Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Beranda Al Anwar

Sabtu, 10 Juli 2021 - KH. Ahmad Wafi Maimoen


Syarat Diterimanya Amal Kebaikan

لَا عَمَلَ اَرْجَى لِلقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيْبُ عَنْكَ شُهُوْدُهُ وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُوْدُهُ

Tidak ada satu amal yang lebih diharapkan-harapkan diterima Allah Ta’ala melebihi amalmu yang terlupa keberadaan amal itu, dan remeh menurutmu.

            Amal yang diterima Allah adalah amal yang dilakukan murni semata-mata karena Allah dan mencari keridhoan-Nya, tidak tercampur dengan tujuan yang lain. Disertai mengakui bahwa yang menggerakan untuk beramal itu Allah.      

Semua amal itu berkat petunjuk, pertolongan dan taufiq-Nya. Karena sejatinya manusia itu tidak memiliki apa-apa. Semuanya kepunyaan Allah, yang menggerakan untuk meringankan beramal saleh juga Allah. Saat kita beramal harus meyakini bahwa itu dari Allah dan untuk Allah semata. Kita tidak pantas menuntut imbalan pahala, karena semuanya dari Allah.

Kalau ingin amal kita diterima, maka janganlah melihat amal itu, hilangkan dan lupakan. Seakan-akan  engkau belum melakukan amal tersebut. Seperti pepatah orang Jeddah:

إِعْمَلِ الْخَيْرَ وَارْمِ فِي الْبَحْرِ

Berbuatlah amal kebaikan dan buanglah ke laut

 

            Bila amal itu dilupakan, maka pelakunya akan bertambah semangat menambah amal baik. Ia akan giat beribadah karena merasa tidak pernah memiliki amal baik. Ini menunjukkan bahwa ia sungguh-sunggu mengharap ridho Allah.

            Mengingat-ingat amal itu berbahaya. Karena dengannya orang akan menjadi ujub. Sedangkan ujub adalah dosa besar, dalam ranah ini dikarenakan orang yang bedosa kemudian segera bertobat kepada Allah itu lebih baik daripada orang banyak beramal disertai ujub. Sebab dengan ujub itu merasa besar diri, tidak membutuhkan Allah, ini tidak disukai Allah. Sedangkan orang yang bertobat merasa rendah diri. Kemudian menarik diri untuk selalu mendekatkan kepada Allah, dan inilah yang disukai Allah.

            Konsekuensi jika mengigat-ingat amal kebaikannya, ia merasa baik dan suci maka ia tak ada harapan untuk diterima di sisi Allah. Padahal Allah telah berfirman :

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Jangan kamu menganggap dirimu itu suci, Allah Maha Mengetahui siapa yang bertakwa.(Q.S An Najm:32)

 

Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa, sesuai dengan firman Allah:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sungguh Allah hanya menerima amal dari orang bertakwa.(Q.S Al Maidah:27)

 

            Selanjutnya dari tanda amal itu diterima, orang yang beramal itu tidak menggantungkan dirinya pada amalnya. Namun ia menggantungkan dirinya pada Dzat yang memberikan petunjuk untuk melakukan amal tersebut, tidak lain Dzat itu adalah Allah Ta’ala.

            Dengan ini kita paham bahwa orang yang melakukan amal kebaikan dan terhindar dari maksiat itu sudah kedahuluan rahmat pertolongan Allah, maka bersyukurlah. Sebaliknya orang yang melakukan maksiat berarti tidak mendapat pertolongan Allah, maka beristigfarlah.

 

            Abu  Sulaiman Ad-Darani berkata:

 

مَا احْتَسَنْتُ لِنَفْسِيْ عَمَلًا فَاحْتَسَبْتُهُ

Saya tidak pernah menganggap amalku baik, sehingga aku berharap pahala dari Allah

 

            Begitu juga para sufi selalu khawatir dan curiga terhadap dirinya. Merasa rendah hati dan tidak menoleh ke amalnya. Mereka selalu waspada dan menjelekkan diri mereka sendiri. Mereka khawatir amalnya tidak diterima di sisi Allah.

            Garis besarnya, marilah belajar melupakan amal kita dengan cara selalu curiga dengan nafsu, merasa kurang dan takut amalnya tidak diterima Allah.



© Copyright 2004-2021 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.