Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Hikmah

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Selasa, 10 Pebruari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc
Dalam penggalan pertama hikmah ini Ibnu 'Athaillah mengatakan bahwa semua alam ini serba gelap dan Allah lah yang menyinarinya. Alam yang terlihat oleh mata kita ini bisa saling tersusun dan berinteraksi karena adanya cahaya yang masuk pada alam tersebut. Sumber cahaya tersebut tak lain adalah dari Allah swt. Hal ini terjadi karena alam semesta ini tidak bisa wujud dengan sendirinya melainkan...
Kamis, 05 Pebruari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc
Di dalam hikmah ini Ibnu 'Atha'illah mencoba mengulas tentang pentingnya ikhlas. Setelah kita mengetahui bahwa amal-amal yang digunakan seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak hanya terbatas pada hal-hal yang wajib, melainkan mencakup semua hal yang bisa memberi manfaat dan maslahah kepada individu maupun masyarakat. Dan setelah kita mengerti bahwa Allah membagi amal-amal...
Rabu, 04 Pebruari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc.
"Amal itu bermacam-macam sesuai kondisi seseorang."
Senin, 02 Pebruari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc
Seseorang ketika telah berada dalam dunia kegelapan dan kesesatan, maka dengan kehendak Allah SWT bisa berpindah menuju dunia yang terang dan mengetahui Allah SWT (ma’rifat). Adapun untuk sampai pada derajat ma’rifat (mengetahui Allah SWT), ada dua thoriqoh
Minggu, 01 Pebruari 2009 - KH Muhammad Wafi Maimoen, Lc

?„?§ ???ƒ?† ???£?®?± ?£?…?¯ ?§?„?¹?·?§?? ?…?¹ ?§?„?§?„?­?§?­ ???? ?§?„?¯?¹?§?? ?…?ˆ?¬?¨?§ ?„???£?³?ƒ ???‡?ˆ ?¶?…?† ?„?ƒ ?§?„?§?³???¬?§?¨?© ?????…?§ ???®???§?±?‡ ?„?ƒ ?„?§ ?????…?§ ???®???§?±?‡ ?„?†???³?ƒ ?ˆ???? ?§?„?ˆ?‚?? ?§?„?°?? ???±???¯ ?„?§ ???? ?§?„?ˆ?‚?? ?§?„?°?? ???±???¯

Janganlah do'a yang lama di kabulkan padahal engkau telah meminta dengan sungguh-sungguh menjadikan engkau putus asa, karena Allah SWT pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya bukan sesuai dengan keinginanmu dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan pada waktu yang engkau inginkan .

Penjelasan dan dalilnya

Setelah seorang hamba melakukan asbab-asbab dan meninggalkan pengaturan serta bertawakkal kepada Alloh SWT atas hasil-hasil asbab yang dia lakukan, maka dia dituntut untuk berdo'a kepada Alloh SWT. Ini adalah merupakan bukti bahwa dia adalah makhluk yang butuh kepada kholiqnya.

Alloh SWT telah berfirman di dalam surat Al-Mu'min ayat : 60 :

?ˆ???‚???§?„?? ?±???¨?‘???ƒ???…?? ?§?¯?’?¹???ˆ?†???? ?£???³?’?????¬???¨?’ ?„???ƒ???…?’ [???§???±/60]

Artinya :

Dan tuhanmu berfirman "Berdo'alah kepadaku, niscaya akan kuperkenankan bagimu".

Terkadang ada orang yang sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di dalam do'anya. Sehingga dia menyangka bahwa Alloh tidak menepatinya janjinya.

Perasangka ini adalah sebuah kesalahan yang sangat vital dan tidak bisa di tolelir lagi hal ini dikarenakan kebanyakan orang hanya meminta dengan mulutnya tersebut, dia tidak memahami makna dari do'a dan syarat-syaratnya.

Meminta (tholab) itu, belum bisa di katakan do'a, karena diantara do'a dan tholab terdapat perbedaan yang sangat besar.

Tholab adalah sifat dari suatu lafadz (kata-kata) yang di ucapkan oleh orang yang meminta. Sedangkan do'a adalah suatu ibarat tentang keadaan dan perasaan hati orang yang meminta.

Keadaan hati yang bisa menjadikan tholab disebut do'a hanya bisa terwujud dengan adanya dua persyaratan sebagai berikut :

  • sadarnya hati dan perasaan dengan penuh rasa rendah diri dan tawadlu' di hadapan Alloh SWT.

    Apabila hati belum sadar dan belum ada perasaan rendah diri dan tawadlu' kepada Alloh SWT, tetapi mulut hanya mengucapkan do'a dengan kalimat-kalimat yang telah di hafalkan padahal hatinya lupa dan pikirannya melayang, maka permintaan ini belum bisa dikatakan do'a melainkan hanyalah sebuah tholab. Atau bisa disebut do'a secara lughowi yakni do'a yang dikehendaki oleh ahli lughot arab ketika berbicara tentang kalam khobar dan kalam insya'.

    Jadi ketika seseorang dengan hati yang tertutup dan tidak ada rasa tawadlu' maka bagaimana mungkin permintaan itu dikabulkan?.

    Demikian pula banyak sekali di jumpai orang yang sedang memiliki impian-impian dan harapan-harapan dunia dan dia yakin bahwa impian-impian tersebut akan terwujud ketika dia berdo'a dengan do'a-do'a khusus yang bila seseorang meminta kepada Alloh dengan do'a-do'a khusus tersebut, pasti akan dikabulkan. Maka diapun berusaha mencari do'a-do'a tersebut dari kitab-kitab para ulama, para santri dan sebagainya. Setelah dia menemukannya maka dia akan menghafalkannya. Do'a tersebut dia ucapkan berkali-kali, berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu padahal hatinya masih kosong dan dia berpaling dari perintah-perintah dan wasiat-wasiat Allah SWT. Akhirnya setelah menuggu sekian lama, ternyata permintaannya tidak ada satupun yang dikabulkan oleh Alloh SWT. Akibatnya, diapun mengklaim bahwa Allsh SWT tidak menepati janjinya. Ini adalah salah satu kebodohan, karena dia tidak mengetahui ma'na do'a yang sebenarnya.
  • Orang yang berdo'a harus bertaubat dengan taubat nasuha dari semua yang pernah ia lakukan dan menjadikan taubat ini sebagai penolong do'anya.

