Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Mawa'izh

Selasa, 09 April 2013 - Amirul Ulum


Mencetak Kader-Kader Islami

"Mutiara semakin kecil bentuknya, maka akan semakin mahal harganya." Itulah ungkapan di tahun kemarin yang di tausiyahkan oleh Syaikh Rojab untuk menanggapi dari pidato Syaikhina Maimoen, "Pondokku ini adalah pondok yang kecil."

Di samping itu, Syaikh Rojab juga memuji bahwa di Al-Anwar itu penuh dengan cahaya. Di antaranya adalah "cahaya" yang berhubungan dengan membaca Al-Quran, membaca Shalawat, Salat malam, dan lain-lain yang ada kaitannya dengan syariat Islam.

Cahaya Islam tidaklah mudah cara untuk mendapatkannya. Seperti halnya pepatah kuno, "Semudah membalikkan telapak tangan." Tapi, membutuhkan pengorbanan dan keikhlasan dalam mencapainya. Jangan terkecoh dengan konsep Islam itu mudah, sebab kemudahan yang ditawarkan Islam itu harus di sertai dengan "ilmu".

Ilmu adalah sumber cahaya. Maka dari itu, kita di sini (dalam tulisan ini) akan menyibak cahaya ilmu yang dibawa oleh Syaikh Rojab yang datang jauh-jauh dari Damaskus, Syiria. Perlu diketahui bahwa cahaya itu mempunyai sebuah sumber penempatan, atau wadah. Yang dimaksud wadah di sini adalah wadah manusia itu sendiri. Karena ilmu itu bercahaya atau tidak itu tergantung "manusia" yang mengolahnya.

Untuk menjaga kedinamisan hidup antara sesama manusia dalam membangun rumah tangga agar keturunan terjaga, Islam mensyariatkan agar seorang laki-laki dan perempuan yang sudah sampai waktunya untuk menikah agar segera menikah. Atau juga ketika dia sudah tidak bisa menahan pandangan antara lawan jenis. Maka orang seperti ini disuruh untuk "menikah".Tapi, jangan hanya menikah untuk memenuhi Nafsu Biologis saja. Karena hal ini tidak sesuai dengan konsep Islam. Niatkanlah nikahmu untuk memenuhi sunnah Rasulullah Saw supaya mendapatkan berkah.

Pernikahan secara etimologi itu mempunyai arti perkumpulan. Hal ini memberikan gambaran akan pentingnya konsep perkumpulan ini. Yaitu, dengan perkumpulan seorang laki-laki dan perempuan dapat merealisasikan hadist Nabi Muhammad Saw untuk memperbanyak keturunan yang dipoles dengan iman dan taqwa agar kelak Rasulullah Saw merasa bangga dengan umatnya yang banyak serta taat kepada Allah dan Rasul-nya. Selain bermaksud itu, pernikahan juga terjadi pada Al-Quran dan Al-Hadist. Keduanya ini saling membutuhkan untuk "dikumpulkan" supaya terjadi pemahaman yang mengarah. Al-Quran membutuhkan Al-Hadist, dan Al-Hadist membutuhkan Al-Quran.

Karena perkembangan zaman yang begitu cepat dan pesat, hukum-hukum Islam juga bertunas cepat. Hal itu juga membutuhkan untuk dikumpulkan menjadi satu. Yaitu, Ijma dan Qiyas ke dalam produk utama (Al-Quran dan Al-Hadist). Sehingga, hukum Ahlussunnah waljamaah jumlahnya menjadi empat. Yaitu, Al-Quran, al-Hadis, Ijma dan Qiyas.

Setelah menikah, tugas dari suami istri adalah mencetak kader-kader aktivis agama Islam.Tentunya hal ini tidaklah mudah, sebagaimana pendapat orang-orang yang menikah hanya memenuhi nafsu Biologis.Tumbuhnya generasi yang baik itu dipengaruhi oleh gennya, yakni dari sumber Ovum dan Sperma itu dikeluarkan.Terutama dari cinta dan taatnya orang tua kepada Allah dan Rasul-Nya. Contoh kecil dari perhatian seorang suami terhadap istri dalam masalah agama adalah, jika istri telah memecahkan gelas, sang suami tidak marah.Tapi, bila sang istri meninggalkan salat dengan sengaja, maka sang suami marahnya bukan main. Karena hal ini ada hubungannya dengan tanggung jawab di sisi Allah kelak di akhirat.

Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan yang baik, lalu dididik dengan pendidikan syariat Islam dengan baik pula, maka bendera Islam akan naik dengan cahaya yang berkilauan.Tapi, modal utama untuk mendapatkan cahaya adalah ilmu, bukan dunia yang hina ini. Hal ini sebagaimana yang telah dituturkan di atas. Karena mencetak kader-kader yang membawa cahaya itu sangatlah sulit. Sebab, di zaman ini banyak sekali baksil-baksil yang ingin menghancurkan situs-situs Islam.

Pemuda yang baik adalah pemuda yang berprilaku dengan prilakunya orang-orang pesantren. Mengapa demikian? Karena kalau kita mau membuka memori sejarah yang ada, bahwa ulama itu adalah penerus dan pemegang tongkat Estafet dari para nabi sebagaimana hadist Nabi Muhammad Saw, "Ulama itu adalah pewaris para nabi." Sebaik-baiknya tempat atau majlis adalah majlisnya Ulama. Pesantren adalah majlis ulama yang kental. Karena tempat-tempat tersebut ada ilmu. Jadi, jangan kawatir jika pemuda-pemudi kita menghabiskan waktunya untuk tinggal di pesantren untuk "ngalap ilmu" kepada para ulama yang mengasuh pesantren.

Seorang pemuda jika sudah digodok dengan bumbu-bumbu ilmu syariat yang kental di pesantren, apabila dia menjadi graduated from Islamic school ini, maka dia akan menjadi jelmaan dari konsep-konsep yang tertera di dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Sehingga pada akhirnya, pemuda yang semacam ini akan menjadi icon dan tumpuan untuk rujukan suatu kebaikan yang diperintahkan oleh syariat Islam. Dalam sebuah Hadist ada sebuah keterangan bahwa, "Sesungguhnya makhluk yang dicintai Allah Swt adalah pemuda yang umurnya masih belia, berparas tampan, yang menggunakan ketampanannya dan waktu mudanya untuk Allah, dan mencurahkan dirinya untuk beribadah kepada Allah Swt dan beristiqomah dalam menjalankan kebaikan sampai mati."

Pemuda yang kesehariannya selalu mentaati perintah Allah dan menjahui larangan-Nya, maka dia akan menginginkan dirinya untuk dijual kepada Allah. Yakni, Allah yang akan membelinya. Menjual bukan hanya sekedar menjual seperti ibu-ibu yang menjual jualannya di pasaran.Tapi, penjual yang menawarkan dirinya sebagai barang yang mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ada yang berbentuk dzikrullah, mengerjakan salat, baik wajib maupun yang sunnah, ada yang membaca Al-Quran, Bershalawat dan cinta kepada ulama. Jika pemuda sudah berupa barang yang seperti ini, kemudian dia menjualnya kepada Allah, niscaya Allah akan membelinya dengan harga surga. Insya Allah dia mendapat rida-Nya.

Jika pemuda sudah menjual dirinya kepada Allah, dan penjual tadi hanya berlangganan dengan Allah, maka orang tadi akan tetap eksis dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hingga hatinya bersih dan bening. Tidak ada sesuatu yang lain yang dituju kecuali hanya Allah. Hidup untuk Allah dan mati hanya untuk Allah. Maka pemuda yang seperti ini, bersiap-siaplah untuk bertemu Allah dan Rasul-Nya.

Terakhir pesan dari Syaikh Rojab untuk Santri-santri Al -Anwar.

  1. Ihlaslah dalam mencari ilmu
  2. Ikutilah gurumu ini (Syakhina Maimoen Zubair)
  3. Juallah dirimu kepada Allah dengan berdzikrullah dan mencintai gurumu ini (Syakhina Maimoen Zubair)
  4. Jangan menjual dirimu untuk kemaksiatan dan kesenangan dunia
  5. Dunia itu milik Allah, jika kamu memilih Allah, niscaya dunia akan menjadi milikmu.
Sarang, 26 Mei 2010

Catatan: Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair, Syaikh Rojab Dib As-Subki dan Syaikh Mahmud di acara kunjungannya Syaikh Rajab yang kedua.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.