Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Sabtu, 08 Juni 2013 - KH. Ahmad Wafi


Tanda-Tanda Wali Allah

((سبحان من لم يجعل الدليل على أوليائه من حيث الدليل عليه و لم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصلهم إليه))

“Maha suci Allah yang tidak menjadikan tanda-tanda yang menunjukkan para wali-Nya, kecuali tanda-tanda yang mengarahkan kepada-Nya. Dan Allah tiada menghubungkan dengan para kekasih-Nya, kecuali orang-orang yang Dia kehendaki, agar terhubung kepada-Nya”.

1. Penjelasan

Allah SWT menyembunyikan Dzat-Nya dari pandangan manusia di balik wujud makhluk-makhluk dunia dengan segala keanekaragamannya. Begitu juga, Allah SWT menutupi para kekasih-Nya (wali) dari pengetahuan manusia dengan wujud kerangka lahiriah dan sifat-sifat lemah serta kebutuhan-kebutuhan manusiawi pada umumnya. Para kekasih Allah SWT melakukan transaksi perdagangan di pasar-pasar sebagaimana orang-orang lain. Mereka juga menyatu dan berbaur dalam masyarakat, menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Mempunyai rasa suka, cinta, benci serta marah. Menikah dan membangun tatanan rumah tangga. Mendirikan rumah sebagai tempat tinggal serta melengkapi peralatan-peralatan di dalamnya. Menikmati makanan yang lezat dan menyukainya serta enggan untuk menyantap sesuatu yang tidak menarik perhatiannya.

Dengan kenyataan ini, mungkin saja ada beberapa orang yang berkata, “Alangkah jauhnya apabila orang-orang seperti itu termasuk dalam kategori waliyullah. Semestinya waliyullah itu tidak menghabiskan wakktunya sehari-hari untuk bergelut dengan materi-materi duniawi”.

Lalu siapa sebenarnya yang bisa mengenali seorang wali dan bagaimana caranya untuk mencapai derajat kewalian?

Orang-orang yang mengenali kekasih Allah ialah mereka yang memiliki kemampuan untuk mencapai kedudukan ma’rifat kemudian bersedia menempuh jalan agar sampai kepadanya. Artinya, jalan mengenal waliyullah merupakan cabang dari jalur ma’rifat atau mengenal Allah SWT.

Seseorang yang telah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla lalu terus menerus berdiri di depan pintu-Nya dengan ekspresi kelemahannya sebagai seorang hamba, maka ia akan mampu menyaksikan Allah SWT dengan mata hatinya, meskipun tak terlihat oleh pandangan mata kepala. Akhirnya tumbuhlah rasa cinta, takut dan hormat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Keadaan inilah yang dinamakan wushul (sampainya seorang hamba kepada Allah SWT).

Apabila seorang hamba telah wushul kepada-Nya, maka Allah SWT akan menghubungkannya dengan para waliyullah. Selanjutnya ia akan mengenali, mendekat dan mencintai kekasih-kekasih Allah tersebut hingga kemudian meneguk ilmu dan pelajaran dari mereka. Dunia dan segala materi-materi lahiriahnya tidak akan menghalangi seseorang yang telah wushul kepada-Nya untuk bisa mengenal dan menyaksikan Allah SWT. Begitu pula, wujud kerangka manusia dan sifat kurang yang ada dalam pribadi seorang kekasih Allah tidak akan menutupi hamba yang telah wushul kepada-Nya untuk mampu menyaksikan pancaran cahaya suci yang dititipkan Allah SWT dalam hati para kekasih Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu orang-orang yang mempunyai keistimewaan berupa kedekatan hubungan dengan-Nya.

2. Koneksi antara wali dan kaum awam

Keterangan di atas mungkin akan memunculkan sebuah gagasan bahwa orang-orang yang mengenal waliyullah ialah mereka yang memiliki kedudukan yang sama sebagai wali. Hal ini dikarenakan orang yang wushul kepada Allah SWT sudah semestinya termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Sedangkan menurut Al Qur’an, orang-orang yang mempunyai sifat-sifat ini disebut Auliyaillah.

