Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Beranda Al Anwar

Rabu, 17 April 2013 - Abdul Ghofur Maimoen


Zuhud

Tribunnews.com pagi ini (Senin, 15 April 2013) memberitakan Jokowi yang naik pesawat Garuda jurusan Jakarta-Solo. Dia menjadi "bintang" di dalam pesawat, pasalnya dia berada di kabin kelas ekonomi. 

Ketika ditanya mengapa duduk di kelas ekonomi? Jokowi bercerita, jika berpergian ke luar kota ketika masih menjadi pengusaha dulu, ia memang biasa duduk di kelas bisnis Garuda. Namun, ia memilih turun kelas setelah menjadi orang nomor satu di Surakarta. Kebiasaan itu diteruskannya ketika menjadi DKI 1.

"Kalau dulu beli tiket bisnis kan pakai duit saya. Kalau sekarang kan duitnya masyarakat (dari gaji). Enggak berani saya (duduk di kelas bisnis)," kata Jokowi. 

Senang sekali saya membacanya, hal yang mengingatkanku kepada pemimpin-pemimpin besar Islam.

Imam Ali KarramalLaahu Wajhah setelah mendapat amanat sebagai khalifah berkunjung ke Basrah. Di Basrah beliau tinggal di salah satu tokoh masyarakat. Beliau tak berkenan terhadap gaya hidupnya yang cenderung glamour. Mencoba lari dari sindiran Imam Ali, tokoh masyarakat ini berbalik menceritakan saudaranya memilih jalan hidup berkebalikan dari dia. Saudaranya mengasingkan diri dari masyarakat dan menjalani hidup zuhud secara ekstrim. Dia mengisi hidupnya di "pojok kehidupan", hanya untuk beribadah.

Bagi Imam Ali, tampaknya kecenderungan zuhud secara ekstrim jauh lebih berbahaya ketimbang kecenderungan glamour. Maka segera dia memanggil saudaranya itu, dan menanyakan kepadanya perihal pilihan hidupnya yang ekstrim ini. Dan dia menjawab:

"Wahai Amirul Mu'minin, saya berhias seperti engkau berhias dan memakai baju seperti baju yang engkau pakai."

Analogi demikian tidak benar. Imam Ali KW. memilih model kehidupan fakir-miskin karena beliau adalah pemimpin, dan sebagai pemimpin beliau harus memiliki rasa empati yang tinggi terhadap masyarakat lemah yang beliau pimpin.

"Engkau tidak boleh seperti itu! Pemimpin umat Islam jika mendapat amanah memimpin mereka maka dia harus memakai baju rakyatnya yang paling miskin agar kemiskinannya tidak menjatuhkan mentalnya lalu membunuhnya. Mulai sekarang saya harus melihat engkau memakai baju terbaik di kaummu. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menceritakannya." (Qs. Adh-Dhuha [93]: 11), dan mempraktekkan lebih baik daripada sekedar menceritakannya. 

Lalu Umar bin Khaththab RA, Khalifah ke II. Pada suatu jum'ah beliau terlambat datang ke masjid. Ketika naik mimbar, beliau menyampaikan i'tidzar:

"Saya terlambat karena bajuku ini. Ia lagi dijemur, dan saya tidak memiliki baju yang lain .."

Tentu saja tidak bermaksud mengkampanyekan Jokowi, tapi saya kira perilakunya ini perlu dipublish sebagai sebuah teladan.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.