dan musnah.

Yang lebih mengherankan, setiap hari ia melihat sirnanya kenikmatan-kenikmatan duniawi itu dan ia juga menyaksikan hilang atau menjauhnya kesenangan meninggalkan orang-orang yang bergantung kepada materi-materi tersebut. Semua itu benar-benar meninggalkan mereka atau sebaliknya malah mereka sendiri yang meninggalkan segalanya. Hanya satu yang tak pernah lepas dari mereka, yaitu Tuhan yang selalu menyertai sepanjang hidup yang mereka jalani. Dengan kenyataan seperti ini, ternyata ia masih mengandalkan dunia yang ada di depan mata dan bahkan berlari menjauhi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Selain fakta dan kenyataan yang sangat jelas tersebut, ia sebenarnya sangat sering mendengar nasehat serta peringatan-peringatan tentang keburukan dan bahaya dunia. Anehnya ia masih saja berpijak kepada sebongkah salju tanpa peduli apakah ia nantinya akan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, ketika salju tersebut akhirnya leleh dan mencair.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.”(QS. An Nur: 39)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al Kahfi: 46)

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maksudnya, hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.”(QS. Al Qashash: 60)

4. Koneksi yang serasi

Menjalin hubungan dengan Allah SWT bukanlah berarti meninggalkan materi-meteri dunia secara total. Hal itu karena dunia ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai anugerah yang disediakan untuk manusia seluruhnya. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak rela apabila manusia berpaling sama sekali meninggalkan dunia.

Seorang muslim hanyalah dituntut agar ia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang memberikan anugerah dan pemberian. Dengan begitu ia tidak akan mencari rizqi selain dari Allah SWT. Ia harus tahu hanya Allah –lah yang menciptakan semua sebab yang timbul di dunia ini. Akhirnya ia tidak akan menyangka bahwa sebab-sebab lahiriah itu mempunyai pengaruh-pengaruh yang harus di perhitungkan. Ia harus sadar bahwa dunia yang tampak elok dan sedap di pandang serta enak untuk dinikmati, itu pasti akan segera pergi atau bahkan sirna sama sekali. Tak ada teman, sahabat, keluarga ataupun kekasih yang setia bersamanya selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan keyakinan seperti ini, maka ia tidak akan pernah condong kepada dunia. Segenap jiwanya hanya tertertuju kepada Allah SWT, satu-satunya Dzat yang menjadi pelipur lara hatinya, tempat berlindung serta sumber kebahagiaannya. Itulah keadaan seorang mu’min sejati.

Secara lahir ia menggunakan berbagai sarana dunia, namun hatinya hanya meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan semua itu. Hatinya selalu ingat dan terhubung kepada Allah yang menganugerahkan segala macam nikmat. Saat perasaan takut menghampiri, tak ada tempat pengaduan dan tempat berlindung selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jiwanya senantiasa diliputi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

5. Kisah teladan

Seorang lelaki shalih harus meninggalkan desanya karena suatu tuntutan urusan keagamaan. Ia memutuskan sebuah desa baru sebagai tempat tinggalnya. Suatu saat, seorang imam masjid yang menjadi tempat biasa shalat sang lelaki tersebut berkenalan dengannya. Si imam masjid bertanya mengenai sumber perekonomian sang lelaki hingga kemudian ia menjawab dengan tenang bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah melupakannya.

Setelah beberapa hari berlalu, syaikh imam masjid kembali menanyakan keadaan sang lelaki shalih dan ingin tahu lebih jelas tentang sumber penghidupannya. Lelaki itupun meyakinkan kembali bahwa Allah SWT selalu memberikan anugerah kepadanya dan ia sama sekali tidak merasakan kesulitan dalam hal rizqi.

Jawaban tersebut ternyata belum memuaskan sang imam masjid, sehingga dalam pertemuan yang ketiga ia bertanya lagi kepada si lelaki shalih, “Dari mana sesungguhnya engkau mendapatkan penghidupan?”, si lelaki menjawab, “Sebenarnya di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenal dan mengerti kondisiku. Ia kemudian mengirimkan sebagian hartanya kepadaku, hingga cukup untuk memnuhi kebutuhanku sehari-hari”.

Syaikh imam masjid berkata, “baiklah kalau begitu, sungguh baru sekarang kegelisahanku yang selama ini menyelimutiku, hilang dan sirna”. Lelaki shalih tersebut kemudian menimpali, “Wahai orang yang ada di depanku, sunggu aku bersumpah untuk melakukan qadha’ atas shalat-shalat yang aku dirikan di belakangmu. (kiasan bahwa pada saat itu, sang imam berada dalam keadaan yang kurang sempurna imannya). Berkali-kali aku telah meyakinkanmu, sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rizqiku dan tak akan melupakanku, tapi mengapa hal itu belum bisa menenangkanmu. Namun sebaliknya, saat aku memberitahukan kepadamu bahwa yang membantu permasalahan rizqiku adalah seorang Yahudi, engkau baru percaya akan adanya jaminan dan tanggungan Allah SWT.

Seperti itulah keadaan sebagian besar kaum muslim dewasa ini. Mereka mengagungkan dan membangga-banggakan materi serta bentuk-bentuk lahiriah, hingga melalaikan siapa yang menciptakan semua itu. Akhirnya mereka hidup dalam imajinasi dan khayalan, tanpa mengerti substansi sebenarnya. Mereka terperangkap oleh fatamorgana yang tiada berwujud nyata, sehingga lupa kepada Dzat yang memiliki eksistensi paling nyata memenuhi semesta raya. Mereka berbicara mengenai kasih sayang langit, namun tak menyadari Dzat yang menciptakan dan sangat mengasihinya. Mereka tak memperhitungkan tangan yang penuh belas kasih, menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut mereka, namun malah membangga-banggakan sendok yang menuangkan makanan, mengisi sudut-sudut mulut mereka.

6. Di balik misteri

Ibnu ‘Athaillah mengakhiri hikmah ini dengan sebuah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al Hajj: 46)



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.