    Adapun orang yang meminta kepada Alloh SWT, padahal dia belum bertaubat dan masih melakukan maksiat, berarti dia adalah orang yang tidak bisa menggunakan akalnya dan pasti do'anya tidak akan dikabulkan.

    Hal ini bisa kita analogikan dengan keadaan yang kita jumpai di masyarakat. Contoh kecilnya adalah sebagai berikut: Ada seseorang yang mengajukan proposal dan meminta bantuan kepada salah satu pejabat yang ada di kotanya, padahal orang tersebut masih memiliki permusuhan dengan sang pejabat. Bila dia langsung mengajukan proposal dan meminta bantuan tanpa meminta maaf terlebih dahulu, pastilah sang pejabat tidak akan menyetujui proposal dan permintaaanya.

    Ini adalah contoh kecil hubungan yang terjadi di antara sesama manusia yang mana status mereka adalah makhluk Alloh SWT. Maka bagaimana bila hal ini terjadi antara hamba Alloh yang hina dengan Dzat yang menguasai dan mengaturnya ?

    Alloh SWT telah memerintahkan kepada Hamba-Nya untuk tidak mendustakan-Nya tetapi dia tidak memenuhi perintah tersebut. Lalu Alloh SWT menyuruhnya untuk bertaubat, namun dia tidak mau bertaubat. Dan disaat kondisi seperti ini dia meminta kepada Alloh SWT sehingga Alloh SWT tidak mengabulkannya, ujung-ujungnya dia mengklaim bahwa Alloh SWT tidak memenuhi janji-Nya. Manusia seperti ini adalah manusia yang tidak berakal dan tidak memiliki adab terhadap sang kholiq, sebab permintaan yang dia ajukan hanyalah tholab dan tidak bisa dikatakan do'a yang disebut dalam firman Alloh SWT : (?ˆ?‚?§?„ ?±?¨?ƒ?… ?§?¯?¹?ˆ?†?? ?£?³???¬?¨ ?„?ƒ?…)

Doa untuk sendiri dan orang lain

Seseorang yang sudah melakukan 2 (dua) syarat taubat ini, maka ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri pasti do'anya akan di kabulkan. Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak, maka seringkali do'anya tidak dikabulkan. Hal ini dikarenakan ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri maka sangat mudah bagi dirinya untuk bertaubat dan berhenti melakukan ma'siat. Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak maka syarat ini sulit untuk diwujudkan, karena di dalam masyarakat masih terdapat orang-orang yang berdo'a dan belum bertaubat. Sedangkan terkabulnya do'a untuk masyarakat itu digantungkan pada taubatnya orang yang berdo'a dan taubatnya masyarakat yang di do'akan.

Maka dari itulah engkau berdo'a untuk masyarakat agar Alloh menghilangkan kesusahan dan kemiskinan yang menimpa mereka hendaknya engkau mengingatkan mereka untuk bertaubat dari dosa-dosanya, bila mereka bisa bertaubat dengan taubat nasuha, maka do'amu pasti akan terkabulkan. Dan sebaliknya bila mereka belum bisa bertaubat dengan nasuha, maka janganlah engkau berharap do'amu akan dikabulkan.

Arti di istijabahi (dikabulkan )

Ketika syarat-syarat do'a ini sudah di penuhi maka Alloh SWT pasti akan mengabulkan do'a tersebut. Tetapi jangan engkau menyangka bahwa terkabulnya do'a (istijabah) itu sama persis dengan apa yang kamu harapkan. Karena istijabah yang dijanjikan oleh Alloh SWT kepada hambanya itu memiliki ma'na yang lebih luas dari apa yang engkau harapkan.

Istijabah ma'nanya adalah Alloh SWT mewujudkan tujuan dari permintaanmu dan bukan berarti tujuan tersebut bentuknya sama persis dengan apa yang engkau harapkan. Contohnya ada seseorang yang meminta suatu pekerjaan kepada Alloh SWT karena dia menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa menyampaikan tujuannya dan merupakan hal yang terbaik baginya. Akan tetapi Alloh SWT mengetahui bahwa pekerjaan yang dia inginkan itu tidak akan mendatangkan kebaikan bahkan bisa menyebabkan kejelekan. Lalu Alloh SWT mengganti pekerjaan tersebut dengan hal lain yang lebih baik dan bisa menyampaikan pada tujuan yang dia harapkan.

Alloh SWT berfirman dalam Surat Al-Baqoroh ayat : 216

?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?’?‚???????§?„?? ?ˆ???‡???ˆ?? ?ƒ???±?’?‡?Œ ?„???ƒ???…?’ ?ˆ???¹???³???‰ ?£???†?’ ?????ƒ?’?±???‡???ˆ?§ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???‡???ˆ?? ?®?????’?±?Œ ?„???ƒ???…?’ ?ˆ???¹???³???‰ ?£???†?’ ?????­???¨?‘???ˆ?§ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???‡???ˆ?? ?´???±?‘?Œ ?„???ƒ???…?’ ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?????¹?’?„???…?? ?ˆ???£???†?’?????…?’ ?„???§ ?????¹?’?„???…???ˆ?†?? [?§?„?¨?‚?±?©/216]

Artinya :

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Alloh mengganti sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqoroh ayat : 216)

Dan makna ini sudah di isyaratkan oleh Ibnu Atho'illah di dalam hikmahnya:

???‡?ˆ ?¶?…?† ?„?ƒ ?§?„?§?³???¬?§?¨?© ?????…?§ ???®???§?±?‡ ?„?ƒ ?„?§ ?????…?§ ???®???§?±?‡ ?„?†???³?ƒ

Karena Alloh pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan keinginanmu.

