Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Beranda Al Anwar

Rabu, 15 Mei 2013 - KH. Ahmad Wafi Maimoen


Kajian Hikam

((إذا التبس عليك أمران فانظر أثقلهما على النفس فاتبعه فإنه لا بثقل عليها إلا ما كـــان حقا))

“Apabila ada 2 perkara yang samar bagimu, maka lihatlah yang paling berat menurut nafsu kemudian ikutilah. Karena sesungguhnya tak ada yang berat bagi nafsu selain perkara yang benar.”

1. Penjelasan

Dua perkara yang dimaksud disini adalah perkara-perkara yang dianjurkan syariat dan tak mungkin dikumpulkan bersama, misalnya perkara wajib, sunnah ataupun mubah. Jika kedua perkara itu mungkin disatukan dan dikumpulkan, maka tidak menjadi sasaran pembahasan hikmah ini. Begitu juga kalau 2 perkara tersebut berupa wajib dan sunnah atau sunnah dan mubah. Dalam hal ini, yang menjadi tolak ukur untuk menentukan nilai lebihnya adalah hukum syariat.

Kemudian mengenai masalah nafsu dalam perkataan Ibnu ‘Athaillah di atas adalah nafsu yang selalu menganjurkan keburukan. Mayoritas manusia yang hidup di manapun dan kapanpun selalu tunduk kepada rayuan dan keinginan-keinginan nafsu ini.

Terkadang kita menghadapi 2 perkara di depan kita yang sama sekali tidak bisa dikumpulkan. Hanya boleh menentukan satu pilihan dan menyisihkan yang lainnya. Jalan keluarnya adalah dengan mengembalikan kepada nafsu. Jika sudah jelas perkara mana yang paling dibenci oleh nafsu, maka itulah yang harus kita pilih dan kemudian kita lakukan. Sedangkan perkara yang lebih disukai olehnya harus kita jauhi dan kita tinggalkan.

Adanya solusi seperti ini bukanlah tanpa alasan. Nafsu yang ada dalam diri seorang manusia akan selalu membisikkan rayuan-rayuan untuk bersenang-senang. Ketika nafsu menunjukkan sebuah pilihan kepada seseorang, itu berarti karena pilihan tersebut sesuai dengan kemauannya. Bila kemudian ia melakukan pilihan tersebut, maka terjadilah ketiadaan dari sebuah perkara yang semestinya tergolong wajib ataupun sunnah. Karena semua amal tergantung kepada niatnya, itu berarti ketika seseorang melakukan ibadah dengan disertai tujuan untuk mewujudkan kemauan nafsu, maka ia telah menghilangkan esensi ibadah tersebut.

Lain halnya dengan perkara kedua yang dibenci dan dihalang-halangi oleh nafsu. Ini terjadi ketika nafsu tidak memiliki kesenangan dalam perkara tersebut yang cocok dengan kemauannya atau bahkan perkara itu justru bertentangan dengan si nafsu. Untuk menghadapi realita semacam ini, seseorang harus membersihkan tujuan dari keinginan-keinginan hawa nafsu hingga tersisa satu-satunya faktor pendorong untuk melakukan perkara tersebut yaitu memperoleh ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Realita

Contoh permasalahan yang sesuai dengan hikmah ini bisa kita simak dalam peristiwa berikut. Ada seseorang yang menghadapi 2 pilihan dalam waktu yang bersamaan. Pilihan pertama ia harus menjenguk seorang fakir yang sedang sakit, namun ia sama sekali tidak terkenal dan tinggal di daerah pinggiran. Pilihan kedua berkaitan dengan resepsi akad pernikahan. Manakah yang sesuai dengan tuntutan agama?

Dalam keadaan seperti ini, ia harus bertanya kepada nafsunya mengenai mana yang lebih utama. Mungkin bisa dipastikan bahwa nafsu yang ada dalam dirinya akan merasa berat untuk menjenguk si fakir karena memang tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang ditawarkan pilihan ini. Kemudian tentunya nafsu akan memilih untuk menghadiri resepsi pernikahan yang penuh dengan orang-orang ramah serta menawarkan kenikmatan serba mewah.

