Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Artikel

Selasa, 05 Oktober 2021 - Tim Media Al-Anwar


Rebo Wekasan, Hari penuh Bala’?

        Hari rabu terakhir bulan Shofar sering diyakini sebagai hari sial ataupun hari naas, hari dimana Allah SWT menurunkan seluruh bala’ pada satu tahun dari lauhil mahfudz menuju langit dunia, ada yang mengatakan bahwa jumlah bala’ tersebut sebanyak 320.000. Semua diturunkan pada hari tersebut dan tentunya menjadikan hari tersebut sebagai pemilik predikat hari terburuk dan tersial dalam satu tahun.

Kemudian ada juga yang meyakini bahwa siapapun yang pada hari itu menulis tujuh ayat salamah , yakni:

سلام على إبراهيم

 

سلام على نوح في العالمين

 

سلام قولا من رب رحيم

سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين

 

سلام على إلياسين

 

سلام على موسى وهارون

 

 

سلام هي حتى مطلع الفجر

 

 

Memasukkannnya pada satu wadah, dicampur dengan air dan kemudian meminumnya; ia tidak akan terkena bala’-bala’ tersebut. Mungkin saja mereka semua bertendensi pada satu hadits, yaitu

يوم الأربعاء يوم نحس مستمر

Hari Rabu adalah hari naas yang terus menerus.

 

Lantas apakah semua keyakinan yang telah disebutkan di atas dapat dibenarkan? Jawabannya -seperti yang telah ditetapkan dalam Nadwah Fiqhiyyah PP. Al-Anwar tahun 2008- bahwa itu semua tidak benar dan tidak berdasar, adapun hadits di atas merupakan hadits Dho’if dan tidak diperkenankan untuk dibuat pijakan keyakinan.

Pun begitu, dalam hadits yang shohih telah diriwayatkan dari Ibn Jarir dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

لا عدوى ولا هامة ولا صفر، خلق الله كل نفس فكتب حياتها ومصيباتها ورزقها

“Tidak ada penyakit yang menular, tidak ada kematian, dan tidak kejelekan di bulan Shofar; Allah menciptakan seluruh nyawa, kemudian menetapkan kehidupan, musibah, dan seluruh rezekinya. (HR. Ahmad)

Hadits di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Bala’, penyakit, dan musiba apapun tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk membuat manusia atau apapun tersakiti. Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi kita untuk meyakini bahwa hari Rabu atau pada hari tertentu merupakan hari yang sial.

Namun, bagaimana dengan hukum melakukan sholat empat roka’at yang biasa dilakukan di antara maghrib dan isya’ pada hari tersebut?

Hukumnya tidak diperbolehkan andaikan kita berniat bahwa sholat tersebut merupakan sholat yang disyari’atkan secara khusus, karena memang tidak ada Dalil pijakan atas hal tersebut, dan hal itu merupakan Bid’ah Madzmumah.

Namun jika kita berniat Sholat Sunnah Muthlaq ataupun Sholat Sunnah Hajat maka diperbolehkan.

Sedikit tambahan, bahwa bulan ini sering disebut sebagai Shofarul Khoir, Shofar yang Baik; hal ini bukan karena bulan ini lebih baik daripada bulan lainnya, namun dengan tujuan untuk menolak keyakinan orang-orang Jahiliyyah yang berkeyakinan bahwa bulan ini penuh dengan kesialan, keburukan, dan bala’ yang tiada habisnya.

Akhir kata, semoga keyakinan kita semua tetap diteguhkan oleh Allah SWT dalam jalan yang benar.

 

Referensi:

Ta’liqot Nihayatuz Zain

Minhajus Surur

Jawahirul Khoms

 

 

 

 

 

 



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.