Login Anggota
Lupa password? - Mau jadi Anggota?    
 

Artikel

Sabtu, 06 Juni 2009 - Santri MHD


KETIKA IDEOLOGI SALAF TERKUCILKAN

peradaban Islam dari masa kemasa mengalami kemunduran ini adalah merupakan sunnatullah,rasulullah SAW dalam hal ini telah mengisyaratkan dalam hadistnya :

?®???± ?ƒ?… ?‚?±?†?? ?«?… ?§?„?°???† ???„?ˆ?†?‡?… ?«?… ?§?„?°???† ???„?ˆ?†?‡?… " ?§?„?­?¯???« ?£?ˆ?ƒ?…?§ ?‚?§?„"

"Sebaik-baik engkau adalah kurun ku (para sahabat) kemudian generasi seterusnya, kemudian generasi seterusnya"

Walaupun ada sebagian ulama yang menganggap dhoif hadist ini akan tetapi esensi hadist tersebut banyak bertebaran pada ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabi

Kita tengok kembali secara sekilas pendahulu-pendahulu Islam, kalau pada abad 6 H ada ?? Abu Hamid al-Ghozali beliau saat itu sudah mampu mengcounter pemikiran-pemikiran sesat barat yang punya nasab intelektual pada Aristoteles, Plato dll. Pada awa abad 8 H / 14 M muncul ulama dari Tunisia yang kemudian hijrah ke Mesir ia adalah Ibnu Khaldun yang terkenal dengan bapak ilmu sosial dunia, ahli politik dan ekonomi, karena pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi yang logis dan realistis. Teori-teori besarnya tentang ekonomi muncul jauh sebelulm adanya teori-teori Adam Smith (1723-1790 M) dan David Ricardo (1772-1823 M), tak heran, dengan kecemerlangan pemikirannya menjadikan teori-teorinya sebagai rujukan cendikiawan-cendikiawan timur dan barat baik muslim maupun non muslim. Ada Ibnu Rusyd (Averusd) dengan filsafat-filsafatnya, Ibnu Sina (Avecina) dengan ilmu kedokterannya, al-Jabar dengan matematikanya. Dan masih banyak prasasti-prasasti sejarah yang membuktikan begitu dahsyatnya intelektual para pendahulu-pendahulu Islam.

Sekarang coba kita bandingkan dengan peradaban Jawa, kalau pada tahun-tahun itu ulama'-ulama' kita sedang sibuk dengan karya-karya ilmiah nya sedangkan nenek moyang kita dijawa sudah bisa apa? Mereka saat itu sedang sibuk dengan hal-hal yang katrok, ndeso, kolot dan konservatif. Seperti ngumbah keris, ngisik-ngisik candi dan jadi gedibal-gedibal raja-raja yang durhaka. Bayangkan betapa jauhnya peradaban Jawa dibanding peradaban Islam.

Ironisnya rata-rata muslim dijawa kkhususnya, di Indonesia umumnya sekarang hati dan akalnya sudah dikaburkan oleh logika-logika sesat orientalis sehingga melupakan sejarah dan prinsip-prinsip pendahulu Islam kita. Dalam hal ini nabi bersabda

?¥?† ???? ?§?„?¨???§?† ?„?³?­?± " ?§?„?­?¯???« ?£?ˆ?ƒ?…?§ ?‚?§?„"

"Bahwa pada penjelasan terdapat tipuan-tipuan logika"

Mereka lebih bangga ketika paradigma pemikirannya bermuara dari pakar-pakar filosof barat, figur-figur lokal yang liberal ketimbang mengambil ayat-ayat al-Qur'an Hadist-hadist nabi, dan maqolah-maqolah ulama' . Padahal bila dibandingkan

?¨???† ?§?„?³?…?§?? ?ˆ ?§?„?³?…?¨?± ?…???§??

ketika mereka mendengar teriakan-teriakan yang berbau salaf, dengan sangat tergesa-gesa mereka menutup rapat-rapat telinganya seolah mendengar suara yang paling jorok dan menjijikkan. Mereka anggap idiologi salaf seolah hal yang sudah basi, kadaluarsa dan tidak relevan lagi. Mereka menganggap kaum sarungan (santri) yang setia menemani kitab-kitab salafnya seolah sebagi sisa-sisa jahiliyyah. Kebencian mereka, khususnya para mahasiswa yang dungu ini sesuai dengan syair al-Ghozali