Gagasan tersebut bisa ditepis dengan jawaban, bahwasanya bila Allah SWT menghendaki agar seorang hamba wushul kepada-Nya, maka Dia akan menolong hamba itu mampu menempuh jalan-jalan penghubungnya. Semisal saja, memperkenalkannya dengan hamba-hamba terpilih dan para waliyullah. Namun hal ini tidak serta merta menjadikannya sebagai seorang wali. Mungkin saja pada saat itu ia termasuk golongan orang-orang yang bingung dan rendah derajatnya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi, seseorang yang telah mencapai kedudukan wushul kepada Allah SWT biasanya juga termasuk kategori waliyullah.

Demikian inilah yang dikehendaki Ibnu ‘Athaillah melalui perkataannya,

و لم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصلهم إليه

“Dan Allah SWT tiada menghubungkan dengan para kekasih-Nya, kecuali orang-orang yang Dia kehendaki, agar terhubung kepada-Nya”.

Kemusykilan di atas mungkin akan sesuai dengan permasalahan kalau saja Ibnu ‘Athaillah berkata,

إلا من أوصله إليه

“Kecuali orang-orang yang telah Dia hubungkan (wushul) kepada-Nya”.

Selain itu, tingkatan-tingakatan derajat wushul kepada Allah ‘Azza wa Jalla juga sangat banyak macamnya serta berbeda-beda antara satu tingkatan dengan yang lainnya. Persis seperti taqwa yang juga terdiri dari berbagai tingkatan yang beraneka ragam. Jadi, belum tentu setiap orang yang wushul kepada Allah SWT itu termasuk dalam golongan waliyullah, sebagaimana tiap orang yang beriman dan bertaqwa juga tidak bisa langsung di kategorikan telah mencapai kedudukan kewalian.

Orang-orang yang belum puas dengan keterangan tersebut, kemungkinan besar akan melontarkan kemusykilan lagi. Mereka berkata, “Tetapi kalau kita melihat realita yang ada di masyarakat, ternyata banyak sekali orang-orang awam yang telah mendengar berita tentang beberapa waliyullah. Hal ini menyebabkan mereka mengenal, mendekat dan bahkan menghadiri majlis sang waliyullah. Kalau kita teliti lebih lanjut, orang-orang awam tersebut sama sekali tidak memenuhi kriteria sifat yang diutarakan Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah ini.”

Agar masalah ini menjadi terang, bahwa yang paling penting dibahas bukanlah sekedar kenal ataupun bertemu dan bertatap muka. Namun yang menjadi tolak ukur utama ialah kepercayaan dan pikiran positif yang dimiliki oleh orang-orang yang menerima sebuah kabar kewalian. Bisa disaksikan banyak sekali orang-orang yang berdesak-desakan dalam majlis ulama shalih, akan tetapi tujuan utama mereka adalah untuk memperoleh materi-materi duniawi atau untuk mencari kesalahan dan aib sang ulama. Yang lebih parah lagi terkadang mereka hanya bermaksud untuk mengejek dan mempermalukan ulama tersebut. Orang-orang seperti ini jelas tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang wushul kepada waliyullah, sebagaimana yang dikehendaki Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah ini.

3. Kisah teladan

Dalam kitab “ البهجة ” ابن العماد memaparkan sebuah cerita yang berkaitan erat dengan topik utama hikmah ini. ابن العماد meriwayatkan cerita ini dari ابن النجار.

Alkisah, ada 3 orang ulama yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi Syaikh Yusuf al Hamdani di kota Baghdad. Beliau adalah seorang alim ulama terkemuka yang tersohor keagungan dan karomah-karomahnya. 3 orang ulama tersebut ialah Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Ibnu ‘Ushrun dan Ibnu as Saqa.

