Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Artikel

Jumat, 29 Maret 2013 - ISMAH Muhadloroh


Sastra Al-quran Adalah Karya Yang Maha Tinggi

Sastra Al-Quran adalah karya yang maha tinggi sebagai Mu’jizat dari Allah bagi Rasulnya )Nabi Muhammad( untuk I’jaz terhadap kaumnya, keindahan bahasa dan uslub-uslubnya Al-Quran bukan hanya memikat pada manusia saja, Melainkan alam lain (Alam jin) yang juga merasakan takjub terhadap apa yang termaktub atau yang termuat di dalam Al-Quran, sampai-sampai terdapat satu surat yang di namai surat Al-Jin, karena menjelaskan cerita-cerita para jin yang terheran-heran dengan Al-Quran, contoh ayat yang menjelaskan kejadian tersebut adalah surat ke 19 dari surat Al-Jin.

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan sesungguhnya ketika hamba allah (Nabi Muhammad) berdiri melakukan sholat, mereka para jin berdesak-desakan untuk mendengarkan lantunan Al-Qurannya”.

Dalam ayat ke 19 ini di jelaskan bahwasannya para jin yang mendengarkan ayat-ayat Al-Quran sampai berdesak-desakan dikarenakan rasa penasaran mereka terhadap alquran yang menakjubkan, sebagaimana di ceritakan di awal surat إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ditambah lantunan ayat dari rasul ketika sedang sholat menjadikan indah ma’na-ma’na yang terkandung,dan karena menikmatinya rasul pun terbiasa dengan surat-surat wustho (surat yang tidak terlalu banyak ayatnya ) untuk bacaannya di waktu sholat, hanya magrib saja yang suratnya surat qhasirah bahkan paling sedikit di sembahyang subuh adalah surat Yasin atau Waqiah.

Keindahan yang terkandung dalam ayat Al-Quran tersebut sering kali membuat para Kafir Quraisy terlena dengannya sehingga pembesar –pembesar Quraisypun merasa gerah dan meminta Nabi Muhammad untuk berhenti dari semua yang beliau kerjakan mulai dakwah sampai usaha memikat perhatian orang-orang Makkah, akhirnya Nabipun menjawab mereka atas dasar wahyu dari Allah yang tertuang dalam ayat.

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا (20) قُلْ إني لا أملك لَكُمْ ضَرًّا ولا رَشَدًا (21) قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرني مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (22) إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا 23

“Katakanlah Muhammad sesungguhnya aku hanya menyembah allah tuhanku dan aku tidak akan menyekutukan suatu apapun padanya. katakanlah Muhammad sesungguhnya aku tak kuasa mendatangkan kemadhorotan padamu dan tidak pula mendatangkan kebaikan kepadamu. katakanlah Muhammad sesungguhnya tidakada seorangpun yang dapat melindungiku dari adzab allah dan saya tidak menemukan tempat berlindung kecuali hanya kembali kepadanya aku hanyalah penyampai agama dan rasul dari allah dan barang siapa mendurhakai allah dan rasulnya maka baginya neraka jahannam dan mereka didalamnya untuk selama-lamanya”.

Nabi Muhammad menjelaskan bahwa status beliau hanyalah sebagai penyampai risalah tuhan, tidak bisa memberi hidayah atau petunjuk kepada siapapun maupun untuk menyesatkannya misalnya ketika nabi menginginkan seseorang yang ada didalam doanya اللهم اعزالاسلام بأ حد العمرين adalah عمرو بن العاص yaitu Abu Jahal karena masih ada hubungan kerabat dengannya akan tetapi yang dipilih oleh allah adalah umar bin khattab.

Dan Orang yang pertama masuk islam adalah Sayyidina Abu Bakar, beliau dari keturunan dari Abdi Syamsin, padahal orang-orang yang memperjuangkan turunnya Nabi di Makkah sebagai Nabi akhir zaman itu adalah keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthollib saudara dari Abdi Syamsin dan Naufal bahkan dari mereka malah menjadi gembong orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad seperti Abu Lahab yang ketika lahirnya Nabi dia memerdekakan budaknya dan menyuruh Suwaibatul Aslamiyyah untuk menyusui Nabi sebagai rasa syukurnya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, ini menunjukkan bahwa Allah فعال لما يشاء