?ˆ?„?³?? ???±?‰ ?¹???¨?§ ?„?°?? ?§?„?ˆ?¯ ?ˆ?§?„?¥?®?§ *? ?ˆ?„?§ ?¨?¹?¶ ?…?§?????‡ ?¥?¯?§ ?ƒ?†?? ?±?§?¶???§

?ˆ?¹???† ?§?„?±?¶?§ ?¹?† ?ƒ?„ ?¹???¨ ?ƒ?„???„?©?  * ?ˆ?„?ƒ?† ?¹???† ?§?„?³?®?· ???¨?¯?? ?§?„?…?³?§?ˆ???§

"Engkau tidak akan melihat aib / cacat pada orang yang engkau cintai, dan sedikitpun tidak akan kau temui ketika memandangnya dengan rasa ridho"

"Pandangan ridho dan setuju akan menutupi aib-aib yang ada, sedangkan pandangan benci bisa menampakkan kejelekan-kejelekan"

Mata mereka sudah buta akan kebenaran karena rasa cinta yang membabi buta.

Sekarang yang perlu kita renungkan mengapa ini sampai terjadi, apa kurangnya pendahulu-pandahulu kita Ataukah ada kesalahan-kesalahan dalam manhaj atau menegement pondok-pondok pesantren yang sebagai generasi ulama-ulama salaf. Kemudian apa yang harus kita lakukan khususnya sebagai santri?

Menurut hemat penulis, bahwa ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap Islam secara kaffah / keseluruhan, kurang memahami terhadap nash-nash al-Quran, hadist dan pemikiran-pemikiran ulama yang menurut orang berakal tidak diragukan lagi kredibilitas ilmiahnya. Sehingga tidak mampu menangkap pemahaman yang ekplisit (?…?†?·?ˆ?‚)terlebih yang implisit (?…???‡?ˆ?…), pemahaman yang tidak cukup direnungkan dalam satu atau dua hari, atau bahkan mungkin bertahun-tahun sehingga tidak ceroboh lekas-lekas terburu nafsu untuk menyimpulkannya dengan kesimpulan yang kerdil dan salah. Karena dengan kebodohannya tidak mampu mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dengan dunia nyata dan kebiasaan-kebiasaan setiap hari yang akhirnya menganggap sebagai ajaran yang basi, kuno, dan ajaran yang mengganggu kemajuan umat manusia sebagai makhluk globalisasi. kita sebagai santri pemegang tongkat estafet ulama salaf seharusnya sadar dengan kebodohan dan keterbatasan kita, bahwa tingkat kecerdasan berfikir kita dengan pendahulu-pendahulu kita sangatlah jauh tertinggal. Karena banyaknya pengaruh-pengaruh baik dalam dinamika internal maupun eksternal yang menganggu konsentrasi berfikir, contoh kecil saja pengaruh media baik TV, radio, Koran dan lain-lain. Sudah barang tentu ini mempengaruhi daya berfikir ketika yang melihat membaca dan mendengar orang-orang yang tidak berilmu, belum lagi gesekan-gesekan pergaulan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan apa yang dicelotehkan filosof terkemuka Dell Carnage "Kecerdasan dan kejernihan berfikir seseorang diprioritaskan sebatasmana ia pandai berkonsentrasi" .

Maka secara matematis manusia semakin lama semakin sulit berfikir sehat karena sangat banyaknya pengaruh-pengaruh yang ada.

