Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Sabtu, 26 Oktober 2013 - KH. Ahmad Wafi Maimoen


Rekayasa Hawa Nafsu

((أصل كل معصية و غفلة و شهوة، الرضا عن النفس. و أصل كل طاعة و يقطة وعفة، عدم الرضا منك عنها، ولأن تصحب جاهلا لا يرضى عن نفسه خير لك من أن تصحب عالما يرضى عن نفسه. فأي علم لعالم يرضى عن نفسه، و أي جهل لجاهل لا يرضى عن نفسه))

“Pangkal semua maksiat, kelalaian dan syahwat adalah rasa puas atas nafsu, sedangkan sumber segala ketaatan, kesadaran dan kesucian ialah tidak adanya kerelaan atas nafsumu. Persahabatanmu dengan orang bodoh yang tak rela atas nafsunya sungguh lebih baik bagimu daripada pertemananmu dengan orang pintar yang telah merasa puas akan nafsunya. Maka, adakah ilmu (yang bermanfaat) dalam diri orang pintar yang merasa puas atas nafsunya? Dan adakah kebodohan (yang berbahaya) dalam diri orang bodoh yang tak rela akan nafsunya?”

Sebelum mempelajari hikmah ini, kita harus mengetahui arti dari kata nafsu. Dalam aturan bahasa, nafsu terkadang bermakna ruh/nyawa. Pada bagian lain, kata nafsu juga bisa berarti darah ataupun dzat dari suatu perkara.

Namun yang dikehendaki Ibnu ‘Athaillah dalam pembahasan ini bukanlah arti-arti diatas. Yang dimaksud nafsu dalam hikmah ini adalah perangai hewani yang tersusun dalam diri seorang manusia, hingga menjadikannya keras kepala karena tunduk mengikuti kesenangan dan syahwat. Artinya, manusia dan hewan sama-sama memiliki nafsu semacam ini dan ia merupakan sumber segala bentuk perilaku buruk dan tercela.

1. Penjelasan

Intisari hikmah ini menerangkan bahwa jalan untuk mencapai ridha Allah swt hanya bisa tergambarkan dalam kecurigaan dan ketidakpuasan seoranga hamba atas nafsu. Sedangkan jalan yang menyampaikan seseorang kepada kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla ialah melalui kebanggaan dan kepuasan atas nafsunya sendiri.

Mengapa Ibnu ‘Athaillah mengatakan bahwa sumber segala bentuk maksiat, kelalaian dan syahwat adalah rasa puas untuk nafsu.

Suluk (sifat/tingkah laku yang mempengaruhi tabiat seorang insan) merupakan sebuah konsekuensi dari proses pergulatan seorang manusia melawan perasaan-perasaan dan motif-motif nafsu yang ada dalam dirinya. Dalam kenyataan, setiap insan pasti mempunyai dua pilihan. Pertama, ridha kepada Allah swt serta melawan nafsu dan kesenangan. Yang kedua, ridha kepada kemauan nafsu dan menentang perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Setelah beberapa lama terjadi pergelutan antara motif-motif untuk menerima Allah swt dengan faktor-faktor pendorong untuk memilih kemauan nafsu, seseorang akan memilih untuk tunduk kepada ketentuan Allah swt, sehingga ia berjuang demi menegakkan hukum-hukum yang digariskan-Nya. Namun terkadang ia lebih suka kebalikannya dan akhirnya ia akan menuruti semua kemauan parangai hewani.

Proses perjalanan mencapai suluk akan memunculkan perasaan ridha ataupun sebaliknya. Namun seorang manusia hanya dituntut agar menyukai amal baik yang telah ditunjukkan Allah swt untuknya serta membenci amal buruk yang dibisikkan nafsu kepadanya.

Perasaan ridho kepada amal kebaikan hanya akan nyata dengan adanya syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi, ridha kepada kebaikan merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan perasaan ujub ataupun ridha kepada nafsu. Ketika seorang muslim tidal memiliki motif yang sempurna untuk menyukai amal shalih, maka secara otomatis ia tak akan mempunyai dorongan yang kuat untuk membenci amal buruk.

Hanya saja seorang hamba yang telah melakukan kebaikan dan menyukainya, tidak boleh menisbatkan keutamaan pada dirinya. Karena hal itu akan menimbulkan persangkaan bahwa ia telah mengalahkan nafsu syahwat serta terbebas dari keburukan-keburukan perangai hewannya. Ia harus tahu bahwa nafsu akan selalu memerintahkan keburukan dan ia tetap berada dalam bahaya bisikan serta dorongan nafsu tersebut. Ia harus sadar bahwa hanya Allah swt yang bisa menolong dan member kekuatan kepadanya untuk menentang penindasan nafsu liar. Dengan begitu ia akan hanyut dalam keagungan dan keindahan rasa syukur kepada Allah swt.

