Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 

Artikel

Rabu, 26 Pebruari 2014 - Admin Website


Ingin Jadi Kiai, Belajarlah di Pesantren!

Semenjak terjadinya modernitas dalam dunia keislaman, hal ini berdampak terjadinya perubahan yang merebak ke beberapa aspek keislaman lainnya terutama dalam dunia pendidikan yang mempunyai peran vital dalam mendukung perkembangan Islam.

Mulanya dalam kamus Islam tidak ditemui orang Islam belajar tentang Islam ke negeri Barat yang notabenya mayoritas beragama non muslim. Namun di zaman sekarang hal itu bukanlah seseuatu yang asing didengar di telinga. Bahkan, mereka lebih bangga mendalami Islam di dunia Barat dari pada mendalaminya di induk lahirnya Islam, Mekah dan Madinah. Dampaknya, mereka sering bersebrangan dengan al-Quran dan al-Hadist.

Islam lahir di mekah kemudian berkembang pesat di madinah hingga ke berbagai belahan dunia. Nah, di madinah ini, dakwah Rasulullah Saw sering dilakukan di dalam masjid. Yang mana, di waktu itu banyak pelajar yang datang dari penjuru daerah menetap di emperan masjid. Mereka dinamakan Ashhabushshuffah yang menjadi cikal bakal adanya pesantren seperti sekarang ini. Salah satu santri Rasulullah Saw adalah Abu Hurairah yang merupakan sahabat yang hafalan hadisnya paling banyak di antara sekian sahabat yang ada.

Lambat laun model tempat tinggal santri yang ingin belajar ilmu agama kepada seorang ulama berubah dengan gaya ala pesantren hingga ke universitas keislaman lainnya seperti yang terjadi sekarang. Namun, perlu diketahui di dalam pesantren meskipun sebagian orang mengatakan kolot dan konservatif, namun di dalamnya juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga lain selain pesantren. Salah satunya adalah figur seorang ulama yang menjadi suri tauladan untuk meniru jejak-jejak Rasulullah Saw.

Para santri yang belajar di pesantren tidak hanya mengejar ilmu yang akan diberikan dari seorang ulama, namun mereka juga belajar dari keseharian uswah seorang ulama yang mengamalkan teladan yang baik. Semua itu dijalaninya dengan penuh keikhlasan antara dua belah pihak. Sehingga, di dalam pesantren yang modelnya seperti ini tidak pernah ditemukan seorang santri mendemo kiainya. Mereka takut kuwalat. Karena kiai diyakini mereka sebagai ayah yang mengurus bagian rohani sedangkan ayahnya hanya orang tua bagian jasmani. Sehingga peran seorang kiai kepada santrinya sangat vital sekali.


Sosialisasikan halaman ini melalui :
Email facebook twitter LinkedIn Diigo del.icio.us

© Copyright 2004-2020 - Pondok Pesantren Al Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.