Maka sangat tidak tepat apabila lembaga-lembaga agama khususnya pesatren-pesantren terlalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat ekstrakulikuler yang tentunya akan mengorbankan nilai-nilai salafiah karena manusia semakin lama semakin rendah daya berfikirnya. Dengan alasan kemajuan zaman mereka melakukan hal tersebut yang sebenarnya justru kemerosotan. Penulis lebih condong pada pemikiran Syaikh Najih MZ. Yang mengatakan kaidah :

?§?„?…?­?§???¸?© ?¹?„?‰ ?§?„?‚?¯???… ?§?„?µ?§ ?„?­ ?ˆ?§?„?£?®?° ?¨?§?„?¬?¯???¯ ?§?„?£ ?µ?„?­

Menurut beliau yang tepat untuk zaman seperti ini :

?§?„?…?­?§???¸?© ?¹?„?‰ ?§?„?‚?¯???… ?§?„?£ ?µ?„?­ ?ˆ?§?„?£?®?° ?¨?§?„?¬?¯???¯ ?§?„?µ?§ ?„?­

Jangan diartikan bahwa kita sebagai santri tidak tepat mempelajari ilmu-ilmu kekinian, justru sebaliknya kita harus memahami hal-hal tersebut karena agar mampu membawa ajaran salaf sebagai ajaran way of life. Akan tetapi untuk mencari menu tambahan tersebut ada fase-fase tertentu, ketika basic-basic Islam sudah tertanam dalam hati yang paling dalam sehingga merasa hanya Islamlah yang membawa kebenaran yang absolute. Maka disinilah saat santri perlu memahami pemikiran-pemikiran yang bersifat kontemporer.

Memahami dinamika ilmiah luar bukan untuk kita jadikan prinsip akan tetapi untuk memahami trik-trik musuh-musuh Islam, yang akhirnya untuk mempertahankan Islam juga.

Hal ini jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh rosululloh SAW ketika beliau menyuruh Zaid bin Tsabit memahami kitab-kitab Yahudi, dan beliau menyuruh Dihyah Alkalbi (yang pada waktu itu menjadi diplomat Islam untuk dikirim ke Negara-negara dalam rangka dakwah) untuk mempelajari bahasa bangsa lain. Sehingga muncullah hadist :

?…?† ?¹?±?? ?„???© ?‚?ˆ?… ?£?…?† ?…?† ?…?ƒ?±?‡?… " ?§?„?­?¯???« ?£?ˆ?ƒ?…?§ ?‚?§?„"

"Barangsiapa yang faham bahasa suatu kaum maka ia aman dari tipu dayanya"

Semua ini tak lain adalah dengan tujuan nasyrul �ilmi wad Din bukan untuk dijadikan pedoman.

Akan tetapi apabila lembaga pesantren disibukan oleh pogram-progam yang bersifat extra atau tambahan, terlebih-lebih memasukannya pada kurikulum sangatlah tidak tepat.

Sudah takdapatdi pungkiri lagi bahwa mayoritas santri daya berfikir, semangat dan istiqomahnya sangat beda dengaan santri dahulu (semakin melemah) yaitu karena pengaruh-pengaruh yang ada. Sedangkan haltersebut (extra) bersifat tambahan atau dalam qoidah Fiqh dapat diistilahkan jalbul masolih, dan mempertahankan ideologi salaf adalah hal yang bersifat fital (dar'ul mafasid) maka dengan dasar qoidah: ?¯?±???§?„?…???§ ?³?¯ ?…?‚?¯?… ?¹?„?‰ ?¬?„?¨ ?§?„?…?µ?§ ?„?­ pelajaran salaf dalam Ponpes tidak dapat berjalan bersama dengan pelajaran umum, justru mengorbankan nilai-nilai salaf. Dan juga program-program tersebut bersifat kemaslahatan secara umum (maslahah mursalah) maka sangatlah tidak tepat diterapkan karena melihat kondisi mayoritas santri.

Kalau kita kaji hanya secara teori saja, memang seolah-olah ada benarnya tujuan ponpes-panpes di zaman sekarang yang menarapkan kedua-duanya (salaf dan umum) yaitu dengan tujuan agar menjadi santri yang multidimensi (serba bisa) dan santri yang dapat berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Memang benar bahwa santri yang ideal adalah santri yang berjiwa salaf , beraqidah salaf dan mumpuni didalam bidang-bidang yang bersifat kekinian karena hal ini sebagai sarana dakwah. Akan tetapi penulis yaqin �ainulyaqin selamanya ini hanyalah sekedar teori yang tidak akan pernah terealisasi, sebab plening ini sangatlah tidak singkron atau imbang dengan obyek yang ada (plening=program, obyek=kemampuan santri), terlalu tinggi plening tersebut untuk sebuah obyek yang sekarang sedang menglami dekadensi dan degradasi. Program tersebut hanyalah cocok diterapkan pada segelintir orang saja yang kemampuan dan IQnya diatas rata-rata.