Bila kita amati, hal-hal seperti ini banyak terjadi di kehidupan kita. Banyak orang yang mengharapkan suatu pekerjaan dan menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa mewujudkan impian-impian dan cita-citanya. Sehingga diapun berdo'a kepada Alloh agar memberikan pekerjaan tersebut. Namun setelah meminta dengan waktu yang lama ternyata yang dia harapkan tidak kunjung tiba, sampai-sampai dia menyangka bahwa Alloh SWT tidak mengabulkan do'anya. Tetapi pada akhirnya Alloh SWT menciptakan asbab-asbab lain yang bisa menghantarkan dia kepada cita-citanya. Dan ketika dia berfikir dan mengamati asbab-asbab tersebut maka dia tahu bahwa asbab-asbab itu lebih baik dari pada pekerjaan yang dia inginkan sehingga akhirnya dia memuji pada Alloh SWT atas nikmat tersebut,nikmat ini adalah anugerah yang besar dari Alloh SWT dan sebuah keajaiban, karena sebelumnya seseorang memandang bahwa perkara yang dia harapkan itu adalah yang terbaik. Namun pada hakikatnya perkara tersebut berakibat buruk dan akhirnya diganti oleh Alloh SWT dengan hal yang lebih baik dan berguna baginya.

Sebuah kesalahan lagi yang terjadi pada sebagian orang adalah putus asa di saat berdo'a. ketika seseorang sudah dan memenuhi syarat-syaratnya, namun setelah menunggu beberapa minggu yang menurut dia seharusnya do'anya telah dikabulkan, maka hal ini menyebabkan diriya berputus asa untuk berdo'a. sehingga hati kecilnya berkata : "Aku sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun belum juga dikabulkan".

Ini adalah sebuah kebodohan yang menyelimuti kebanyakan orang-orang yang ditimbulkan oleh rasa sangat menyukai impian-impian dan harapan-harapan yang mereka cita-citakan.

Bentuk kesalahan ini, karena mererka menyangka bahwa do'a yang telah di perintahkan oleh Alloh SWT adalah sebagai wasilah (alat) untuk sampai pada ghoyah (tujuan). Makanya do'a hanya dia gunakan ketika membutuhkan sesuatu atau tertimpa musibah. Dan bila hajatnya telah di penuhi dan musibahnya telah hilang, maka dia tidak butuh untuk berdo'a.

Persangkaan yang keliru ini akan membawa seseorang dalam kesedihan yang mendalam ketika dia telah berdo'a, namun dalam waktu yang dia harapkan ternyata do'anya belum dikabulkan. Sehingga dia yakin bahwa do'a yang telah dia ucapkan berkali-kali tidak ada faedahnya sama sekali. Dan hal ini bisa menyebabkan dia putus asa dalam berdo'a. ini semua karena dia memandang bahwa do'a hanyalah sebatas wasilah. Padahal sebenarnya dzatiyanya dari do'a adalah sebuah ghoyah tersendiri.

Manusia adalah seorang hamba yang dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu di dalam setiap detiknya pasti dia membutuhkan Tuhannya di dalam menghadapi semua problem yang bermacam-macam. Diantara tugas hamba yang terpenting adalah memperlihatkan ubudiyyahnya kepada Allah SWT. Hal ini bias dilakukan dengan cara membuktikan bahwa dia sangat butuh kepada-Nya, dan dengan memperlihatkan bahwa kehidupannya, kebahagiaannya itu tergantung pada penjagaan Allah SWT. Perwujudan ubudiyyah ini bias dilakukan dengan berdo’a baik dia menyangka bahwa do’anya ini akan berpengaruh ataupun tidak.

Allah SWT berfirman :

?ˆ?‚?§?„ ?±?¨?ƒ?… ?§?¯?¹?ˆ?†?? ?£?³???¬?¨ ?„?ƒ?…

Ayat tersebut mengandung perintah kepada manusia agar memiliki sifat ubudiyyah kepada Allah SWT, yaitu pada kalimat ?£?¯?¹?ˆ?†?? . dan perintah ini adalh perintah yang mutlak tanpa ada qoyyid tertentu dan tidak di hubungkan dengan syarat. Selain itu ayat tadi juga mengandung janji yang menunjukkan sifat rahmat Allah SWT kepada hambanya dengan memberi anugerah yang tidak terhitung yaitu pada kalimat ?§?³???¬?¨ ?„?ƒ?… .

Antara dua hal yang di kandung ayat tersebut tidak ada hubungan yang slaing mengikat. Maknanya, janji tersebut timbulnya bukanlah dari doa tetapi dari rahmat Allah SWT. Namun banyak orang yang mengira bahwa ketika dia berdo’a, maka dia telah membeli istijabah.

Rosululloh SAW, bersabda :

???³???¬?§?¨ ?„?£?­?¯?ƒ?… ?…?§?„?… ???¹?¬?„ , ???‚?ˆ?„ : ?‚?¯ ?¯?¹?ˆ?? ???„?… ???³???¬?¨ ?„??

Artinya :

Salah satu diantara kalian pasti dikabulkan do’anya selama tidak tergesa-gesa. Dia berkata: saya telah berdo’a tapi belum juga dikabulkan.

Maksudnya dari hadist di atas adalah seseorang akan di kabulkan do’anya selama dia tidak menyangka bahwa dia memiliki hak yang harus di penuhi oleh Allah SWT yaitu sitijabah dan selama hatinya tidak berkata : “saya sudah berdo’a, tetapi kenapa saya belum memperoleh hak saya yang berupa istijabah�.

Jadi ubudiyyah (do’a) dan istijabah adalah dua perkara yang berbeda dan tidak ada keterkaitan. Do’a adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang hamba sebagai perwujudan ubudiyyah di hadapan Allah SWT, tanpa memandang dari hasil yang di dapatkan dari do’a tersebut.

Rosululloh SAW, bersabda :

?§?„?¯?¹?§?? ?‡?ˆ ?§?„?¹?¨?§?¯?©

Do’a adalah ibadah�.

Sedangkan istijabah adalah anugerah dan karunia dari Allah SWT, bukan hasil dari do’a.

Kesimpulannya, jalan yang wajib di tempuh oleh seorang muslim adalah menunjukkan bahwa dia butuh kepada Allah SWT di dalam setiap keadaan. Dan memperlihatkan hal itu dengan tawadlu’ dan rendah hati tanpa memandang hasil-hasil yang akan di peroleh, tetapi dia harus yakin bhwa dengan sifat rahmat dan ihsan-Nya akan mengabulkan do’a-do’anya.

