Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 
Bahtsul Masa`il

Selasa, 01 September 2020 -


Makan & Minum Sebelum Mandi Besar

            Termasuk kewajiban bagi seorang yang junub adalah mandi junub atau lebih sering disebut mandi besar. Namun kadang, sebelum mandi kita minum bahkan makan terlebih dahulu. Lalu bagaimana pandangan syari’at mengenai hal ini?

            Makan dan minum bagi orang yang masih dalam keadaan junub itu hukumnya dimakruhkan. Hukum ini berlaku jika ia tidak membasuh kemaluannya dan wudlu’ terlebih dahulu. Sebagaimana dalam kitab Minhajul Qowim :

(وَيُكْرَهُ لِلْجُنُبِ الأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَالنَّوْمُ وَالْجِمَاعُ قَبْلَ غَسْلِ الْفَرْجِ وَالْوُضُوْءِ) لِمَا صَحَّ مِنَ الْأَمْرِ بِهِ فِيْ الْجِمَاعِ وَلِلاتِّبَاعِ فِيْ الْبَقِيَّةِ إلَّا الشُّرْبَ فَمَقِيْسٌ عَلَى الْأَكْلِ (وَكَذَا مُنْقَطِعَةُ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ) فَيُكْرَهُ لَهَا ذلِكَ كَالْجُنُبِ بَلْ أَوْلَى.

“Dimakruhkan bagi orang yang junub makan, minum, tidur, dan jima’ sebelum membasuh alat kelamin dan wudlu’. Karena ada hadits shohih yang memerintah hal ini (membasuh alat kelamin dan wudlu) dalam permasalahan jima’, dan Ittiba’ (mengikuti nabi) pada permasalahan lainnya kecuali pada minum yang disamakan dengan permasalahan makan. Begitu juga orang haid dan nifas yang darahnya sudah berhenti, maka dimakruhkan juga baginya hal demikian seperti halnya orang yang junub bahkan lebih dimakruhkan

            Namun jika ia membasuh kemaluannya dan wudlu terlebih dahulu maka tidak dimakruhkan lagi. Bahkan sunnah baginya membasuh kemaluan dan wudlu terlebih dahulu. Dalam kitab I’anah at Thalibin disebutkan:

 (فَرْعٌ) يُسَنُّ لِجُنُبٍ وَحَائِضٍ وَنُفَسَاءَ بَعْدَ انْقِطَاعِ دَمِّهِمَا غَسْلُ فَرْجٍ وَوُضُوْءٌ لِنَوْمٍ وَأَكْلٍ وَشُرْبٍ وَيُكْرَهُ فِعْلُ شَيْئٍ مِنْ ذَلِكَ بِلاَ وُضُوْءٍ .

Disunnahkan membasuh alat kelamin dan wudlu bagi orang yang junub, haid, dan nifas setelah darahnya tidak mengalir ketika akan tidur, makan, dan minum. Dan dimakruhkan melakukan hal demikian tanpa wudlu terlebih dahulu.”

            Lalu, seandainya sebelum melakukan aktifitas tersebut ia tidak wudlu, melainkan hanya membasuh alat kelaminnya saja maka apakah ia tetap mendapatkan kesunnahan? Masih dalam kitab I’anah at Tholibin di sebutkan sebagaimana di bawah:

وَقَوْلُهُ بِلاَ وُضُوْءٍ ظَاهِرُهُ أَنَّهُ يُكْرَهُ ذَلِكَ وَلَوْ مَعَ غَسْلِ الْفَرْجِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ بَلْ يَكْفِيْ غَسْلُ الْفَرْجِ فِيْ حُصُوْلِ أَصْلِ السُّنَّةِ  اهـ

“Ucapan Syarih yaitu (membasuh alat kemaluan) tanpa wudlu, dlohirnya mengatakan bahwa dimakruhkan makan dan minum tanpa wudlu terlebih dahulu meskipun sudah membasuh alat kemaluannya terlebih dahulu, padahal tidak seperti itu. Tapi cukup hanya membasuh alat kelamin terlebih dahulu sudah mendapatkan kesunnahan.”

            Jadi seandainya dalam keadaan junub, sebelum makan dan minum kok hanya membasuh alat kelamin saja tanpa wudlu terlebih dahulu tetap sudah mendapatkan kesunnahan.

Sekian semoga bermanfaat.



© Copyright 2004-2020 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.