Maka jangan heran apabila generasi-generasi Islam sekarang kurang memenuhi setandard intelektual, dan sangat logis sekali apabila sekarang banyak bermunculan pemikir-pemikir baru yang Liberal baik dari kalangan pesantren mau pun universitas Islam. Dan lagi-lagi hal ini terjadi karena dasar-dasar Islam belum terpenuhi terburu-buru mengadopsi ilmu pengetahuan modern yang kebanyakan mendiskriditkan ideology-ideologi salaf. Prof . Dr. H. Roemrowi (guru besar fakultas filsafat IAIN Sunan Ampel Surabaya yang getol mengcoenter pemikiran-pemikiran Liberal) pernah berkomentar dalam majalah Islam "Hidayatullah" :"kebanyakan mahasiswa-mahasiswa IAIN Sunan Ampel baik berlatar belakang dari pesantren maupun pendidikan umum yang pola fikirnya Liberal disebabkan karena tidak memahami dasar-dasar Islam, kemudian terburu-buru memahami pemikiran-pemikiran yang beranekaragam jenisnya"

Imam Busyiri menembangkan dalam burdahnya :

?ƒ?… ?­?³?†?? ?„?°?© ?„?„?…?±?? ?‚?§ ???„?© *** ?…?† ?­???« ?„?… ???¯?± ?£?† ?§?„?³?… ???‰ ?§?„?¯?³?…

"Banyak sekali keindahan-keindahan, kenikmatan-kenikmatan yang ternyata justru sebagai racun pembunuh. Sekiranya seseorang tidak tahu bahwa didalam minyak masak terselip racun pembunuh"

Dan coba kita lihat berapa banyak pesantren-pesantren yang memasukkan kurikulum umum apakah fakta yang terjadi disana pemahaman Islam mengalami kemajuan atau justru kemunduran yang signifikan. Ternyata tidak ada satupun pesatren yang sukses membawa kedua-duanya ( Salaf dan umum ) sampai pada titik yang diharapkan, kalaupun ada satu atau dua santri yang berhasil ini hanyalah permasalahan juziyyah tidak cukup untuk dibuat dasar pedoman.

Kalau kita sebagai pengikut imam syafii mestinya sadar bahwa Istiqro' ini sudah cukup dijadikan hujjjah.

Yaaaaach............

Ini terjadi tak lain adalah ulah orientalis-orientalis yang mencoba menerobos semua lapisan yang menjadi rifalnya, kemudian menebarkan virus-virus pendangkalan aqidah. Yang ternyata mayoritas dari golongan kita justru menyambutnya dengan tersenyum dan tangan terbuka.

Semua ini sudah barang tentu tak lepas dari kondrat Yang Maha Esa, bahwa perubahan-perubahan dari masa ke masa adalah sebagai tanda kekuasaannya, dan sebagai ayat-ayat kauniyyah yang mengingatkan kita untuk kembali padanya. Manusia hanya bisa berusaha dan berbicara, Tuhanlah yang mempunyai keputusan, tinggal bagaimana kita bersikap ketika dihadapkan pada zaman yang mana ilmu-ilmu agama sudah sangat tampak sekali semakin hari semakin punah.

Allah berfirman QS Annur 63

?????„?’?????­?’?°???±?? ?§?„?‘???°?????†?? ?????®???§?„???????ˆ?†?? ?¹???†?’ ?£???…?’?±???‡?? ?£???†?’ ?????µ?????¨???‡???…?’ ???????’?†???©?Œ ?£???ˆ?’ ?????µ?????¨???‡???…?’ ?¹???°???§?¨?Œ ?£???„?????…?Œ (63)

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.


Sosialisasikan halaman ini melalui :
Email facebook twitter LinkedIn Diigo del.icio.us

© Copyright 2004-2020 - Pondok Pesantren Al Anwar
Sarang, Rembang, Jawa Tengah 59274 Indonesia.