Sayyidina Abu Bakar mendapatkan derajat tinggi ini dikarenakan beliau sering berdampingan dengan Nabi itu bermula ketika Abu Bakar sebagai pedagang dan Siti Khadijah (istri rasulullah sebagai mitranya), karena sering bersama Nabi diapun merasakan pancaran Nur-Nur Muhammad yang langsung menempel dalam kalbunya sehingga senantiasa sejuk, inilah yang mendorong beliau untuk selalu mempercayai Nabi Muhammad SAW, sehingga ketika kejadian Isro’ Mi’roj banyak orang yang menyaksikannya, Abu Bakar dengan tegas berkata “ jika orang yang berkata demikian adalah Muhammad SAW, maka dia adalah orang yang dapat di percaya tanpa adanya keraguan ” karena banyaknya kebersamaan dengan Nabi diapun mendapat martabat yang tinggi sampai-sampai beliaulah yang menemani Nabi Muhammad didalam gua Tsur yang ketika itu sedang dalam pengejaran dari orang-orang kafir quraisy beliapun mendapat gelar ثاني اثنين bahkan setelah dari gua Tsur Nabi masih di buntuti salah satu orang makkah yaitu Suraqah, dia mempunyai indra penciuman sebagai pelacak yang sangat tajam mungkin ini dipengaruhi oleh keadaan daerah sekitar Arab yang banyak sekali terdapat anjing sehingga 4/5 dari orang arab masa itu mempunyai penciuman yang tajam.

Suraqah mengejar Nabi yang hampir diputuskan hilang jejaknya dikarenakan dia tergiur dengan iming-iming 100 unta sebagai sayembara bagi siapapun yang bisa mendapatkan nabi Muhammad baik hidup ataupun mati kembali ke makkah, tapi Allah selalu melindungi Nabinya dari tipu daya orang-orang kafir, yaitu ketika Suraqah sudah dekat jaraknya dengan Nabi dia terpelosok kedalam pasir yang lama-kelamaan seperti akan menenggelamkannya, karena kebingungan dia dengan terpaksa meminta tolong kepada Nabi untuk menolongnya, Nabipun dengan senang hati membantunya karena tidak pernah ada orang yang meminta kepadanya kecuali dia kembali dengan hati yang senang, tapi suraqoh bukan malah berterima kasih dia malah semakin ambisi untuk mengejar Nabi, akhirnya diapun terpelosok lagi dan meminta tolong kepada Nabi, kejadian ini berulang sampai tiga kali. Akhirnya dia menyerah bahkan menjanjikan aman kepada Nabi, yaitu dengan menghalang halangi orang-orang yang hendaknya mengejar Nabi Muhammad.

Penyiksaan dan penghalang-halangan dakwahnya bukan hanya dari Kuffar Makkah saja, Sebelum beliau Hijrah ke Madinah atau Yatsrib beliau pernah menuju daerah Ta’if dengan harapan ada dari penduduk Ta’if yang mau membantunya dalam berdakwah, tapi bukan sambutan hangat yang diterima beliau melainkan sambutan batu-batu dan kotoranlah yang beliau dapati sewaktu itu, sampai-sampai kaki beliau berlumuran darah karena banyaknya luka yang diterima beliau.

Kedatangan Rasulullah ke Ta’if sebagai ijtihad beliau, karena sudah menjadi sunnatullah orang-orsng penguasa Makkah harus melewati Ta’if dahulu. Setelah itu baru Rasul Hijrah ke Madinah atas wahyu dari Allah SWT.

Rasulullah merasakan beliau sebagai penyeru saja walaupun dengan perjuangan sebegitu rumitnya beliau mengakui tidak mempunyai kemanfaatan maupun kemadhorotan terhadap siapapun dan sebagai manusia yang dhoif, walaupun notabenya beliau adalah seorang Rasul, dan Habibullah beliau selalu mencerminkan Uswatun Hasanah dalam dirinya bahkan ketika Sayyidah Fatimah Al batul meminta jariah kepada Rasulullah untuk membantu pekerjaan rumah tangganya beliau malah mengijazahi tasbih, takbir, tahmid sebanyak 30 kali dan memberitahu bahwa itu lebih baik dari jariah, hadiah itu sebagai pengajaran dari beliau supaya jangan Hubbudunya dan karena barokah dari keduanya semua keturunan beliau dijauhkan dari Hubbuddunya, bahkan dari keturunan Sayyid Abbas paman Nabilah yang menjadi raja-raja Khulafaurrasyidin, yang masyhur dengan sebutan Bani Abbasiyyah, itu telah beliau isyarohi dengan pemberian beliau terhadap pamannya Sayyid Abbas harta yang sangat banyak yang beratnya adalah berat yang tak mampu di angkat lagi oleh paman beliau Al Abbas.

 

Artikel di ambil dari pengajian Syaikhina pada hari Ahad, 20 Februari 2013



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.