Kesimpulan sudah sangat jelas bahwa perkara yang lebih dekat kepada ridha Allah SWT ialah melakukan perkara yang terasa berat oleh nafsu. Yaitu sesuatu yang tidak menawarkan kesenangan bagi si nafsu.

Contoh lainnya bisa kita jumpai dalam permasalahan menghidupkan malam-malam tertentu dengan berbagai macam ibadah yang terkait dengan fadhilahnya masing-masing. Misalnya saja malam lailatul qadar atau nisfu sya’ban dan lain-lain. Kalau saja orang bertanya kepada nafsunya apakah memilih beribadah sendirian di dalam kamarnya atau lebih memilih beribadah bersama kelompoknya di musholla-musholla ataupun masjid-masjid, tentu sang nafsu akan lebih condong untuk beribadah secara bersama-sama. Alasannya mungkin karena tanda-tanda keshalihan dalam majlis seperti ini bisa dilihat oleh orang banyak. Mungkin juga ada alasan-alasan lain yang cocok dengan kemauan si nafsu.

Dalam keadaan seperti ini, ia harus menyingkirkan pilihan nafsu lalu beralih melakukan pilihan satunya lagi. Yaitu beribadah sendirian di dalam kamar yang terkunci rapat, menjalin kebersamaan dengan Allah SWT yang selalu melihat dan mengetahui keadaan setiap manusia.

Masih banyak contoh-contoh lain yang serupa dengan peristiwa di atas. Kalau kita sedikit berangan-angan mengenai kegiatan-kegiatan islami yang ada sekarang, lalu kita teliti faktor-faktor pendorong yang terselubung di dalamnya, maka kita akan jumpai bahwa sebagian besar kegiatan tersebut hanyalah upaya-upaya memenuhi keinginan nafsu yang berbungkus agama.

Hanya saja solusi seperti ini boleh diterapkan kalau hukum syariat tidak menentukan sesuatu yang lebih utama diantara 2 pilihan. Bila seperti itu, maka kita harus menerima pilihan undang-undang syariat. Misalnya saja ada seseorang yang mempunyai pekerjaan tetap di sebuah LSM yang bertugas untuk melayani masyarakat. Suatu saat, hatinya nuraninya berkehendak untuk berangkat haji. Hanya saja seseorang yang naik haji harus mengeluarkan beberapa corak uang suap demi mempermudah perjalanan haji. Menanggapi situasi seperti ini, maka ia harus mengesampingkan keinginannya untuk naik haji dan tetap meneruskan pekerjaannya sebagai pelayanan. Tak perlu ia menggunakan nafsu sebagai timbangan pilihannya, apakah lebih berat haji ataukah tetap tinggal di kampung halaman.

3. Insan suci dan orang awam

Metode pencarian pilihan yang dipaparkan Ibnu ‘Athaillah ini hanya ditujukan untuk orang-orang awam yang masih selalu diliputi nafsu liar karena belum mencapai taraf penyucian diri. Lain lagi dari orang-orang yang hatinya telah terpenuhi kecintaan kepada Allah SWT. Orang-orang semacam ini akan merasa berat untuk melakukan rayuan-rayuan nafsu dan sebaliknya ia akan menikmati segala sesuatu yang dibenci oleh nafsunya. Maka yang lebih baik untuknya ialah melakukan apa yang terasa nikmat olehnya dengan tetap menjaga aturan-aturan syariat yang ada.

Andaikan saja orang yang telah suci hatinya disuruh memilih antara meninggalkan tempat tidurnya demi melaksanakan panggilan Allah SWT, atau menuruti rasa kantuk yang menyerangnya, tentu jiwanya akan lebih condong untuk bergegas berdiri agar termasuk dalam golongan orang-orang terpuji seperti yang tersurat dalam firman-Nya,

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,sedang mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.”(QS. As Sajdah: 16)

Maksud kalimat “jauh dari tempat tidur” ialah mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengerjakan sembahyang malam.

