Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Artikel

Jumat, 26 November 2010 -


Kejernihan Salafus Sholeh di Mata Santri Era Globalisasi

(Mading Putri) : Bagaimana sebenarnya metode pendidikan di pesantren salaf?

(Gus Wafi) : Bismillahirrohmanirrohim, yang pertama kita sebagai santri salaf haruslah bersungguh-sungguh dan berbenah diri, karena perjuangan awal salaf adalah seorang santri harus mempunyai اعــتــقـــاد على الحق (meyakini bahwa dia adalah benar). Sekarang umat islam bermacam-macam dikarenakan tidak mempunyai jati diri, dia sendiri tidak tahu siapa dia. Oleh karena itu, dia tidak mempunyai keyakinan bahwa dia itu benar, maka dengan mudah dia akan termasuki oleh ideologi-ideology bebas. Contohnya sekarang seseorang sudah tidak lagi bangga dengan ciri pakaian umat muslim dan dalam masalah akal seseorang sudah tidak lagi percaya dengan adanya Tuha n, karena itulah kesalafan harus kita banggakan. Dahulu salaf adalah khusus Tafaqquh Fiddin, dalam Al Quran dikatakan :"من يردالله فيه خيرا يفقّهه في الدين" Namun sekarang di Indonesia yang tadinya salaf sudah mulai bergeser dengan munculnya perguruan-perguruan, tetapi tetap menggunakan kata SALAF, kata salafnya tidak dibuang, hanya saja kurikulumnya sudah mulai berkembang. Seharusnya kata salaf secara bahasa adalah kuno, Qodim, atau Nisbi tetapi sekarang salaf sudah menjadi istilah-istilah, karena sesuai dengan sabda Nabi yang dikatakan salaf adalah kurun Shohabat, kurun Tabi'in dan Tabi'uttabi'in,خيرالقرون قرني ثم الذين يلونهم

Tiga kurun ini merupakan paling baik-baiknya masa. Setelah tiga kurun tersebut tidak lagi dinamakan salaf akan tetapi kholaf. Dan walaupun sekarang kita tidak lagi hidup pada masa salaf tetapi kita ikut Manhajnya (caranya/jalannya) ulama salaf berarti intisabnya di salaf.

(Mading Putri) : Lalu sebenarnya salaf itu siapa?

(Gus Wafi) : Salaf adalah yang mengikuti tiga kurun di atas !!!

(Mading Putri) : Perlukah pendidikan salaf diaplikasikan dengan metode baru supaya dapat menarik?

(Gus Wafi) : Bukan hanya pendidikan Salaf, NU juga sudah mengaplikasikannya dengan berpegangan dalil:

المحافظة على القديـــم الصالح والأخذ بالجديد الاصلاح

Artinya kita harus berpegang teguh menjaga sesuatu yang baik dan yang pernah ada, akan tetapi kita juga harus mengambil sesuatu yang lebih baik. Jadi salaf juga harus berubah, namun apabila akan berubah harus mempunyai penyaring yang kuat. Pada dasarnya akal kita pendek dan cepat lupa, apabila akan dimasuki sesuatu yang macam-macam tanpa ada penyaring maka akan buyar. Diprediksikan Minimal 90% ilmu agama dan yang 10% adalah pelengkap.

Dalam hal ini ada 2 istilah : yaitu tsawabit (tetap) dan mutaghoyyir (berubah).
Istilah tsawabit tidak boleh dirubah, karena ini harus menjadi kontek pribadi dan harus ditanamkan dalam diri kita. Istilah yang kedua adalah MUTAGHOYYIROH yang artinya harus dirubah secara serius:
Sebagai seorang santri kita harus sadar bahwa kita jangan selalu merasa menjadi اخلاص لله تعالى orang yang istimewa, walaupun sebenarnya kita itu istimewa dari yang lain.
Kita tidak boleh bangga dengan kepintaran diri sendiri, jadi kita belajar demi untuk mencari Ridho Allah.

خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله من

Metode menyampaikan (kita harus bisa ilmu dan harus bisa menyampaikan ilmu). Dalam artian ketika kita mempunyai sebuah ilmu dan kita di tuntut untuk menyampaikannya, janganlah cara menyampaikan ilmu tersebut sesuai dengan apa yang ada/letterlek (jangan memakai bahasa yang kaku), akan tetapi tidak dapat memahamkan Mukhottob, contoh ضرب زيد عمرا: memukul zaid kepada Umar.

(Mading Putri) : Haruskah para santri menjalankan tirakat demi keberhasilannya?