Adapun hikmah diakhirkannya istijabah itu adalah melatih seseorang hamba untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayat ?§?¯?¹?ˆ?†?? ?§?³???¬?¨ ?„?ƒ?… , dan supaya mengerti bahwa isijabah itu bukanlah hal yang wajib ada ketika seseorang berdo’a, melainkan istijabah adalah murni anugerah Allah SWT. Sehingga do’a dan penantian istijabah dengan kesabaran dan tenang menjadi bagian dari ibadah. Bahkan bisa menjadi kunci dan ruh ibadah. Rasulullah SAW, bersabda :

?§?†???¸?§?± ?§?„???±?¬ ?¹?¨?§?¯?©

Artinya :

Menanti kelapangan adalah ibadah.

Penjelasan di atas adalah makna dari juz akhir yang terdapat di dalam hikmah ini yaitu :

?ˆ???? ?§?„?ˆ?‚?? ?§?„?°?? ???±???¯ ?„?§ ???? ?§?„?ˆ?‚?? ?§?„?°?? ???±???¯

Allah akan mengbulkan do’a pada waktu yang dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.

Sabtu, 31 Januari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc.
Etika yang tidak kalah penting bagi seorang mukmin adalah yakin akan janji Allah. Seorang yang patuh kepada Allah harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Jika kewajiban tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan benar, maka Allah akan memenuhi janjinya, yaitu mensejahterakan kehidupan dan menjadikan masyarakat disekelilingnya patuh demi kebaikan mukmin tadi. Hal...
Jumat, 30 Januari 2009 - KH Muhammad Wafi Maimoen, Lc

?§?±?­ ?†???³?ƒ ?…?† ?§?„???¯?¨???± ???…?§ ?‚?§?… ?¨?‡ ?????±?ƒ ?¹?†?ƒ ?„?§ ???‚?… ?¨?‡ ?„?†???³?ƒ

Janganlah hatimu mengatur karena kamu tidak akan bisa mengurus urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT.

Sebagian orang menyangka bahwa hikmah di atas bertentangan dengan salah satu hikmah yang pernah dikemukakan oleh Ibnu 'Athaillah.

Tetapi pada hakikatnya antara kedua hikmah tersebut tidak ada kontradiksi, bahkan keduanya adalah dua hal yang selaras dan saling melengkapi.

Bila di pandang dari pengertian dan sumbernya, maka diantara melakukan asbab dan mengatur urusan dengan hati (Sadar) terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu adalah:

  • Melakukan asbab adalah suatu usaha yang dilakukan oleh anggota badan dengan sungguh-sungguh, seperti halnya orang mencari nafkah dengan cara pergi ke pasar untuk berdagang, orang mencari ilmu dengan cara belajar, orang mendatangi dokter atau pergi ke rumah sakit untuk berobat, orang manjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan bahaya, dan lain-lain.

    Sedangkan tadbir adalah suatu pekerjaan berfikir dan keadaan akal seperti seseorang merencanakan keuntungan dari dagangannya, merencanakan kesuksesannya, merencanakan kesembuhannya penyekitnya, merncanakan keselamatannya, dan lain-lain.

    Didalam hal ini asbab berada pada pengawasan dan pengaturan, dan akalnya adalah kunci dari kesuksesan dan sumber pengaturannya.
  • Melakukan asbab sumbernya adalah anggota badan dan hal ini sangat dianjurkan dan disenangi oleh syara'.
    Sedangkan tadabbur, sumbernya adalah hati dan akal. Hal ini sangat di larang dan dibenci oleh syara'.

    Kedua hal ini bila dikendalikan dengan selaras maka akan mewujudkan metode kehidupan yang Islami pada pribadi seorang muslim. Dia akan pergi ke pasar untuk melakukan asbab dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Apabila ada orang mendatanginya dan bertanya; "Apa yang engkau harapkan dari pekerjaan dan kesungguhanmu ini?". Maka dia akan menjawab dengan mantap: "Ini adalah kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadaku, aku melakukannya sesuai dengan cara yang telah ditentukan syari'at". Dan bila orang tersebut bertanya lagi: "Apa yang akan diberikan oleh Allah atas imbalan dari pekerjaanmu ini?", maka dia akan menjawab dengan tenang : "Itu semuanya sudah diatur oleh Allah SWT dan aku pasrah atas qadla'-Nya sera ridla atas semua keputusan-Nya".

    Ini adalah metode kehidupan Islam yang diingatkan oleh Ibnu 'Atha'illah di dalam sebuah kalam hikmahnya yang bermakna "Melakukan asbab-asbab sesuai dengan syari'at dan pasrah terhadap keputusan dan pengaturan Allah SWT.

    Metode ini sebenarnya pernah diamalkan oleh panutan kita Nabi Muhammad SAW. Kita bisa mempelajarinya dari perjalanan beliau saat hijrah dari Makkah Al-Mukarramah menuju ke Madinah Al-Munawwarah yang ditemani oleh sahabat beliau yang sangat setia yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

    Pada waktu hijrah, beliau melakukan asbab-asbab sehingga seolah-olah diyakini bahwa hal ini adalah sebuah syarat yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan dan keselamatannya.

    Nabi Muhammad SAW di dalam permulaan hijrahnya keluar dari rumah dengan sembunyi-sembunyi. Beliau meninggalkan Ali bin Abi Thalib ra. dalam keadaan tidur diranjangnya, sampai-sampai orang-orang musyrik menyangka bahwa yang tidur di ranjang adalah Rasulullah SAW, dan akhirnya mereka tidak bisa mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq menyuruh pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah untuk membuntuti jejak mereka berdua agar bisa menghapus bekas-bekas langkah kaki mereka berdua.

