Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Rabu, 08 Mei 2013 - KH. Ahmad Wafi Maimoen


Kajian Hikam

ماطلب لك شيئ مثل الإضطرار ولا أسرع بالمواهب إليك مثل الذلة والإفتقار

“Tak ada perantara yang lebih baik untuk memperoleh sesuatu bagimu selain keterpaksaan yang engkau alami dan tak ada perkara yang mempercepat datangnya anugerah dan pembeerian untukmu selain kehinaan dan kefakiran yang engkau tampakkan”.

1. Darurat(الإضطرار)

الإضطرارatau keterpaksaan atau keadaan darurat adalah sebuah keadaan ketika seorang manusia terputus dari segala hubungan dengan makhluk kemudian ketergantungannya beralih kepada Dzat Yang Maha Pencipta. Hal ini terjadi saat ia meyakini hanya Allah swt yang bisa menyebabkan dan mengakibatkan. Hanya Allah Yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, Yang menghentikan dan menciptakan. Akhirnya ia mengerti bahwa ia sama sekali tidak membutuhkan makhluk karena di hadapannya terdapat sebuah kenyataan yang sangat jelas bahwa segala keinginan dan kebutuhannya berada dalam kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. Timbullah usahanya untuk mendekati dan mengetuk pintu-Nya untuk memohon segala keperluan kepada-Nya.

2. Saat-saat darurat

Ibnu ‘Athaillah menyerupakan keadaan darurat yang dialami oleh seseorang seperti layaknya perantara ulung yang mencari dan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan orang tersebut. Lalu kapankah seorang manusia merasakan keterpaksaan atau keadaan darurat ini?

Seringkali kita mendengar pendapat bahwasanya seorang manusia hanya bisa mengalami keadaan darurat ketika ia tertimpa musibah besar yang amat sulit diatasi, kemudian ia meminta bantuan, pertolongan dan solusi kesana-kemari, namun ternyata hasilnya nihil. Pada saat seperti inilah ia terselubungi dan terkurung dalam lingkaran keterpaksaan atau keadaan darurat. Hanya saja, penggambaran semacam ini tidaklah benar.

Sebenarnya dalam segala tingkah laku dan keadaan, seorang manusia selalu berada dalam ruang lingkup keterpaksaan dan sama sekali terputus dari hubungan-hubungan dengan makhluk, selalu membutuhkan Allah Tuhan seru sekalian alam, Dzat yang menciptakan segala macam sebab. Hanya saja apakah ia menyadari ataukah melupakan hakikat ini?

Manusia akan terlupa dari hakikat kebenaran ini, saat angan-angannya dipenuhi hal-hal duniawi, bayangan-bayangan kekuatan, kejeniusan dan kedidayaan yang ia rasakan. Selanjutnya pikiran-pikiran ini akan menghalangi hatinya untuk menyadari kelemahan dan kekurangannya sebagai hamba sahaya. Hingga akhirnya ia mengandalkan nikmat-nikmat yang ia rasakan sebagai modal kesombongan dan riya’. Ia akan sadar dari kelalaiannya ketika ia mau belajar dan meneliti keadaan manusia umumnya, lalu ia mengerti sebuah kenyataan bahwa dirinya dan semua manusia sekalian adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla.

3. Doa mustajab

Allah swt hanya akan mendengar dan mengabulkan doa seorang hamba yang benar-benar yakin akan kelemahan dirinya serta mengakui bahwa ia sama sekali tidak menguasai hal-hal yang berhubungan dengan dirinya, baik yang bermanfaat, membahayakan, hidup, mati dan seterusnya.Perasaan keterpaksaan dan keadaan darurat ini merupakan perantara paling ampuh yang menghubungkannya dengan Allah swt. Perantara yang pasti akan membuahkan hasil yang ia harapkan.

أمن بجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء (النمل:62)

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.”

وقال ربكم ادعوني أستجبلكم (غافر: 6)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoa kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.”

Lalu apa yang menjadi keistimewaan الإضطرار hingga ia menjadi perantara ampuh dalam masalah terkabulnya doa dan terwujudnya harapan?

Keadaan darurat yang dirasakan seorang adalah ruh yang mengalir dalam doa yang ia ucapkan serta menjadi kunci rahasia terkabulnya permintaan yang ia harapkan. Sebuah doa akan segera terkabul bukanlah dikarenakan kata-kata yang terucap, namun kunci utama terkabulnyadoa adalah keyakinan bahwa Allah swt yang mampu mewujudkan permintaannya sehingga ia memutuskan untuk tidak akan meminta apapun kepada makhluk yang manapun.

Jika cahaya keyakinan ini semakin redup dalam jiwanya, maka angan-angan dan pikirannya akan terbagi dan terpecah belah untuk Allah swt dan untuk makhluk-makhluk-Nya. Konsentrasinya pudar demi mengejar sarana-sarana dan perantara. Disadari atau tidak, hal ini merupakan satu bentuk syirik kepada Allah swt yang sangat berbahaya. Apakah mungkin, doa yang tercampuri syirik akan dikabulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla?