(Gus Wafi) : Tirakat itu umum mba'.... tidak mikir seperti itu, yang terpenting adalah; kalau malam hari harus melakukan sholat tahajjud, sehabis Ashar membaca wirid minimal 15 menit, yang dipelajari itu hendaknya mengenai ilmu tasawwuf.

(Mading Putri) : Bagaimana dengan masalah santri lebih gemar nyantri di pondok al Qur'an?

(Gus Wafi) : Itu bagus mba'... Imam Syafi'i saja sejak umur 15 tahun sudah hafal Al Quran karena sebagai seorang santri kita harus bisa mengeluarkan dalil-dalil.

(Mading Putri) : Apakah hukum karma itu ada setelah lulusnya santri dari pesantren? Dan apa sebabnya?

(Gus Wafi) : Kalau melihat dari segi dhohirnya sebuah hadits hukum karma itu memang ada dan ALLAH juga telah berfirman bahwa Allah akan membalas perbuatan manusia atas apa yang telah manusia lakukan di dunia. Sebuah contoh apabila ada seseorang yang bangga karena telah melakukan ma'siat mungkin saja hukum karma itu terjadi pada orang tersebut.

(Mading Putri) :Mengapa alumni ponpes ketika akan terjun sebuah pemerintahan harus menjalankan persyaratan-persyaratan tertentu, sedangkan potensi alumni pesantren pada dasarnya sama dengan alumni yang mengenyam pendidikan formal?

(Gus Wafi) :Sebagai seorang santri jangan mikir panjang-panjang mengenai hal tersebut, cukup fikirlah
فيي سبيلل الله, cukup fikirkan " hari ini saya tidak melakukan maksiat ", berfikirlah kalau besok kamu tidak akan hidup lagi, dan sebagai seorang perempuan cukup mengerjakan sholat, puasa, zakat, dan taat kepada suami, pasti pintu surga semuanya akan terbuka untukmu.

(Mading Putri) :Bagaimana cara kita mempertahankan kesalafan di zaman global ini?

(Gus Wafi) :Pada zaman nabi Muhammad SAW beliau memakai pakaian khas Makkah, tetapi setelah pindah ke Madinah beliau juga memakai pakaian yang berbeda. Pada zaman Nabi tidak pernah memakai ZUJAJ ( benda-benda kaca ) akan tetapi memakai kayu, zaman shohabat sudah mulai beralih ke kaca. Pada zaman Nabi pertama kali berkhothbah beliau naik di atas pelapah kurma, namun beliau mendapat tawaran dari saudagar perempuan yang kaya untuk membuatkan beliau sebuah mimbar. Zaman Nabi tidak ada jamban tapi zaman shohabat sudah mulai terdapat jamban, jadi zaman sekarang apa yang harus kita ikuti untuk mempertahankan kesalafan ? akankah kita tidak tidak memakai alat kaca, jamban, mimbar dan lain sebagainya ? yang harus diikuti adalah MANHAJ beliau. bukan kok dzatiahnya. Manhaj yang sesuai dengan Nabi 'ala ahlissunnah wal jama'ah ( menurut Qowaidul fiqh inbatul ahkam.

Zaman sekarang ada segolongan orang yang mengatakan tahlil dan manaqib adalah bid'ah, karena dahulu nabi tidak mengajarkan tahlil dan manaqib akan tetapi walaupun dahulu tidak ada tapi saat ini kita harus mengikuti manhaj beliau, yaitu : dahulu nabi juga berdoa, berdzikir, Bukannya isi tahlil juga doa dan dzikir?

(Mading Putri) :Bagaimana tentangkehadiran Himmati Di PP Putri AL ANWAR. Apakah dapat menambah pengalaman atau bahkan dapat mengganggu tujuan pesantren sendiri yang berlandaskan salaf ?

(Gus Wafi) :Seperti yang telah dikatakan di atas, sebuah pepatah mengatakan,

المحافظة على القديـــم الصالح والأخذ بالجديد الاصلاح

Apabila itu yang menjadikan lebih baik, apa salahnya ?

(Mading Putri) : Apa pesan untuk para santri atau aumni supaya tetap semangat untuk memperjuangkan ilmu syar'i ditengah persaingan dunia globalisasi ?

(Gus Wafi) :Sebagai manusia jangan sampai sombong melakukan ma'siat apa saja, asal jangan sombong nanti tidak diapa-apakan oleh Allah".

Wawancara mading PP Al Anwar Putri dengan KH. Wafi Maimoen)



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.