Di tengah perjalanan, ketiga orang tersebut berbincang-bincang maksud masing-masing dari mereka dengan kunjungannya kali ini. Ibnu as Saqa mengutarakan kepada kedua temannya bahwa ia ingin menguji keilmuan Syaikh Yusuf dan ingin memperlihatkan sisi kebodohan beliau di depan masyarakat umum. Ibnu ‘Ushrun kemudian berkata, “Aku pernah mendengar kabar bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang sering terkabul doanya. Maka kedatanganku kali ini sebenarnya ingin meminta beliau untuk mendoakanku agar memperoleh harta yang melimpah ruah”.

Lain lagi dengan Syaikh ‘Abdul Qadir. Beliau mengatakan, “Maksudku adalah tidak seperti itu. Kedatanganku kepada Syaikh Yusuf hanyalah ingin memperoleh barakah beliau serta mendapatkan sebuah kehormatan karena dekat dengan beliau”.

Setelah ketiga orang tersebut sampai di kediaman Syaikh Yusuf, mereka memasuki majlis beliau dan duduk dengan tenang. Syaikh Yusuf memandang Ibnu Saqa dan berkata, “Aku telah mengetahui semua permasalahan yang memenuhi kedua matamu”. Beliau kemudian menjawab persoalan-persoalan Ibnu Saqa yang sejak semula memang ingin ditanyakan kepada Syaikh Yusuf.

Selanjutnya Syaikh Yusuf menatap Ibnu ‘Ushrun sambil berkata, “Engkau akan memperoleh harta yang kau inginkan”. Lalu beliau berbicara kepada Syaikh ‘Abdul Qadir, “Telapak kakimu akan berada di atas leher semua wali pada zamanmu”.

Ibnu ‘Imad melanjutkan kisahnya, “Sebelumnya, Ibnu Saqa adalah seorang qurra’ yang hafal Al Qur’an. Di kemudian hari, ternyata ia berpindah agama Nasrani hingga meninggal dunia. Na’udzubillah min dzalik, peristiwa ini bermula ketika Ibnu Saqa berpergian ke negeri Romawi sebagai utusan khalifah. Setelah tiba di Romawi, ternyata ia terpikat oleh putri raja Romawi. Akhirnya ia mengutarakan keinginannya untuk mempersunting putri raja. Namun sang putri tidak mau menikah dengannya kecuali jika Ibnu Saqa mau memeluk agama Nasrani. Singkat cerita, Ibnu Saqa pun memeluk agama Nasrani.

Mendekati akhir hayatnya, Ibnu Saqa menderita sakit cukup parah. Tangannya memegang kipas untuk menghalau lalat di wajahnya. Saat di tanyai tentang hafalan Al Qur’an, ia menjawab bahwa dirinya telah lupa kecuali satu ayat yang masih teringat dalam kepalanya yaitu,

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim”.(QS. Al Hijr: 2)

Dari kisah tersebut, kita bisa mengerti bahwa ketiga orang di atas sama-sama mengenal dan menghadiri majelis Syaikh Yusuf al Hamdany. Namun yang disebut sebagai waliyullah hanyalah satu orang yaitu Syaikh ‘Abdul Qadir al Jailani, karena cuma dia yang cocok dengan sifat yang diutarakan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah ini.

4. Wasiat

Sebagai akhir pembahasan ini, marilah kita renungkan wasiat berikut,

“Jangan sampai kita meninggalkan tata karma terhadap hamba-hamba Allah SWT yang shalih. Lebih-lebih mereka yang diduga kuat memiliki kedudukan kewalian. Adakalanya kurang tata karma itu berupa perkataan kotor atau pandangan menghina. Bisa juga berupa sanggahan dan kritikan yang terlontar dengan maksud untuk membodohkan serta meremehkan. Hal-hal semacam ini merupakan permusuhan yang dilarang oleh Allah SWT sebagaimana bisa kita baca dengan jelas dalam hadits qudsi,

ومن عادى لى و لي فقد آذنته بالحرب

“Dan barang siapa memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh Aku akan mengobarkan peperangan dengannya”.