وأحضرت الأنفس الشح (النساء:128)

“walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.”

Maksudnya, tabiat manusia itu tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya. Bisa kita lihat dalam ayat tersebut, adanya sebuah hokum bahwa sifat jelek (kikir) itu selalu melekat kepada nafsu secara umum tanpa pengecualian sedikitpun.

و من يوق شخ نفسه فأولئك هم المفلحون (الحشر: 9)

“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”

Selanjutnya, firman Allah swt diatas menjelaskan bhawa seorang yang telah berhasil mengendalikan sifat jeleknya (kikir) melalui proses suluk yang ia lakukan, maka hal ini bukanlah semata-mata karena usahanya. Karena sebenarnya yang menjaga dirinya dari pengaruh perangai buruk tersebut adalah Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan nafsu tetap saja menempel dalam dirinya. Keterangan yang serupa juga bisa kita temui dalam ayat berikut,

و يطعمون الطعام على حبه مسكينا و يتيما و أسيرا (الإنسان: 8)

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”

Atas pertolongan Allah swt, orang-orang yang berbuat kebajikan itu mampu memerangi nafsu hingga kemudian mengendalikannya untuk mencapai ridho Allah swt. Namun nafsu dalam diri mereka tetap memberontak dengan kecintaannya kepada harta benda.

Akan semakin jelas lagi setelah kita membaca firman suci di bawah ini,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(Q.S. Ali Imran:14)

Jelas sekali bahwa yang namanya kecintaan kepada perhiasan dunia hanya muncul dari nafsu yang selalu memrintahkan keburukan. Semua manusia tanpa terkecuali pasti memiliki perangai nafsu yang menyukai kesenangan-kesenangan duniawi. Baik ia mampu mengendalikan atau malah dikendalikan nafsu, akan selalu menerima bisikan dan rayuan nafsu jahatnya.

Seorang manusia yang puas kepada nafsu, berarti telah tunduk kepada ajakan dan keinginan-keinginan nafsu tersebut. Pada akhirnya hal itu akan menjerumuskan dirinya dalam kehancuran. Pertama-tama ia akan merasa bangga dan puas atas nafsu, lalu ia mengaku-ngaku sebagai orang yang bersih dari kekurangan, serta mampu menaklukan perangai buruk dan jahat yang ada pada dirinya.

الشيخ أحمد زروق menjelaskan bahwa maksiat adalah perlawanan atas kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah swt. Syahwat ialah kepatuhan terhadap kemauan nafsu, untuk mencari kesenangan-kesenangan, sedangkan yang disebut kelalaian (غفلة) yaitu penyia-nyiaan perkara sunnah dan wajib, demi menuruti ajakan-ajakan nafsu.

Lebih lanjut, الشيخ أحمد زروق menerangkan bahwa ketaatan ialah sebuah penerimaan atas perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla, baik wajib maupun sunnah. Yang dimaksud عفة (kesucian) yaitu meninggalkan sesuatu yang bersifat rendah, sedangkan يقظة (kesadaran) adalah adanya perhatian atas perintah-perintah Allah swt.

2. Dalil

“ Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”(Q.S. An Nisa’:49)

Istifham dalam ayat diatas adalah istifham inkariy, pertanyaan yang mengandung pengingkaran atas keburukan sesuatu yang ditanyakan. Berarti orang-orang yang menganggap dirinya bersih ialah orang-orang yang berada dalam keadaan yang buruk. Mereka memuji dirinya sendiri, berbangga-bangga dan puas atasnya. Larangan secara jelas atas sifat jelek tersebut, bisa kita lihat dalam ayat berikut,

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”(Q.S. An Najm:32)

Rasulullah saw juga kerap mengungkapkan larangan atas akhlaq tercela di atas, tentunya dengan bahasa beliau sendiri.

ثلاث ملكات شح مطاع وهوى متبع و إعجاب المرء بنفسه (أخرجه البزار و الطبراني و أبو نعيم و البيهقي)

“Ada tiga perkara yang menyebabkan kehancuran, kikir yang dituruti, keinginan yang diikuti dan rasa bangga seseorang atas dirinya,” (HR. Al Bazzar, Thabrani, Abu Na’im dan Baihaqi)

3. Adu Hujjah

Mungkin kita pernah mendengar perkataan seperti ini, “Sejak lama aku telah melawan nafsuku serta bersungguh-sungguh melatih dan menjinakkannya hingga ia menjadi bersih dari pengaruh-pengaruh kemauan dan tabiat yang tercela. Sekarang nafsuku hanya menyukai hal-hal yang diridhoi Allah swt serta membenci perkara-perkara yang tidak disukai-Nya.”



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.