    Kemudian mereka berdua sampai di gua Tsur dan bermukim di sana sampai tiga hari. Pada waktu itu beliau mengadakan akad ijarah (menyewa) dengan selaku seorang musyrik yang bisa dipercaya. Orang tersebut bernama Abdullah bin Arkqath. Dia di sana untuk menunjukkan jalan yang aman agar sampai di kota Madinah Al-Munawwarah dengan selamat. Ini semua adalah contoh-contoh melakukan asbab yang sempurna.

    Di tengah-tengah persembunyian beliau di gua Tsur, tiba-tiba ada segerombolan orang-orang musyrik yang smpai di depan gua. Lubang gua pun mereka awasi dan perhatikan. Namun, di lubang gua tersebut terdapat laba-laba dan burung bersemayam di situ, sehingga mereka tidak mengintai ke dalam gua. Pada waktu itu Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat khawatir dan beliau membisikkan di telinga Nabi Muhammad SAW sembari berkata "Seandainya salah satu dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya maka dia akan melihat kita", lalu Rasulullah SAW menjawabnya dengan tenang "Yang kamu sangka dua orang, maka Allah adalah yang ketiga". Ini adalah bentuk tawakkal dan pasrah atas qadla' dan pengaturan Allah SWT. Peristiwa ini telah di nash di dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah, ayat 40:


    ?¥???„?‘???§ ?????†?’?µ???±???ˆ?‡?? ?????‚???¯?’ ?†???µ???±???‡?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¥???°?’ ?£???®?’?±???¬???‡?? ?§?„?‘???°?????†?? ?ƒ???????±???ˆ?§ ?«???§?†?????? ?§?«?’?†?????’?†?? ?¥???°?’ ?‡???…???§ ?????? ?§?„?’?????§?±?? ?¥???°?’ ?????‚???ˆ?„?? ?„???µ???§?­???¨???‡?? ?„???§ ?????­?’?²???†?’ ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?…???¹???†???§ ?????£???†?’?²???„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?³???ƒ?????†???????‡?? ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???£?????‘???¯???‡?? ?¨???¬???†???ˆ?¯?? ?„???…?’ ?????±???ˆ?’?‡???§ ?ˆ???¬???¹???„?? ?ƒ???„???…???©?? ?§?„?‘???°?????†?? ?ƒ???????±???ˆ?§ ?§?„?³?‘?????’?„???‰ ?ˆ???ƒ???„???…???©?? ?§?„?„?‘???‡?? ?‡?????? ?§?„?’?¹???„?’?????§ ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?¹???²?????²?Œ ?­???ƒ?????…?Œ (40)

    Artinya :

    Jikalau kamu tidak menolomgnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (Musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang keduanya berada dalam gua (Tsur), di waktu dia berkata kepadanya "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan ketenangannya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimah Allah-lah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Bijaksana.

  • Ketika Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra keluar dari gua Tsur dan meneruskan perjalanannya, tiba-tiba datanglah suraqah dengan menunggang kuda. Dia mengejar Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dengan tujuan jelek yaitu ingin membunuh Nabi Muhammad karena tergiur dengan hadiah yang akan di berikan oleh orang-orang musyrik.

    Saat itu Abu Bakar ra terus menoleh ke belakang dan mengkhawatirkan keadaan Rasulullah SAW yang terus melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa menoleh sedikitpun. Dan beliau membaca Al-Qur'an dengan tenang dan yakin atas perlindungan Allah SWT. Ini adalah contoh meninggalkan sifat mengatur (Tadabbur) dan berpegang pada pengaturan Allah SWT.

    Beliau melakukan asbab-asbab dengan tenang dan sesuai dengan syari'at, karena mematuhi perintah-perintah Allah SWT, kemudian beliau melupakannya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dan juga disertai kepercayaan yang sempurna atas kebijaksanaan, rahmat dan taufiq dari-Nya.

Jadi, ini semua bisa menjadi dalil kenabian yang menjelaskan makna hikamah yang dikemukakan oleh Ibnu 'Atha'illah yaitu: "Janganlah hatimu mengatur urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT". Dan juga menjelaskan keselarasan hikmah ini dengan hikmah lain yang diungkapkan oleh Ibnu 'Atha'illah yang bermakna "Keinginanmu pada makam asbab adalah menuruti hawa nafsu yang samar".

Contoh lain yang menjelaskan hikamah ini adalah sebuah hikayah (cerita) tentang Ali bin Hasan ra. Diceritakan bahwa beliau adalah seorang pedagang di pasar. Beliau memiliki dagangan yang sangat banyak. Bila waktu shalat tiba maka beliau meninggalkan dagangannya dan menuju ke masjid untuk mengerjakan shalat.

Pada suatu hari ketika beliau sedang shalat di masjid tiba-tiba datang seseorang yang mengabarinya bahwa api sedang berkobar di pasar dan mulai membakar barang dagangannya, tetapi beliau tidak memperdulikan berita tersebut dan beliau terus menjalankan shalatnya dengan menghadap Allah SWT, lalu dzikir-dzikir seprti hari-hari biasa. Kemudian beliau baru menuju ke pasar dengan hati tenang dan tentram.

Lihatlah bagaimana Ali bin Hasan ra melakukan asbab, beliau bersungguh-sungguh dalam mencari nafaqah dengan cara berdagang di pasar karena hal ini termasuk salah satu tugas yang di bebankan Allah kepada hamba-hambanya.

Kemudian lihatlah bagaimana beliau menghilangkan sifat tadbir dan menyerahkan semua pengeturan kepada Allah SWT. Tatkala beliau selesai melakukan tugas yang dibebankan padanya maka beliau menghadap pada tugas yang lebih mulia yang menjadi tujuan utama Allah menciptakan manusia yaitu beribadah kepada-Nya.

Beliau tidak menoleh dan memperdulikan asbab ketika telah berpindah pada ruang lingkup makam tajrid. Bahkan beliau bertawakkal dan menyerahkan semua pengaturan dan hasil-hasil asbab kepada Allah SWT.

Pembuangan sifat tadbir ini bisa dihasilkan karena adanya kemantapan hati bahwa seseorang tidak akan bisa memberi pengaruh terhadap asbab-asbab yang dia lakukan. Dan adanya keyakinan bahwa semua peristiwa yang terjadi tidak akan berjalan kecuali sudah menjadi keputusan Allah SWT. Maka dari itu tidak ada gunanya katika seseorang bersedih atau tergoncang jiwanya sehingga dia berpaling dari Allah SWT Dzat yang memeberi rizqi dan mengatur semua hal itu.