Jika engkau melihatnya (hamba shalih/wali) menyalahi hukum-hukum syari’at, ingatkanlah ia dengan perkataan yang bijaksana, tanpa merendahkan dan tanpa berburuk sangka kepadanya. Dalam keadaan semacam ini, ingatlah selalu cerita yang telah disebutkan di muka.

Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang mendekat kepada Allah SWT melalui jalan mencintai, menghormati dan berbaik sangka kepada orang-orang shalih bahwa mereka termasuk orang-orang yang baik keadaannya, mendapatkan ampunan Allah SWT dan akhirnya memperoleh husnul khatimah. Sudah banyak cerita mengenai orang-orang yang menganiaya dirinya di dunia namun di akhirat ia justru mendapatkan syafaat Allah ‘Azza wa Jalla berkat cinta dan hormatnya kepada hamba-hamba shalih.

Jangan sekali-kali engkau berkata, “Mungkin ia adalah seorang dajjal yang menyamar dengan kedok taqwa dan kebaikan. Bagaimana mungkin aku akan menyukai dan condong kepadanya”. Ingatlah bahwa disini terdapat 2 kemungkinan. Pertama, engkau telah melihat tanda-tanda kebaikan dan ketaqwaan dengan bukti keistiqamahannya menjalankan syari’at. Jadi, engkau tidak boleh berandai-andai adanya sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan yang kau lihat. Karena timabangan hukum syari’at dalam masalah muamalah antar sesame manusia ialah perkara lahiriah yang terlihat jelas.

Kedua, mungkin engkau sama sekali tidak mengerti keadaannya, apakah baik ataukah buruk. Hal ini berarti menuntut dirimu agar berhati-hati. Caranya, engkau harus memiliki anggapan bahwa ia adalah orang shalih yang keshalihannya tidak diketahui oleh masyarakat luas. Engkau harus selalu ingat sebuah nasehat yang mengatakan, “Yakinlah bahwa setiap orang yang kau lihat adalah al Khadhir”.

Dengan jalan seperti itu, bila memang persangkaan positifmu benar dan tetap menjaga tata karma, maka akhirnya akan membuahkan manfaat yang besar bagi dirimu sendiri. Dan jika perkiraanmu salah, maka sesungguhnya husnuzha (pikiran baik) tersebut tidak akan mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena kecintaanmu kepada orang yang engkau harapkan kebaikan keadaan hidupnya merupakan sebuah indikasi adanya cinta kepada Allah SWT.

5. Kesimpulan

Waliyullah adalah orang-orang yang dikasihi Allah SWT dan sangat dekat di sisi-Nya. Namun dalam realita kehidupan, mereka adalah manusia biasa yang menjalani aktivitas kehidupan seperti umumnya masyarakat. Allah SWT telah mengatur bahwa hakikat seorang wali itu tersembunyi dari pengetahuan manusia. Mungkin sedikit sekali orang-orang yang mengerti bahwa seseorang itu termasuk waliyullah.

Namun hal ini bukan berarti bahwa orang yang mengetahui kewalian seorang insan langsung tergolong sebagai wali. Seringkali bisa dijumpai ada orang-orang yang mengerti kewalian seseorang, namun sangat jelas bahwa ia tidak tergolong sebagai wali.

Allah ‘Azza wa Jalla telah menghendaki orang-orang tertentu mampu mencapai kedudukan wushul (terhubung) dengan-Nya. Orang-orang inilah yang mengetahui pangkat kewalian seorang kekasih Allah SWT. Selanjutnya bila ia yakin dan berpikiran positif tentang seorang waliyullah, mungkin saja ia bisa dikategorikan sebagai wali. Hal ini karena pikiran positif akan selalu mendorong dirinya untuk melakukan kebaikan serta menjaga hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Insya Allah di akhir hayatnya, ia akan memperoleh anugerah husnul khatimah.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.