Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 

Artikel

Jumat, 16 November 2012 - KH. Muhammad Wafi Maimoen


Peran Pondok Pesantren Salaf Di Masyarakat

Sekala rutinitas pengajian yang ada di pondok pesantren salaf lebih mengedepankan eratnya hubungan antara kiai dan santri (brotherhood kiai-santri). Tidak hanya lahiriah belaka, namun juga mencakup area yang lebih luas, yaitu hubungan batiniah. Tidak berlebihan, jika kami mengatakan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan semacam ini merupakan sadur ulang dari apa yang terjadi antara nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Di Indonesia terdapat banyak sekali pondok pesantren, namun yang masih konsisten dalam kesalafannya kian hari kian menyusut. Di pulau Madura dan pulau Jawa terdapat ratusan pondok pesantren. Dalam kenyataannya, interaksi antara pondok pesantren secara umum dan pondok pesantren salaf secara kusus dengan masyarakat terbilang sangat erat sekali. Hal tersebut dapat dirasakan dengan penyebutan dan terkenalnya sebagian pondok pesantren bukan dengan nama lembaganya, melainkan dengan nama daerah di mana pesantren tersebut berada, seperti pondok pesantren Sarang, ponpes Lirboyo, ponpes Langitan, ponpes Kediri, ponpes Jombang, ponpes Tebuireng, dan lain lain. Biasanya dalam dunia pesantren ada satu sosok yang dijadikan panutan (uswah) yang lebih dikenal dengan sebutan kiai.

Berjalan atau tidaknya roda suatu pondok pesantren tergantung pada sikap seorang kiai yang mengasuh suatu pesantren. Oleh karenanya, sebagian orang menyebut komunitas pesantren sebagai negara dalam negara. Padahal dalam hubungan antara santri dan kiai yang terdapat dalam kehidupan pesantren sama sekali tidak bertentangan dengan kesatuan negara. Bahkan kalau kita tilik sedikit saja ke belakang kita akan menemukan betapa besarnya sumbangsih dari pesantren terhadap kemerdekaan bangsa ini. Begitu juga dalam mempertahankan keutuhan NKRI dari ancaman PKI dan sebagainya. Hanya saja sekarang eksistensi pesantren salaf dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak termasuk pemerintah. Walaupun keberadaannya diakui dan diterima oleh masyarakat. Hal tersebut merupakan sesuatu yang memperihatinkan.

Peran Pesantren Salaf Tempo Dulu

Dari segi intelektualitas dan keilmiahan, pesantren salaf sudah banyak menelurkan tokoh-tokoh yang mumpuni dalam bidang keilmuan. Hal tersebut tidak lepas dari peran para kiai yang berdakwah dan mengajak manusia pada kebenaran. Mereka senantiasa menuntut ilmu dengan semangat bahkan sampai ke jazirah Arab. Sekembalinya mereka dari menuntut ilmu, ilmu-ilmu yang didapat diajarkan dan disebarkan kembali kepada masyarakat pribumi sebagai langkah implementasi dari suatu maqalah; "setiap sesuatu itu ada zakatnya dan zakat dari suatu ilmu adalah mengajarkannya."

Lebih dari itu, peran para kiai sangat berpengaruh dalam membangun kesadaran masyarakat tentang jati diri, agama dan negara, terutama saat dalam masa penjajahan. Di antara para tokoh di bidang keilmuan pesantren salaf tempo dahulu adalah kiai Muhammad Nawawi Al Bantany. Beliau bahkan dijuluki alimul hijaz (orang alim di daerah pesisir barat semenanjung Arab yang berbatasan dengan laut teberau, termasuk Makkah dan Madinah). Banyak sekali karya tulis yang beliau hasilkan dan dijadikan rujukan oleh kebanyakan pondok pesantren yang ada di Indonesia. Tokoh selanjutnya adalah syaikh Mahfudz At Turmusy (Termas). Keilmuan beliau sangatlah diakui oleh para ulama. Salah satu karyanya yang bisa dikatakan besar adalah mauhibah dzawil fadli dalam ilmu Fikih. Selanjutnya adalah kiai Kholil Bangkalan. Tokoh karismatik ini, terkenal dalam dua hal sekaligus, keilmuan dan hal-hal luar biasa (keramat). Beliaupun mempunyai murid-murid yang kelak akan menjadi pelopor-pelopor pesantren salaf di tanah Jawa, salah satunya adalah kiai Abdul Karim yang mendirikan pondok pesantren Lirboyo. Ketiga tokoh ini hidup dalam kurun waktu yang berdekatan, yaitu pada saat Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang.