Mungkin ada sebagian orang yang bertanya "Mengapa Ali bin Hasan ra. tidak meninggalkan ibadahnya ketika api sedang membakar pasar? dan mengapa tidak menyelamatkan dagangannya?, padahal ketika ada seseorang sedang menuju shalat kerahnya maka dia harus mempercepat shalatnya dengan melakukan hal-hal yang fardlu saja tanpa melakukan hal-hal yang sunnah di dalam shalat".

Adapun jawabannya adalah sebagai berikut, seandainya beliau menuju hal-hal yang berbau duniawi maka beliau harus menyerahkan tenaganya untuk melakukan asbab yang bisa menjaga dagangannya dan berda pada makam asbab. Padahal telah kita ketahui bahwa pada saat itu beliau sudah berpindah untuk mengerjakan hak-hak Allah yang lebih mulia dan beliau telah selesai melakukan tugasnya di maqam asbab dan beralih pada kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT. Jadi tidak ada hal yang menuntut beliau utuk perpaling dari kewajiban-kewajiban tersebut ketika sedang dikerjakan lebih-lebih manghdap pada hal-hal yang bersifat duniawi setelah ditinggalkan.

Kamis, 29 Januari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc
Etika yang harus dilakukan dalam maqam asbab adalah percaya akan takdir Allah. Etika ini sangat urgen untuk di pegang oleh salik yang ingin selamat dari kesesatan. Karena sebesar apapun usaha salik pasti tidak akan keluar dari takdir Allah. Oleh karena itu Ibnu Atha'illah menjelaskan dengan kata hikmahnya : “Semangat yang tinggi tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”.
Senin, 26 Januari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc

?§?±?§?¯???ƒ ?§?„???¬?±???¯ ?…?¹ ?¥?‚?§?…?© ?§?„?„?‡ ?¥???§?ƒ ???? ?§?„?§?³?¨?§?¨ ?…?† ?§?„?´?‡?ˆ?© ?§?„?®?????©,
?ˆ?¥?±?§?¯???ƒ ?§?„?§?³?¨?§?¨ ?…?¹ ?§?‚?§?…?© ?§?„?„?‡ ?§???§?ƒ ???? ?§?„???¬?±???¯ ?¥?†?­?·?§?· ?¹?† ?§?„?‡?…?© ?§?„?¹?„???©

"Kamu ingin maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar,
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

1. Dalil-Dalil
Mengenai maqam tajrid, terdapat dalam firmannya (dalam surat Al_Muzammil ayat 1-4) :

?????§ ?£?????‘???‡???§ ?§?„?’?…???²?‘???…?‘???„?? . ?‚???…?? ?§?„?„?‘?????’?„?? ?¥???„?‘???§ ?‚???„?????„?‹?§ . ?†???µ?’?????‡?? ?£???ˆ?? ?§?†?’?‚???µ?’ ?…???†?’?‡?? ?‚???„?????„?‹?§ . ?£???ˆ?’ ?²???¯?’ ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???±?????‘???„?? ?§?„?’?‚???±?’?¢???†?? ?????±?’???????„?‹?§ .

Artinya :
1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Mengenai maqam asbab, terdapat dalam firmannya (dalam surat al-Furqan ayat 20) :
?¨?¹?¶?ƒ?… ?„?¨?¹?¶ ?????†?© ?§???µ?¨?±?ˆ?† ?ˆ?ƒ?§?† ?±?¨?ƒ ?¨?µ???±?§ ?ˆ?¬?¹?„?†?§
Artinya :
20. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.


2. penjelasan
a. Maqam Tajrid
Maqam Tajrid adalah dirimu jauh untuk melaksanakan asbab (berinteraksi dengan manusia lain/bekerja) karena posisi dan kondisi mu itu menuntut untuk meninggalkannya.atau bisa di istilahkan Hablun min Allah.

Ciri-cirinya adalah dirimu sudah ada yang menjamin dalam masalah rizqi, sehingga dengan mudah engkau dapat menghindar ke akhirat.

b. Maqam Asbab adalah selalu di kuasai oleh asbab(cara-cara interaksi dengan sesama), maksudnya di manapun ia bergerak, ia tidak bisa menghindar dari asbab tersebut.atau bisa di istilahkan dengan Hablun min an-nas.

Ciri-cirinya adalah dirimu adalah punya tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain, sehingga harus memikirkan keberlangsungan kehidupan mereka.

Bagian pertama dari hikmah ini

?±?§?¯???ƒ ?§?„???¬?±???¯ ?…?¹ ?¥?‚?§?…?© ?§?„?„?‡ ?¥???§?ƒ ???? ?§?„?£?³?¨?§?¨ ?…?† ?§?„?´?‡?ˆ?© ?§?„?®?????©...

Artinya:
sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur"

Oleh karena itu, yang dituntut oleh Allah SWT pada hambanya adalah melaksanakan segenap perintah-Nya dan meniggalkan segala larangan-Nya dengan memandang posisi dirinya, artinya tidak layak baginya untuk menjalankan asbab dan meninggalkannya dengan sesuka hati, tanpa memikir dan mengangan-angan posisi sebenarnya dirinya, begitu juga sebaliknya.

Untuk lebih jelasnya, akan kami paparkan beberapa contoh padamu. Ada seseorang yang bertanggung jawab keluarga, istri, dan anak-anak. Jadi dia diposisikan agar mencari dan bersusah payah dengan rizqi. Bayangkan, seandainya ia berkata pada dirinya sendiri : "Aku tidak butuh ke pasar, karena aku telah yakin semua rizqi itu telah ditentukan oleh Allah SWT". Kemudian orang itu benar-benar pasrah dan tidak berupaya untuk memperoleh rizqi.