Berarti maksud(ادعوني)dalam surat Ghafir ayat 6 adalah berdoa dengan menyadari keadaan darurat yang ada pada dirinya الإضطرار atau keadaan darurat ini selanjutnya akan menjadi rahasia kemustajaban doanya.

وإذا مسكم الضرفي البحر ضل من تدعون إلا إياه فلما نجاكم إلى البر أعرضتم وكان الإنسان كفروا أفأمنتم أن يخسف بكم جانب البرا ويرسل عليكم حاصبا ثم لا تجدوالكم وكيلا أم أمنتم أن يعيدكم فيه تارة اخرى فيرسل عليكم قاصفا من الريح فيغرقكم بما كفرتم ثم لا تجدوالكم علينا به تبيعا (الإسراء :67-69)

”Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu, atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami."

Dalam ayat tersebut, Allah swt menjelaskan kepada kita semua bahwa keadaan darurat tidak hanya dialami manusia dalam peristiwa-peristiwa genting semisal ketika seseorang berada dalam kapal yang berlayar mengarungi ombak yang bergelombang dahsyat disertai hujan dan angin badai yang bertiup begitu hebat. الإضطرار adalah keadaan yang selalu menyertai manusia dan tak bisa lepas darinya meskipun ia sedang menikmati kemakmuran dan kenyamanan hidup. Karena Allah swt adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan mampu membolak-balikan segala sesuatu. Dia mampu merubah hal-hal yang biasanya menimbulkan ketenangan dan keselamatan menjadi perkara ganas yang menyebabkan kehancuran dan kematian.

Apabila seorang hamba selalu mengingat hakikat ini, maka dalam segala keadaan dan gerak-geriknya ia akan selalu berlindung kepada Allah swt, menikmati kedekatan disisi-Nya, serta memohon penjagaan dan keselamatan hanya kepada-Nya. Keyakinannya semakin kuat bahwa semua sarana dan sebab-sebab materiil, tidak mampu memberikan manfaat baginya, jika Allah swt tidak menentukan dan menghendakinya. Ia menyadari sepenuhnya kalau sebab-sebab musibah dan kerusakan dengan segala macam bentuknya tidak akan mungkin membahayakan dirinya ketika Allah ‘Azza wa Jalla melindungi dan menjaganya.

4. Hamba yang lemah

Selanjutnya Ibnu ‘Athaillah menjelaskan bahwa engkau tak akan menemui sebuah perkara yang mempercepat datangnya anugerah dan pertolongan Allah swt kepadamu, sebagaimana perasaan hina dan lemah yang tertancap kuat dalam sanubarimu. Artinya, keyakinan bahwa engkau adalah makhluk rendah yang tak berkuasa apa-apa merupakan sesuatu yang paling cepat untuk mendatangkan karunia dan anugerah Allah swt kepadamu.

Adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan, ketika seorang manusia mengosongkan dirinya dari khayalan-khayalan kekuatan serta fatamorgana keistimewaan dan keunggulan yang ia rasakan, maka Allah swt akan mengisi dan memenuhi jiwanya dengan karunia yang berlimpah, yang menjadi sebab kesuksesan dan kebahagiaannya. Sebaliknya, apabila ia menyibukkan diri dengan pikiran-pikiran kekayaan dan keagungan, maka Allah swt akan menyerahkan segala urusannya kepada angan-angan yang ia pikirkan tanpa campur tangan dalam problematika yang ia hadapi. Allah swt akan mejadikannya fakir dalam gelimang harta yang ada dihadapannya, menjadi hina dan lemah dalam kehormatan dan ketinggian derajatnya.

5. Kesimpulan

Apabila seorang hamba ingin memperoleh kebahagiaan dunia akhirat, maka tak ada jalan lain yang harus ia tempuh, kecuali menyerahkan kelemahan dan kekurangannya kepada Allah Yang Maha Agung, memohon rahmat dan belas kasih-Nya serta selalu mengingat kesempurnaan Allah swt, Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa. Ia wajib memasrahkan segala yang ia hadapi kepada belas kasih kesempurnaan hikmah-Nya. Selanjutnya, kenikmatandan anugerah Allah swt akan hadir menyertai kehidupannya, baik yang ia minta dalam doa atau bahkan sesuatu yang sama sekali tak terlintas dalam hatinya.

ومن يتوكل على الله فهو حسبه (الطلاق:3)

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Ketika seorang hamba telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt, kemudian berdoa memohon kepada-Nya, maka pasti Allah akan mengabulkan permintaannya. Dia adalah المضطرّ sebagaimana tersurat dalam ayat ke-62 surat an Naml. Karenaالإضطرار atau keterpaksaan adalah perantara paling ampuh dalam hal terkabulnya sebuah doa. Doa yang disertai الإضطرار inilah yang disebut doa hakiki, yang pasti dikabulkan Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ghafir ayat 6:

وقال ربكم ادعوني أستجبلكم (غافر: 6)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoa kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.”



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.