Terkait moralitas bangsa, maka bukan hal yang tabu lagi jika pondok pesantren salaf memberikan sumbangsih sangat besar. Disanalah para murid atau santri yang merupakan generasi penerus negeri ini digodok dengan penuh ketelatenan, terlebih mengenai akhlaknya. Bahkan, ada satu motto di salah satu pesantren yang berbunyi; "kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan." Di pesantren inilah para santri atau murid dilatih agar bisa hidup dengan dengan baik di tengah-tengah masyarakat tatkala mereka sudah pulang dari pondok pesantren. Jadi selain intelektual, pelatihan di pondok pesantren juga mencakup mental.

Peran Pesantren Salaf di Zaman Sekarang

1. Mengenai bidang keilmuan

A. Banyak sekali peran peran pesantren salaf yang nampak. Seperti tenaga pengajar Madrasah Diniyah (MADIN) merupakan alumni atau minimal pernah mengenyam pendidikan di pesantren salaf. Bahkan di Jawa Timur diwajibkan atas guru atau calon pengajar di madrasah Diniyah harus mempunyai sertifikat bahwa dia sudah pernah kursus di pondok pesantren salaf.

B. Banyaknya santri-santri pesantren salaf yang ditugaskan sebagai tenaga pengajar di luar Jawa. Semisal ponpes Al Anwar Sarang mengirimkan banyak santrinya ke Aceh, Jambi, Kalimantan dan lain-lain, di samping guru tugas ke pulau Jawa dan Madura. Ponpes Sidogiri Pasuruan mengirimkan beberapa santrinya keberbagai daerah termasuk di Ambon. Fenomena pengiriman guru tugas ini berandil dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman di seantero negeri bahkan seluruh dunia. Hal semacam ini sudah ada dari zaman nabi Muhammad Saw, yaitu tatkala beliau mengutus Mush'ab ibn Umair sebagai tenaga pengajar di madrasah pada awal dekade masuknya Islam di sana (Madinah Al Munawarah).

C. Banyaknya imam-imam masjid di kampung-kampung dan desa-desa yang merupakan jebolan pondok pesantren (graduate of boarding). Tentu bukan rahasia lagi bahwa interaksi pihak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat lapisan bawah tidak sama dengan yang tidak secara langsung bersentuhan dengan mereka. Pihak-pihak inilah yang sangat banyak mempengaruhi masyarakat.

D. Aktivis pengkajian masalah-masalah agama di tubuh NU (LBNU) sebagian besar atau bahkan semuanya adalah lulusan pesantren salaf. Kiai-santri salaf-lah yang mampu untuk mengkaji referensi kitab klasik sebagai ta'bir dalam bahtsul masail.

2.Peranan pesantren sekarang dalam segi akhlak

Salah satu problem yang dialami oleh masyarakat terutama kalangan muda adalah pergaulan bebas yang menimbulkan beberapa penyakit masyarakat lainnya, seperti penggunaan obat-obat terlarang (narkoba). Seorang pelajar yang pernah ditempatkan di pondok pesantren salaf sangat jauh kemungkinan akan terjerumus pada tindakan-tindakan yang menyimpang ini. Akhlak di pesantren ini, terilhami dari sabda nabi Muhammad Saw yang bermakna; "aku (nabi) diutus untuk menyempurnakan akhlak akhlak mulia." إنّما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

3.Dalam bidang politik

Dalam bidang politik, banyak lulusan pesantren salaf yang menempati posisi penting (the pivotal position) di pemerintahan. Dari tingkat Lurah, Bupati, DPR, Gubernur dan Presiden.

Penutup

Melihat dari peran-peran pesantren salaf di atas, maka tidak bijak kalau hanya dilihat dengan memicingkan mata. Alangkah baiknya dan sesuai jika lembaga pesantren ini diakui dan proporsikan dengan semestinya. Toh, masyarakat sendiri sudah mengakui peran-peran pesantren ini. Bahkan ada guyonan seandainya ada jebolan pesantren dan satunya jebolan kuliah diterjunkan di masyarakat, maka yang lebih bisa beradaptasi dengan masyarakat adalah dia yang lulusan pesantren. Dan seandainya harapan ini terwujud, maka bukan tidak mungkin pesantren salaf akan banyak menarik minat dari masyarakat. Semoga inilah yang terjadi. Amin!


Sosialisasikan halaman ini melalui :
Email facebook twitter LinkedIn Diigo del.icio.us
Jumat, 21 Peb 2020
Khidmah Kepada Kiai

© Copyright 2004-2020 - Pondok Pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.