Orang-orang yang telah suci jiwanya akan menemukan nikmat dalam shalat malam yang tak mungkin tergantikan oleh nyawanya yang tidur pulas.

Namun kita harus tahu bahwa nafsu tak mungkin terlepas dari seorang manusia sesuci apapun jiwanya dan sebesar apapun cintanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nafsu akan selalu menjadi tabiat dasar yang melekat kepada manusia agar bisa dijumpai makna taklif dalam kehidupan dan supaya ia menjadi seorang yang berhak atas pahala ataupun siksa.

Andaikan nafsu bisa terlepas dari esensi manusia melalui proses penyucian diri, tentunya ia akan berubah menjadi malaikat yang sama sekali terbebas dari segala keburukan. Makhluk yang tidak pernah dan tidak akan terpengaruh oleh rayuan-rayuan kesesatan seperti yang terjadi kepada seorang manusia. Jika kenyataannya seperti ini, mestinya ia tidak berhak atas siksaan atau ganjaran. Dan secara otomatis, tak akan mungkin muncul rasa takut, cinta ataupun rindu dalam hatinya.

Jadi, jangan sampai ada seseorang yang berani mengatakan tentang dirinya atau gurunya bahwa nafsunya telah berubah dari tabiat semula yang selalu memerintahkan keburukan, sekarang telah menjadi nafsu baru yang suci, tenang serta ridha Allah SWT. Ia harus ingat bahwa syaithan akan selalu melancarkan serangan yang tiada henti untuk menguasai nafsu manusia. Sepanjang manusia masih hidup di dunia, syaithan akan senantiasa mengalir dalam dirinya laksana aliran darah.

Karena itu, hendaklah seseorang bersyukur kepada Allah SWT bila memang Dia telah menolong dirinya dari belenggu-belenggu kesenangan nafsu, serta menolong dirinya hingga mampu berdiri tegak di atas rel-rel syariat, ia harus tetap mengingat firman Allah ‘Azza wa Jalla.

“ Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”(QS. Al A’raf: 99)

Ia harus berusaha menerapkan kebiasaan para ulama’ salafusshalih yang semakin tambah dekat kepada Allah SWT, maka akan semakin takut akan perubahan keadaannya.

4. Kesimpulan

Manusia hidup di dunia ini senantiasa disertai oleh nafsu. Sedangkan nafsu merupakan ssasaran empuk yang menjadi jembatan perantara bagi syaithan untuk menguasai seorang manusia. Hanya saja terjadi sedikit perbedaan antara nafsu yang ada pada diri orang-orang awam dengan nafsu yang dimiliki oleh orang-orang khawas (khusus). Kalau orang awam sangat mudah terpengaruh oleh rayuan nafsu yang menginginkan kegelamoran dan kesenangan yang menyesatkan, maka sebaliknya orang khawas justru lebih mudah untuk memilih menjalankan hal-hal yang dibenci nafsu.

Nafsu memiliki sebuah tabiat dasar yang selalu mengajak dan memrintahkan keburukan. Betapapun suci nafsu yang dimiliki, ia tetap tidak bisa lepas dari tabiat dasar si nafsu. Karena itulah ia bisa dijadikan sebuah neraca, apabila terjadi sebuah keadaan yang tidak jelas dan cenderung membingungkan.

Hal ini akan dialami oleh seseorang pada saat menghadapi 2 pilihan yang tidak mungkin disatukan dan ia wajib memilih salah satunya lalu menyingkirkan pilihan yang lain. Untuk menentukan manakah yang lebih afdhol dan lebih utama, maka kita bisa menggunakan sebuah solusi sederhana yang cukup efektif. Tanyakan saja pada nafsu, apakah ada yang lebih berat baginya di antara kedua pilihan itu. Kalau nafsu sudah menetukan pilihan yang paling berat baginya, maka yakinilah bahwa perkara tersebut adalah pilihan yang benar. Selanjutnya murnikan dan ikhlaskan niatmu untuk mengerjakan dan merealisasikan pilihan tersebut.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.