Kami katakan padanya : engkau harus tahu situai dan posisi apa yang sedang Allah SWT tempatkan padamu. Ingatlah sekarang Allah sedang memposisikan dirimu di maqam asbab. Buktinya ia bebankan padamu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Apabila kau berpaling dari posisi ini, ingat engkau sedang melakukakan ta'at secara lahiriyyah, tetapi sebenarnya kau mengikuti hawa nafsumu, agar kelihatan zuhud dan sufi di mata orang lain. Dan ini adalah kesalahan besar dan bahaya dalam syari'at agama Islam. Adapun metode dan sistem semestinya engkau harus tahu apabila Allah menjadikan dirimu pemimpin keluarga berarti artinya Dia telah memberikan tanggung jawab urusan keluarga padamu. Artinya engkau tidak bisa bermuamalah dengan Allah atas dasar keadaan dirimu sendiri saja, tapi kamu perlu memperhatikan kahidupan istri-istri dan anak-anakmu. Dengan kata lain, apabila engkau menyangka dirimu telah percaya penuh dengan pembagian Allah SWT sehingga kau konsen penuh untuk beribadah dan meninggalkan dunia, lalu kenapa engkau paksa istri dan anakmu untuk menjalankan kepercayaan itu? Dan untuk menjalankan zuhud yang kau inginkan itu?

Katakan pada orang ini : "Allah SWT telah menempatkan di antara dua piringan timbangan syari'atNya. Firman Allah SWT :

?ˆ???§?„?³?‘???…???§???? ?±???????¹???‡???§ ?ˆ???ˆ???¶???¹?? ?§?„?’?…?????²???§?†?? . ?£???„?‘???§ ?????·?’?????ˆ?’?§ ?????? ?§?„?’?…?????²???§?†?? . ?ˆ???£???‚?????…???ˆ?§ ?§?„?’?ˆ???²?’?†?? ?¨???§?„?’?‚???³?’?·?? ?ˆ???„???§ ?????®?’?³???±???ˆ?§ ?§?„?’?…?????²???§?†??.

Artinya :
7. Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Ingatlah! hidup ini untuk keluargamu bukan untuk dirimu sendiri, dan yang dapat mengatur perjalanan agamamu adalah ketentuan syari'at-Nya. Sementara syara' menyuruhmu untuk mempersiapkan-semampumu- kehidupan yang layak bagi keluargamu, dan untuk mendidik putra-putrimu lahir dan batin dengan didikan yang baik lagi sempurna. Apabila engkau berpaling dari asbab ini, itu artinya kau telah berbuat buruk dan su'ul-adab kepada allah SWT. Karena kau telah berpaling dari aturan-aturan(SunnatuLlah) yang semestinya. Allah SWT berfirman padamu : metode untuk menjaga keluargamu itu harus menjalankan asbab. Bila kau berkata : "tidak mau. Karena aku ingin murni bersimpuh di hadapanmu, maka Allah berfirman : "Tinggalkan keinginanmu dan lakukan apa yang aku katakana padamu, keluarlah ke pasar, bekerjalah, berdagang dan lakukanlah sesuatu yang membuka jalan rizqimu!.

Dan ingatlah! mematuhi perintah-perintah ini adalah ibadah bagimu, itu adalah tasbih dan tahmidmu.

Yang perlu di perhatikan, ta'at dan ibadah itu tidak tertentu hanya pada amalan-amalan khusus saja, lalu bila tidak melakukan amalan-amalan itu ia di sebut materialistis (bersifat duniawi).

Tapi semua amal kebaikan itu ibadah, apabila ada niat dan tujuan Allah SWT tergantung situasi dan kondisi. Sebagaimana hikmah Ibnu 'Atha'illah :

???†?ˆ?¹?? ?§?¬?†?§?³ ?§?„?£?¹?…?§?„ ?¨???†?ˆ?¹ ?ˆ?§?±?¯?§?? ?§?„?§?­?ˆ?§?„

Artinya :
"Amal itu bermacam-macam sesuai keadaan manusia"

Oleh karena itu, amal shalih bagi orang yang tidak ada hubungan dengan masyarakat dan jauh dari tanggung jawab(seperti santri) itu adalah ibadah yang kembali pada dirinya seperti sholat, puasa, dzikir dan lain-lain. Adapun ibadah orang yang mempunyai tanggung jawab dalam keluarga politik atau masyarakat, maka amal shalih baginya adalah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan semestinya, begitu juga bagi penjaga benteng pertahanan, amal shalih untuknya adalah ikhlas dan benar-benar memperhatikan musuh yang ada di sekelilingnya, begitulah seterusnya. Disini perlu di ingat, bahwa ada ibadah-ibadah yang wajib di laksanakan oleh semua golongan dengan tanpa memandang situasi dan kondisi tertentu, yaitu ibadah-ibadah yang pokok, misalnya shalat fardlu, puasa, ibadah haji serta dzikir-dzikir yang pokok.
Bagian kedua dari hikmah ini

...?ˆ?¥?±?§?¯???ƒ ?§?„?£?³?¨?§?¨ ?…?¹ ?¥?‚?§?…?© ?§?„?„?‡ ?¥???§?ƒ ???? ?§?„???¬?±???¯ ?§?†?­?·?§?· ?¹?† ?§?„?‡?…?© ?§?„?¹?„???©

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Penjelasan
Ada sebagian orang yang sudah tidak memerlukan lagi mencari rizki karena dia tidak mengurusi keluarga dan orang lain dan sudah di anugrahi Allah kecukupan rizki, maka dia harus menggunakan waktunya untuk mencari ilmu, ibadah dan dzikir (mengingat Allah).disini Ibnu Athoillah menyarankan untuk tidak terjun masalah duniawi karena itu akan menurunkannya dari cita-cita luhur

Artinya: Apabila engkau ingin bermalas-malasan karena telah percaya pada hartamu, lalu kamu hanya makan, minum dan tidur sampai kamu mati, ini artinya kahidupanmu seperti hewan. Adapun jika kamu ingin mempelajari agama-Nya dimana karena kamu telah kecukupan dalam segi materi, maka inilah metode terbaik dan paling tepat bagi orang yang memiliki cita-cita luhur. Itu di karenakan ketika Allah SWT menjauhkan dirimu dari tanggung jawab, itu berarti Allah menempatkan dirimu pada maqam tajrid. Maka konsenterasikan fikiranmu untuk mempelajari agama dan syari'at-Nya atau kau berada di antara berisan pasukan perang demi membela agama-Ny, apabila itu memungkinkan.

Apabila orang ini berkata : "Tapi bekerja kan juga ibadah, sesuai dengan firman Allah SWT ……dan sabda Rasul…. ?".
maka ketahuilah! bahwa gejolak jiwa yang menggodanya ini adalah rayuan syaitan dan itu hanyalah penurunan dari derajat yang tinggi sebagaimana pernyataan Ibnu 'Atha'illah.

Jika perkataan ini benar perintah ketuhanan, itu berarti kita akan menyalahkan perbuatan para santri-santri yang mondok diberbagai pondok. Yaitu para pemuda yang di tempatkan Allah pada maqam tajrid dan bebas dari beban asbab lalu mendarmakan hidupnya untuk mempelajari agama Islam dan hukum-hukumnya. Para pemuda-pemuda ini selama belum memiliki beban tanggung jawab keluarga atau masyarakat, dan mereka masih tetap dan semangat belajar ilmu-ilmu agama Islam, maka kita menganggap mereka adalah orang-orang besar dan orang-orang yang lebih di antara manusia,kita mengharap turunnya rahmat Allah bertawassul dengan mereka.

Dari sini kami dapat menyimpulkan bahwa syara' itulah yang menjadi barometer seorang apakah dia ada di maqam tajrid atau asbab?. Apabila sampai melewati ketentuan-ketentua syari'at demi mengikuti keinginan dan kesukaan hatinya, maka akan terjebak dalam kondisi yang disebut syahwat yang samar(?§?„?´?‡?ˆ?© ?§?„?®?????©), atau turun dari cita-cita tinggi(?§?†?­?·?§?· ?¹?† ?§?„?‡?…?© ?§?„?¹?„???©).

3. Contoh-Contoh
Akan saya paparkan beberapa contoh untuk memudahkan mengaplikasikan peraturan-peraturan syari'at :

a. Contoh Pertama
Sekelompok orang bersiap-siap untuk haji, sebagian ada yang terbebas dari tanggung jawab dan berkonsentrasi untuk melaksanakan ibadah dan ta'at. Dan sebagian lain ada yang menjadi dokter yang bertanggung jawab untuk menangani serta mengobati para jamaah haji. Maka orang pertama berada pada maqam yang di sebut Ibnu 'Atha'illah dengan maqam tajrid dan dia di tuntut untuk memperbanyak ibadah, dzikir-dzikir atau banyak-banyak melakukan shalat sunnah. Sedangkan orang nomer dua ada pada maqam yang di sebut maqam asbab, dan dia dituntut untuk mengurusi asbab, Jadi para dokter-dokter itu di suruh untuk memperhatikan kesehatan para pasien yang sedang menjalankan ibadah haji itu.

b. Contoh Kedua
Ada pemuda yang di perintah oleh ayahnya : "Aku akan mengurusi dan memenuhi segala keperluanmu, yang aku kehendaki kamu Cuma konsentrasi mempelajari kitab Allah dan syari'at-Nya!"
Maka santri ini oleh Allah SWT telah di tempatkan di maqam tajrid. Oleh karena itu dia dituntut untuk melakukan hal yang sesuai dengan maqamnya, yaitu mempelajari al-Quran dan ilmu syri'at.

Orang seperti ini tidak boleh dikataan : "Syara' memerintahmu untuk mencari rizqi dan mencegah untuk melakukan pengangguran". karena yang diperintahkan syara' untuk pergi ke pasar dan mencari rizqi itu adalah orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab seperti orang tua dan para pejabat. Adapun orang yang telah di beri Allah SWT kebutuhan rizqi, seperti santri maka di dia syari'atkan tidak mencari rizqi. Yang di larang Syara' adalah jadi pengangguran padhal santri bukan menganggur tetapi waktunya di alihkan dari maqam asbab(cari rizki) ke maqam tajrid (mempelajari agama).

c. Contoh Ketiga
Seseorang yang bekerja di sebuah toko, dia mengetahui jika dia bekarja dari jam 07.00 pagi sampai jam 17.00 sore, maka dia akan mendapatkan uang yang cukup. Maka syara' akan berkata kepadanya : "Allah SWT telah menempatkan dirimu dari jam 07.00 pagi-jam17.00 sore di maqam asbab dan kamu wajib bekerja dengan keras. Adapun sebelum dan sesudah waktu tersebut, Allah menepatkan dirimu pada maqam tajrid. Oleh karena itu kamu harus menggunakan waktu untuk mendalami pengetahuan tentang Islam dan beribadah.

d. Contoh keempat
Seseorang yang sedang berada di Amerika untuk belajar, setelah itu dia berkeinginan mendapatkan harta dan kehidupan baik. Kemudian dia menetap bersama keluarganya dan mencari pekerjaan disana. Apakah yang demikian itu sesuai dengan tuntunan syari'at?
Realitalah yang akan menjawabnya.realita yang ada mengatakan bahwa orang yang hidup di Amerika dan Eropa bersama anak-anak dan keluarganya rusak moralnya karena lingkungan di Amerika dan Eropa yang bebas dalam pergaulan. Oleh karena itu semestinya orang tersebut sedang menjalankan maqam tajrid bukan maqam asbab, buktinya jika orang tersebut masih mencari harta di Amerika, maka anak-anaknya akan terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang tidak Islami. Inilah yang di sebut Ibnu 'Atha'illah :

...?ˆ?¥?±?§?¯???ƒ ?§?„?£?³?¨?§?¨ ?…?¹ ?¥?‚?§?…?© ?§?„?„?‡ ?¥???§?ƒ ???? ?§?„???¬?±???¯ ?§?†?­?·?§?· ?¹?† ?§?„?‡?…?© ?§?„?¹?„???©

Artinya :
"…Sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur."

Sabtu, 24 Januari 2009 - KH. Muhammad Wafi, Lc
Berpegang pada amal (mengandalkan amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita : “Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan anugrah-Nya.
Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

© Copyright 2004-2020 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.